Pertemuan dengan penulis beken pembual VOC


Seperti biasa, es ito selalu hadir dengan tulisan yang menakjubkan. Pilihan kata dan penyampainnya sangat lugas dan penuh indikasi. Bagi para penggemarnya bung yang satu ini mungkin telah mengecewakan karena buku ke-3 tidak jadi terbit (entah, dia bilang nyerah). Namun bagi segenap pembacanya yang terkutuk (dia bilang) ada beberapa pertemuan yang layak diikuti, pertemuan satu, pertemuan dua dan tiga serta satu pertemuan extra. Semuanya dapat dibaca di webnya secara gartis segratis-gratisnya. Tak perlu panjang lebar, langsung saja buka – http://itonesia.com/category/pertemuan/ namun jika kalian adalah pemalas, silahkan baca beberapa bagiannya saja sebagai berikut:

Pertemuan 1

Jadi Kisanak…eh maaf, Bung…kami ini sudah mati atau belum?”, aku juga tidak sabar ingin mendapatkan penjelasan. BJ memandangku tidak senang.

Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan bukan?”, ucapan Sjahrir itu membuat aku merinding, begitu agung, ”bila kalian masih berani bertaruh untuk hidup maka kehidupan milik kalian. Tetapi bila, dalam usia muda ini, kalian tidak berani bertaruh, apa bedanya dengan orang mati?”

Kami berani bertaruh, Bung!”, Jon dan aku berteriak berbarengan. Tentu saja, kami masih ingin hidup kok. Sjahrir dan BJ tidak bisa menahan ketawa, kami hanya melongo saja. ”hidup hanya menunda kekalahan. tambah terasing dari cinta sekolah rendah. dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah”, BJ mentertawakan kami berdua dengan syairnya.

Jadi undangan macam apa ini Bung?”, aku beranikan diri untuk bertanya.

Baca lanjutannya

Pertemuan 2

Bahh…” (buat yang tidak ngerti kenapa aku ngumpat membuka tulisan, aku anjurkan baca tulisan pertemuan sebelum ini), nah aku lanjutkan ya..Bagaimana awak tidak mengumpat, sudah di muka bumi dulu moyang awak dilarang untuk menikmati dunia, eh di alam barzakh ini dilarang pula melintasi pintu surga sementara di muka bumi sana, awak dilarang pula merokok dan jadi paderi (maksudnya golput).

Jadi aku hanya bisa menatap bergantian antara papan pengumuman itu dan si kancil sementara si BJ seperti biasa terkaing-kaing seperti anjing habis disemprot lada. Dan Jon, kemanakah dia? Tentu pembaca budiman bertanya-tanya. Kenapa aku tidak menyebut nama Jon. Dalam benak pembaca tentu muncul kemungkinan-kemungkinan seperti :

a. Jon telah kembali ke musholla yang dikentuti knalpot motor

b. Jon mencari lubang hendak mengambil kamera

c. Jon tidak tahu kemana rimbanya

d. Suka-suka penulis dong

bingung kan … makanya baca saja ini

Pertemuan

Perempuan-perempuan cantik, bening, molek dengan kulit pantat tidak beda rupa dengan wajah tidak akan aku temui dalam keseharianku di pinggiran Jakarta sana. Tentunya ini jenis perempuan yang hanya akan ditemui bajingan-bajingan Finbus dalam imajinasi kamar mandi (imajinasi itu copy paste di warung Ujang dari laporan pandangan mata seseorang yang baru datang dari Bakerzin Plasa Senayan). Jenis perempuan yang akan membuat setiap penulis akan buru-buru kembali menuangkan gagasannya untuk menghasilkan adikarya yang luar biasa. Adikarya untuk mempesona perempuan tersebut, atau lebih praktisnya duit royaltinya bisa untuk beli itu perempuan. Nah, tulisan macam apa pula ini kok ngomongin perempuan yang sekali seabad aku saksikan dalam kehidupan nyata. Tetapi di alam barzakh ini, jumlah mereka ratusan mungkin ribuan. Bahkan kamar mandi tidak akan sanggup menahan imajinasi ini. “Inilah dunia dimana Harto masih berkuasa…”, ucap Sjahrir seperti menelan amarah “Masih berkuasa, maksud bung apa?”

mau baca ? ni….

Pertemuan extra

ya elah langsung aja baca – udah baca 123 kenapa harus mikir lagi – langsung baca

Advertisements