Jam Pun Berhenti. Brava Francesca!!!


Francesca Schiavone

Melelahkan. Mendebarkan. Fantastis. Entah berapa liter keringat yang mengucur dari tubuh Francesca Schiavone dan Svetlana Kuznetsova saat keduanya berjibaku di putaran keempat Australia Terbuka, Minggu (23/1). Yang seorang tampak sangat lelah sehingga sempat lupa siapa yang seharusnya memegang servis. Yang lain terus mengecek jarum jam yang terpajang di lapangan utama sambil berbicara kepada dirinya sendiri, Brava Francesca!

Jarum jam pun berhenti. Di sana terpampang angka 4 jam 44 menit, menandai durasi pertarungan di antara kedua petenis kawakan tersebut. Ini waktu terlama yang pernah ada di kontes grand slam putri. Di Grand Slam Australia Terbuka 2010 muncul pula rekor waktu laga terlama. Barbora Zahlavova-Strycova mengalahkan Regina Kulikova, 7-6 (5), 6-7 (10), 6-3, dalam waktu 4 jam 19 menit.

 

Svetlana Kuznetsova

Sangat melelahkan, tetapi hasilnya menggembirakan. Schiavone menyebut laga ini fantastik! Petenis Italia tersebut kini berusia 30 tahun. Usia yang bagi banyak petenis lain adalah usia menjelang pensiun. Namun, lihatlah bagaimana gerak tubuh Schiavone, cara ia berlari mengejar bola, memukul bola. Ia menggelinding seperti bola dan menggoreskan sejarah tidak terlupakan sepanjang kariernya.

Schiavone memenangi Perancis Terbuka tahun 2010, menjadi orang Italia pertama yang menjuarai grand slam dan perempuan tertua yang mampu meraih gelar grand slam untuk pertama kalinya selama empat dekade. Ia juga menjadi perempuan tertua dalam kurun 12 tahun yang mencapai posisi sepuluh besar untuk pertama kalinya pula. Usia kematangan seseorang bisa berbeda-beda. Schiavone mencapainya ketika usia 30 tahun. Baginya, ketika seseorang berada dalam situasi seperti ini, berduel dengan lawan yang juga haus gelar, setiap poin sangatlah penting. Ia menyebut, setiap poin adalah match point.

Schiavone memiliki bahasa tubuh yang tegas. Rasa percaya diri yang tinggi terpancar di sana. Pada Perancis Terbuka 2010, ia merayakan kemenangan dengan menjatuhkan diri ke lapangan dan mencium tanah liat. Ini ritual yang ia lakoni mulai perempat final, semifinal, lantas final.

Tidak ada ritual mencium lapangan di Melbourne Park.

Schiavone dengan tenang, tetapi tetap tegas, mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi, lantas berjalan menuju net untuk kemudian memeluk Kuznetsova. Apa kata Kuznetsova? Baginya, laga terlama itu adalah laga yang spiritual. Apa yang tak bisa membunuhmu akan membuatmu lebih kuat. Saya masih hidup dan duduk di sini, kata petenis Rusia itu ketika jumpa pers.

Schiavone berharap perjumpaan dengan Caroline Wozniacki akan sama ketatnya. Masih punya sisa energi? Saya muda, saya bisa berlari. Saya bisa melakukan segala hal, sahutnya. Inilah yang disebut sebagai mental juara. (Sumber: KOMPAS edisi Selasa, 25 Januari 2011).

Catatan kecil

Sungguh luar biasa memang, kadang kita kurang sadar akan potensi yang dimiliki dan berhenti sebelum menemukannya, atau mencapai puncaknya. Yang pertama mungkin karena sudah puas dan yang kedua kemungkinan karena sudah neyerah. Tapi tidak dengan dua petenis itu. Dalam olah raga skill memang penting, namun untuk dapat prestasi harus memeiliki mental juara seperti mereka. Hanya sebuah kisah dari lapangan yang mungkin dapat dijadikan teladan.

Advertisements