Masa depan buku teks di era digital


Tidak seharusnya saya, atau pun kita khawatir dengan judul tersebut. Toh kita bukan pemilik percetakan yang akan berpikir ulang untuk melanjutkan perusahaannya. Namun memang kebanyakan dari kita sudah acuh dengan masalah-masalah seperti itu, sebenarnya ini hanyalah hal sepele, dimana sekarang merupakan era teknologi dan masyarakatpun menyesuaikannya. Sangat logis. Banyak sekali produk yang memudahkan manusia, alat-alat dengan teknolgi canggih didesain untuk memuaskan hasrat manusia.

Tidak perlu lagi kita repot-repot membuka halaman koran yang besar dan merepotkan ketika dibaca. Sekarang sudah ada berbagai macam e-book reader yang tentunya juga ada fasilitas yang menyediakan koran dalam bentuk elektronik. Bukan tanpa kelemahan, alat tersebut masih memiliki kekuarangan. Bagi sebagian pembaca yang idealis mereka juga tetap ingin membaca versi hard copy dibandingkan membaca tulisan yang sama dari sebuah layar.

Digitalisasi buku teks, bagaimanapun akan mereolusi pengiriman atau pendistribusian dengan cara yang sama seperti file mp3 mengubah industri rekaman. Sama dengan file mp3 musik, sebuah buku digital tidak pernah memburuk atau lapuk, dan yang paling penting hampir tidak ada biaya dalam proses produksi dan pendistribusian kepada masayarakat. Tanpa kontrol pada proses distribusi, tujuan utama dari perlindungan hak cipta “memberikan intensif dan penghargaan bagi penulis”  tidak akan atau susah dipenuhi.

Industri musik di amerika, mengambil langkah hukum untuk mengatasi pembajakan secara digital dan berhasil menutup beberapa web berbagai file. Namun, ternyata industri buku tidak mampu melakukannya, karena hal ini membutuhkan dan yang cukup besar. Industri percetakan buku pastinya tidak memiliki kekuatan dana sebesar industri musik.

Lalu bagaimana dengan yang ada disini. Buku, bagaimanpun merupakan gerbang ilmu dan gerbang kemajuan. Ironis memang ketika hal ini akan mempengaruhi minat orang untuk menulis buku, yang artinya akan minim sekali buku yang dapat dibaca oleh anak-anak kita kelak.

Sudah terlena dengan kemajuan teknologi? saya pikir kita belum terlambat. Dinegara maju, memang digitalisasi dalam segala bidang sedang galak-galaknya. Namun hal tersebut juga membutuhkan infrastruktur yang sudah mapan. Untunglah disni belum memiliki yang seperti itu, walapun langkah kesana sudah ditunjukan. Namun hal ini harus disikapi dengan bijak tentunya.

Advertisements