Melihat sisi lain dari tawuran..


Ahhh…kenapa harus saya yang disalahkan, saya hanya mencoba mempertahankan apa yang menurut saya benar, saya hanya mempertahankan kehormatan saya. Apa itu salah, saya harus seperti apa? Tolong ajari saya, dan berikan contoh yang baik.
Katakanlah itu sebagai sebuah penggalan sisi lain dari seorang aktivis tawuran yang telah membuat saya berfikir ulang tentang tawuran. Selama ini, saya telah dicekoki oleh media dan diskusi tentang teori-teori psikologi yang mengatakan mereka kurang kerjaan-lah, kurang sarana penyaluran bakat-lah, atau ada juga pendapat yang mengatakan bahwa mereka remaja yang kurang kreatif. Yah, saya hanya bisa mengelus dada saja, tidak bisa menyalahkan dan juga tidak mengatakan teori-teori tersebut sepenuhnya benar.
Saya Cuma mau bilang: ekspresikan diri kalian dengan apa yang kalian bisa lakukan untuk mencerminkan diri kalian. Tapi namanya juga anak-anak, tingkat coba-coba dan rasa ingin tahunya juga masih tinggi ditambah lagi dengan semangat yang juga masih membara. Wajar jika kalian merasa punya tenaga dan nyali lebih untuk berkelahi. Yang tidak wajar justru kalau ada tawuran kakek-kakek antar RT, atau orang berdasi yang berkelahi. Sama sekali tidak wajar. Tapi apa yang kalian lakukan, telah membenarkan satu pepatah bahwa buah apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Itulah yang dicontohkan, bapak-bapak kita dengan jas dan dasi mereka masih tetap adu jotos.
Kalian melakukan apa yang kalian lihat, namanya juga masih remaja. Wajar banget kalau kalian kadang tidak mendengarkan nasehat. Karena memang itu yang dicontohkan juga oleh para birokrat dan wakil rakyat. Mereka juga tidak mau dengar apa yang menjadi kebutuhan rakyat yang sudah menjerit-jerit dengan kemiskinan dan ketidak mampuan membeli bensin atau minyak tanah untuk sekedar menanak nasi. Duit pajak mereka bajak, perampas hak tidak ditindak, sementara penggusuran tetap mereka lakukan dan yang lainnya mereka acuhkan. Wajar saja, jika remaja yang suka coba-coba tidak mengindahkan seruan tidak tawuran dan tidak takut ketika harus meringkuk di penjara, karena banyak orang berdasi yang melanggar hukum, sekalinya masuk bui masih saja senyum-senyum. Mereka menyewa pesulap, dan hasilnya wah…penjara menjadi villa.
Teman-teman, kalian hanya butuh contoh, dan itu yang tidak kalian dapatkan. Selain diajarkan cara mengucapkan janji agar terlihat meyakinkan, kalian tidak diajarkan cara menepatinya. Kalian bisa saja duduk berjam-jam mendengarkan guru ceramah tentang pendidikan moral pancasila, saling menghormati, tenggang rasa, tolong menolong antar sesame dan mendahulukan hak daripada kewajiban dan lain sebagainya. Sementara di lain kelas yang lebih nyaman ada orang yang datang duduk terus tidur hanya untuk menerima haknya. Sekalinya bangun, mereka berdebat untuk mencari alasan menaikan tunjangan. Wajar saja.
Kalian itu cermin yang diam tidak melakukan apa-apa selain memunculkan objek yang ada didepannya. Kalau objek tersbut putih yang muncul juga putih, kalu hitam ya yang muncul juga akan hitam. Bagi saya tawuran kalian adalah potert kejujuran yang harus dilihat oleh semua orang bukan untuk dihujat atau disalahkan, melainkan sebagai sarana untuk introspeksi.
“Kalian adalah cermin yang tidak akan mengingkari objek yang ada didepannya”
Putih menjadi putih
Hitam menjadi hitam dan
Baik menjadi baik
Yang buruk akan tetap terlihat buruk

Advertisements