Mimpi – 1


Orang macam apa aku ini, semua ditulis dan semua dirasakan. Berasa paling sensitif dan paling mengerti, padahal lebih banyak orang lain yang jauh-jauh lebih mengerti dan paham tentang apa yang dirasakan. Semua terlihat jelek dan menjijikan termasuk karya sendiri. Nggak ada yang bisa dibanggakan disini, macam kepala negara yang sudah mulai bangga menggunakan bahasa asing dalam pidatonya, padahal didepan rakyat sendiri. Katanya untuk penekanan, (saya mencoba berbaik sangka saja, berarti dalam pidatonya memang banyak yang ditekankan) macam tanda seru dalam pelajaran bahasa Indonesia yang kini mulai hilang peminatnya didalam negeri. Termasuk pidatonya tentunya.

Segelas kopi dan satu bungkus rokok tak cukup untuk menenangkan satu hari seperti biasanya. Ah peduli setan dengan semua pemberitaan di tv, yang ada kini hanya sirkulasi modal para konglomerat untuk kepentingan mendapatkan kedudukan. Wajar jika para politisi, polisi, dan jaksa tidak pernah mendapatkan kawan yang akan mereka bawa kesurga (mengutip pertemuan si penulis yang beken itu). Wajar jika Gusdur dalam guyonannya yang jenaka mengatakan bahwa di sini, hanya ada tiga polisi yang jujur yaitu: Hugeng (almarhum yang mengejar buronan para koruptor), Patung Polisi, dan polisi tidur.

Sambil merenung dan menikmati segelas kopi pahit dan rokok djarum super yang tinggal setengah, saya kembali berpikir tentang betapa lucunya apa yang terjadi di negeri ini. Sebuah film besutan sutradara sekaligus pemaim film kawakana, dedi mizwar menjadi bukan apa ketika renungan ini mengalir. Di film tersebut, diceritakan tentang seorang sarjana yang susah mendapatkan kerja. Berbagai kantor ia masuki dengan membawa gelarnya, tetep saja tidak ada yang bisa menerimanya. Apesnya ia malah mau dijadikan pahlawan devisa, dengan mengirimnya ke luar negeri. Semua tahu lah, para pekerja pribumi di luar negeri adalah sumber devisa negara yang termasuk utama, selain pajak yang telah dikorupsi. Namun, nasib mereka para pahlawan devisa sangat-sangat-sangat terlantar. Ga ada yang ngurus. Sebenarnya wajar juga si, orang yang didalam negeri saja belum terurus, bagaimana mau mengurus yang di luara. Ngimpi… (aksennya kayak di iklan ya, biar penekananya mantep). Oya sampai mana ya tadi, ngomongin devisa sampai lupa sama lucunya negeri ini. Diceritakan si sarjana akhirnya mendidik para copet dan digaji dengan uang hasil mencopet.

Ahhhh bangsa ini memang lucu, gokil kata anak gaul. Setelah fenomena keong racun yang sensasional di youtube dan sebelumnya juga telah muncul lebih dahulu kucing garong, cicak dan juga buaya. Bak kebun bintang saja negeri ini, yang terkenal adalah hewan-hewan. Tapi memang nampaknya prinsip ektensifikasi yang biasanya digunakan dibidang pertanian, kini juga digunakan oleh pihak pengelola taman safari atau juga ragunan. Buktinya ya itu tadi. Negeri ini pun kini telah dikuasai oleh binatang-binatang yang mamaenkan perannya dipanggung sirkus bernama politik. Mereka sangat menarik, sehingga para penonton terhipnotis, bahwa hewan tetep hewan, alasan utama mereka adalah makanan. Naluri lebih mengusai daripada hati, begitulah kira.

Oya ini hanya sekedar fiksi, mimpi yang terjadi disiang hari ketika hujan turun dengan derasnya dan seperti biasa, mati lampu. Suasana mendukung terjadinya mimpi ini, jadi mimpi saya bolehlah dikatakan tersponsori oleh alam, pertama oleh matahari yang menggantikan bulan sehingga terjadilah hari. Kedua, oleh awan yang telah menurunkan hujan yang deras (bikin awak betah didalam kamar) dan yang terkahir adalah sponsor utama seperti biasa, dan ini sudah sangat sering terjadi, listrik mati by PLN.

Kembali ke masalah naluri yang lebih menguasai, Gandhi pernah bilang, bahwa dunia akan senantiasa mencukupi kebutuhan manusia, namun dunia tidak akan pernah dirasa cukup oleh manusia serakah. Namun tidak kalah cerdiknya, seperti listrik yang mati dan sudah menjadi kebiasaan itu, para politikus juga bilang, all men are brothers (tidak mau kalah, mereka juga mengutip Gandhi juga). Semua manusia bersaudara, jadi tidak akan ada yang namanya nepotisme ini hilang, apalagi korupsi.

Ngomongin politik memang ga ada habisnya dan ga ada baiknya walau hanya dalam mimpi.

bangun

=-=-=-=-=
Powered by Blogilo

Advertisements