Saya mengeluh tentang


Saya ingin banyak membahas tentang negara turki. Entah kenapa, sebenarnya banyak kajian yang menarik dan cenderung langka dari bahasan sebagian sarjana hubungan internasional. Biasanya orang akan cenderung lebih membahas hal yang belum pernah dibahas. Tentunya hal ini juga akan mempermudah dalam proses penyelesaian, katakanlah tugas akhir atau laporan hasil penelitian. Tapi saya tidak, tetep ingin menulis tentang apapun itu, tentang turkey.

Sial, tiba-tiba keinget tentang hal lain. Belanda – indonesia. Katanya memiliki hubungan yang spesial, karena sejarah dua negara ini yang dekat. Akhir – akhir ini presiden Indonesia, SBY membatalkan kunjungannya ke negeri kincir angin tersebut. Berbagai reaksipun muncul, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ada yang pro (mendukung atau setuju dengan langkah SBY) ada juga yang mencibir kontra (menyesalkan pembatalan kunjungan tersebut). Tentunya hal ini biasa dalam dinamika dunia politik.

Keputusan SBY membatalkan kunjungan dilatar belakangi oleh adanya aduan RMS di pengasingan ke pemerintah belanda (kejaksaan belanda) untuk menuntut SBY dan menangkapnya dengan tuduhan pelanggaran HAM. Secara persoonal kalau saya jadi presiden juga akan membatalkan kunjungan. Pertama, karena memang saya takut. Disana ada orang-orang yang secara terang-terangan tidak suka terhadap saya. Kedua, walapun ada jaminan keamanan dan kebal hukum dari pemerintah disana, tapi orang-orang tersebut dapar melakukan apa saja yang tidak bisa diduga. Ketiga, saya sudah tahu tentang masalah itu, dan saya merasa tidak bersalah, semua keputusan tindakan dan kebijakan yang saya keluarkan sudah seseua dengan prosedur dan aturan. Saya tentu merasa tersinggung dengan tuntutan cepat di pengasingan para pimpinan RMS tersebut. Wajar dong, kalau saya sebagai kepala negara memutuskan untuk menunda sampai waktu yang tidak ditentukan kunjungan ke negeri belanda. Toh hubungan Indonesia – belanda juga biasa saja. Tida sespesial sejarahnya (tidak ada hubungan ekonomi yang banyak memberi pemasukan devisa negara).

Gimana kalian setuju dengan pendapat saya?.

Ok, kembali lagi ke turki. Negara tersebut sangat unik, terletak diantara benua asia dan eropa sehingga dikatakan sebagai eurasia. Walupun pada akhirnya turki menjadi salah satu bagian dari eropa, namun kultur mereka jelas berbeda. Agama mayoritas tetap islam, jelas ini bukan eropa yang kuat kristennya. Kemal pernah melakukan reformasi dan membuat turki seolah – olah menjadi bangsa lain dengan mengikuti segala macam hal yang berbau eropa, salah satunya membuat masjid dengan bangku-bangku dan musik. Tapi pada akhirnya turkey tetepalah turkey.

Ada yang berubah?. Pastinya ada, tapi hal ini tetap tidak membuat turki sama dengan bangsa eropa lainnya. Bahkan perbedaan inilah yang membuat langkah turki terhambat untuk menjadi salah satu anggota uni erop. Alasan EU jadalah semua hal diatas tadi, dan tentunya juga demokrasi dan HAM menjadi alasan pemanis yang disertakan. Demokrasi menjadi salah satu syarat wajib negara yang iingin menjadi bagian dari EU. Sementara kasus – kasus pelanggaran ham harus segera diselesaikan.

Akantetapi saya mendapat sentilan lain tentang penundaan EU menjadikan turkey sebagai salah satu anggotanya, yaitu tentang penduduk turkey yang banyak. Kalau dimasukan dalam parlemen yang berdaskan jumlah penduduk maka turkey akan memiliki wakil terbanyak ketiga setelah Jerman dan Francis. Logika sederhananya, ketika keputusan harus diilakukan dengan voting maka turkey akan memegang peranan penting untuk EU. Hal ini yang dianggap masih sulit untuk diterima dengan semua perbedaan tersebut diatas.

Gimana kalau dikaji lebih mendalam? Apakah ini menarik? Saya sungguh menunggu bintang jatuh dan matahari terbenam untuk mengakhiri perjalanan. Sejenak beristirahat! – Salam Resah –

 

Advertisements