2011 menjadi tahun revolusi


Tahun 2011 ini menjadi tahun revolusi yang dilakaukan oleh rakyat di masing-masing negara melawan pemerintahannya yang otoriter. Sebut saja yang mengawali adalah Tunisia, kemudian semangat perubahan dengan revolusi merambat ke negeri firaun “mesir”. Di mesir, Mubarak yang sudah berkuasa selama 30 tahun dipaksa mundur oleh rakyat yang turun kejalan selama berhari-hari dan bahkan mereka tidak melakukan kegiatan lain selain demo. Kekuatan rakyat begitu besar, mereka tidak takut apapun untuk tujuan revolusinya. Latar belakang militer mubarak tidak banyak membantu, karena ternyata tentara mesir akhirnya lebih mendukung rakyat dan menyarankan sang presiden untuk mundur.

Demikian halnya dengan yang terjadi di Libya. Kekuatan militer yang dimiliki oleh Moamar Khadafi tidak banyak membantu. Walaupun ia memiliki pasukan khusus pengawal presiden yang biasa disebut “brigade muhammad” kini diberitkan sudah memihak kepada rakyat. Sebelumnya, jajaran pembantu presiden telah terlebih dahulu merayu Khadafi untuk mundur dan masing-masing dari mereka kini sudah meltakan jabatannya (mengundurkan diri). Yang terakhir dari detik.com (duta besar libya untuk indonesia sudah resmi mengundurkan diri). PBB juga telah mengutuk atas penyerangan terhadap pendemo yang diduga dilakukan oleh orang bayaran khadafi (baca juga: 1 kepala = $12.000).

Tidak lama kemudian, Menteri Dalam Negeri Libya, Abdul Fattah Younis al Abidi, mengatakan mundur dari jabatannya dan mendukung para pengunjuk rasa. Bahkan ia menyerukan pasukan keamanan Libya untuk bergabung dengan rakyat dalam menggulingkan rezim Otoriter Moamar Khadafi. “Saya mengumumkan pengunduran diri saya dari segala kewajiban saya dalam merespons revolusi 17 Februari,” kata Yunes seperti dikutip dari televisi Al-Jazeera, Rabu (23/2/2011).

Begitu cepatnya revolusi merambatt dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini tidak juga tidak lepas dari keberadaan Social media yang telah menjadi trend masyarakat sekarang. Disana semua orang bisa ngobrol apa saja. Sebut saja di twitter, dimana hak bicara sepenuhnya terjamin. Demokrasi pun disana ada dengan caranya sendiri. Dari pembicaraan yang terjadi antar sesama tentang topik yang sama, ternyata bisa juga terjadi dalam dunia nyata. Kebosanan dalam yang selama ini hanya bisa dilampiaskan dalam dunia maya, mulai dicurahkan di dunia nyata. Demokrasi semu pada dunia nyata telah dikalahkan oleh demokrasi nyata dunia maya. Begitulah trend ini terjadi sesuai dengan masa dan perkembangannya.

Bagaimana dengan Asia, Asia Tenggara, dan Indonesia. Trend ini adalah tren dunia, bukan sebagian kelompok di sebagian daerah saja. Asia dan Indonesia adalah salah satunya, sehingga kemungkinan tetap saja ada untuk revolusi.

– salam revolusi –

Advertisements