Negara Tak Bertema


Mungkin hanya sedikit dari yang banyak dari kita yang benar-benar sadar. Mungkin juga baru sedikit, atau mungkin memang benar-benar sedikit. Entahlah, terlalu banyak kemungkinan yang bisa terjadi, sampai-sampai angka statistik tidak lagi mampu menghitungnya. Padahal sekarang angka adalah wakil dari segalanya. Baik atau buruk ditentukan oleh anka, salah benar ditentukan oleh angka, maju atau mundur juga yang menentukan angka. Layaklah sekarang kita berada didalam dunia penuh angka.

Nominal yang terdiri dari beberapa deret angka mewakili sejumlah suara yang tak mampu lagi ditafsirkan secara nyata. Hanya angka yang dianggap mewakili sebuah kepastian. Kali, tambah, kurang dan bagi – mendominasi esensi laju perputaran kehidupan yang justru cenderung mandeg. Mungkinkah harus bertanya pada rumput yang bergoyang seperti ebiet, atau haruskah suara iwan fals yang lantang menyanyikan lagu-lagu kritikan harus tergantikan oleh band-band kampungan yang hanya bermodalkan kenalan.

Dunia kini sudah kehilangan tema, semua bebas dan melakukan apa saja. Apa ini yang dicita-citatkan plato dalam lamunannya tentang demokrasi yang menjadi sistem dunia? yang kini menjadi alat komando jet-jet tempur melepaskan peluru penghancur. Kau bilang semua memiliki hak yang sama, tapi ternyata itu hanya pemanis di muka. Realita tetap menjadi bencana bagi mereka yang menjadi korban ketidak mampuan. Tidak mampu membayar uang sekolah anaknya, tidak mampy berobat, tidak mampu punya rumah dan terpaksa hidup dijalanan dengan status yang direndahkan. Warna hanya ada dua, kalau tidak hitam maka putih. Pelangi hanya ada dalam mimpi, itu juga bagi mereka yang mampu tidur dalam kedinginan, dalam kelaparan, atau dalam kejaran tagihan yang mungkin datang disaat yang tidak diharpkan. Lantas yang tidak mampu tidur mereka menjadi zombie, mati tidak hidup enggan. Dimana kita, dimana tempat ini, dimana jabang bayi sudah dapat bagian hutang yang harus mereka bayar andai berani keluar di negeri ini.

Neraka? – bukan, ini bukan neraka, ini sebuah negara. Negara yang penuh dengan sumberdaya yang kini terbuang sia-sia.

Disini hanya ada dua warna, dan syangnya itu bukan merah dan putih yang hanya ada dalam ceirta para pejuang yang berani mempertaruhkan nyawa dengan tulus dan ikhlas demi kemerdekaan. Jendral, warnamu sekarang kelabu, tak lagi suci dan berani. Dikotori oleh para korup birokrasi yang terpilih dengan jalan demokrasi angka. Sekarang orang mempertaruhkan harta untuk jabatan jendral… ahhh entah jendral mana pula yang saya panggil, yang pasti yang sudah mati dan pernah berjuang. Jangan mengeluh ketika bhineka tunggal ika hanya sebuah peninggalan masa lalu. Sekarang orang lebih bangga dengan mengutip sesuatu dalam bahasa inggris. Wajar pula jika kelak mungkin saja bahasa Indonesia yang menjadi sumpah para pemuda yang mempersatukan mereka menjadi sirna.

Para pemuda-tonggak penerus perjuangan bangsa yang kini dijejali oleh berbagai macam kemjuan yang menggilakan. Mereka belajar tanpa ada yang mengajar, karena memang tidak ada yang mampu memberikan pengajaran. Yang tua terlalu sibuk, atau lebih tepatnya para tuabangka sibuk memikirkan masa depan, sampai mereka lupakan kewajiban memberikan tauladan. Jangan lupakan sejarah, begitu funding father negeri ini bilang. Namun mungkin anak-anak sekarang juga bingung, mereka harus belajar sejarah yang mana, sejarah apa yang harus mereka ingat. Manipulasi bukan hanya dalam gedung-gedung birokrasi saja, tapi sejarah juga menjadi objeknya.

Negara ini punya sejarah, bahkan ada dugaan dibumi pertiwi ini dulu pernah ada yang selama ini menjadi mitos dan cerita konon, yaitu kerajaan atlantis. Masih menjadi dugaan memang, tapi dari cerita yang berkembang ada sedikit kesamaan antara atlatis yang hilang dengan negara ini. Atlantis juga dulu memiliki kekayaan yang melimpah ruah di alamnya, dan itu pula yang menyebabkan mereka tenggelam oleh keserekahan rakyatnya. Lalu Indonesia, orang yang bilang negeri ini negeri miskin mungkin perlu sedikit penambahan kata, yaitu negeri yang berpenduduk miskin. Tapi sumberdaya alamnya juga melimpah, namun hanya masuk kekantong perseorangan atau sebagian kelompok yang memiliki jabatan atau pengaruh saja. Tidak kah tampak jelas kesamaannya? Negeri ini kaya cerita, namun boleh ditebak anak tk lebih tahu cinta fitri atau baim daripada cerita bagaimana perjuangan atau kerajaan yang dianggap membosankan.

Negara tak bertema karena melupakan Bhineka tunggal ika nya, melupakan pancasila, melupakan lambang garuda, mencampuradukan merah dan putih dengan warna-warna semu yang membuat kelabu. Negara tak bertema karena keadilan dapat diperjual belikan. Negara ini tak bertema karena sejarah mereka lupakan. Negara tak bertema karena terlalu banyak sebabnya untuk disebutkan satu persatu.

=-=-=-=-=
Powered by Blogilo

Advertisements