Aku yakin aku gila


Ada susah ada senang, ia akan datang silih berganti dengan teratur.  Berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Selalu begitu. Kalau benar tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan, lalu apa ini? Perasaan apa ini. Adakah wujudnya, adakah bentuknya. Untuk sejenak aku serasa ingin berhenti bernafas ketika memikirkannya. Aliran darah berbalik arah ketika mengingatnya. Seakan ingin ku hentikan waktu ini, agar aku dapat leluasa dengan bayangannya. Andai saja aku bisa. Namun semua seperti hampa ketika aku kembali menarik nafas, ada oksigen yang memompa paru-paru namun rasanya malah menyesakan. Aku berusaha melupakannya. Namun setiap kali usaha itu muncul, sejak aku pikirkan ingatan tentangnya mengalir deras membanjiri dan mengikat setiap sel otaku. Ingatn tentangnya telah menggunung sampai aku bingung karenanya, otakku kini tak lagi sehat. Aku gila. Biarkan saja aku gila. Aku rela. Karena hanya itu yang dapat ku lakukan. Aku putuskan lagi untuk melupakannya, dan lagi-lagi kejadian itu berulang. Setiap saat setiap detikaku pikiranku semakin tak dapat dialihkan. Aku tak lagi dapat mendengarkan music yang baik, semua suara terdengar samar, pemandangan semuanya gersang. Hanya suaramu yang ingn kudengarkan, tidak setiap saat yang aku minta karena aku tahu itu terlalu berlebihan. Berikan sedetik waktumu untuk menyapaku, duniaku pasti berubah. Aku yakin itu, karena kamulah nafasku, oksigenku, darahku, jantungku, aku merasa kamulah aku. Aku tidak dapat melihatmu tapi kamu itu ada dan sangat nyata. Seperti telinga yang tak pernah dapat kulihat kecuali dalam kaca cermin. Aku merasa dapat terbang tanpa sayap, aku merasa tak lagi butuh udara untuk kuhirup, aku merasa tak lagi butuh apa-apa bersanding disampingmu. Mendengarmu bercerita lirih, melihat senyummu, merekam semuanya tanpa alat. Memotret setiap gerakmu dengan mataku menyimpannya dalam relung hatiku mengenangnya dengan jiwaku. Untuk sewaktu-waktu aku merindukanmu aku tak lagi butuh waktumu, senyummu, dan ragamu hadir dahapanku. Aku hanya akan memejamkan mata dalam waktu yang lama sampai aku yakin untuk membuka mata dan kamu telah benar-benar ada mengulurkan tanganmu untuk menuntunku dari ketidak berdayaanku, menaiki puncak tertinggi dan tertawa melihat ombak yang riang dengan senda guraumu. Aku pejamkan mata ini lagi ketika aku sadar itu hanya harapan yang tak mungkin aku wujudkan. Selama mungkin aku bisa terpejam, selama mungkin aku bisa merasakan yang tidak pernah aku dapatkan. Kebahagian dengan keriangan senyum sederhana yang bagiku terlalu sempurna untuk dilupakan. Aku pendengar yang baik tapi aku bukan perasa yang baik, tolong beritahu aku kalau kamu juga merasakan hal yang sama. Aku yakin aku gila, tapi ini aku pastikan bukan karenamu, ini karena aku tidak sabar untuk kecewa atau bahagia. Untuk kalimat yang tidak pernah bisa kuselesaikan “bahwa aku….”aku ingin angin memberimu salam dariku. Untuk kalimat yang tidak pernah aku seleseaikan untukmu..aku ingin alam memberikan tanda bahwa kau tahu. Kubutuh caramu. Ajari aku melupkanmu.

Advertisements