Mitos Benua Atlantis


Plato mengarang dialong Timaeus dan Critias sekitar 360 tahun sebelum Masehi. Tokoh-tokoh dalam dialog itu adalah orang-orang nyata yang dikenal oleh Plato. Critias, salah satu tokoh dialog, adalah kakek buyut Plato. Socrates, tokoh lainnya, adalah guru Plato. Hermocrates adalah seorang negarawan dan tentara dari Syracuse. Cuma satu orang yang tidak mampu dujelaskan oleh sejarah, siapa sesungguhnya dirinya, yaitu Timaeus. Sedangkan, tokoh-tokoh yang dibicarakan dalam dialog juga beragam. Pertama Critias, anak dari Dropides dan kakek dari Critias, yang terlibat dalam dialog. Keduanya memiliki nama yang sama. Solon, ahli hukum, sastrawan, dan juga seorang petualang yang hidup tiga abad sebelum Plato. Solon-lah yang mendapatkan cerita tentang Atlantis dari para pendeta kota Sais, Mesir Kuno.

Sebenarnya cerita ini hanya secuil bagian dari dialog itu yang membahas masalah Atlantis. Sebab, sebagian besar dialog justru berbicara tentang banyak hal dalam kehidupan. Tuhan, mausia, jiwa ,kesehatan, dan tubuh. Pada bagian Timaeus kita hanya akan menemukan satu dialog tentang Atlantis. Sedangkan pada bagian Critias, cerita tentang Atlantis cukup banyak.

Catatan Plato

Dua dialog Plato, Timaeus dan Critias, yang ditulis pada tahun 360 SM, berisi referensi pertama Atlantis. Plato tidak pernah menyelesaikan Critias karena alasan yang tidak diketahui; namun, ahli yang bernama Benjamin Jowett, dan beberapa ahli lain, berpendapat bahwa Plato awalnya merencanakan untuk membuat catatan ketiga yang berjudul Hermocrates. John V. Luce mengasumsikan bahwa Plato — setelah mendeskripsikan asal usul dunia dan manusia dalam Timaeus, dan juga komunitas sempurna Athena kuno dan keberhasilannya dalam mempertahankan diri dari serangan Atlantis dalam Critias — akan membahas strategi peradaban Helenik selama konflik mereka dengan bangsa barbar sebagai subyek diskusi dalam Hermocrates.

Empat tokoh yang muncul dalam kedua catatan tersebut adalah politikus Critias dan Hermocrates dan juga filsuf Socrates dan Timaeus, meskipun hanya Critias yang berbicara mengenai Atlantis. Walaupun semua tokoh tersebut merupakan tokoh bersejarah (hanya tiga tokoh pertama yang dibawa),[3] catatan tersebut mungkin merupakan karya fiksi Plato. Dalam karya tertulisnya, Plato menggunakan dialog Socrates untuk mendiskusikan posisi yang saling berlawanan dalam hubungan prakiraan.

Timaeus dimulai dengan pembukaan, diikuti dengan catatan pembuatan dan struktur alam semesta dan peradaban kuno. Dalam bagian pembukaan, Socrates merenungkan mengenai komunitas yang sempurna, yang dideskripsikan dalam Republic karya Plato, dan berpikir apakah ia dan tamunya dapat mengingat sebuah cerita yang mencontohkan peradaban seperti itu.

Pada buku Timaeus, Plato berkisah:

“ Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam”

Cerita tentang Atlantis Plato dapatkan dari kisah perjalanan Solon ke kota Sais salah satu distrik pada kerajaan Mesir Kuno. Para pendeta di kota itu bercerita tentang sejarah yang telah dilupakan oleh orang-orang Yunani tentang sebuah bangsa besar yang pernah menyerang nenek moyang mereka ribuan tahun lalu. Selama tiga abad setelah kematian Solon, cerita itu terpendam begitu saja hingga Plato mengungkapkannya lagi dalam bentuk dialog. Atlantis disebut sebagai dunia lama. Tidak ada temuan arkeologis, tidak ada peninggalan tertulis yang ada hanya cerita yang didapatkan oleh Solon dari pendeta di distrik Sais. Sebagaimana terungkap dalam dialog Timaeus dan Critias.

Salah satu pendeta yang sudah cukup tua berkata, “Solon, kalian orang Yunani tidak lebih dari anak-anak semua, tidak ada orang tua di antara kalian.” Solon bertanya apa yang dimaksud oleh pendeta dengan kata-kata itu. Ia menjelaskan bahwa dalam pikiran orang-orang Yunani yang ada hanyalah masa sekarang. Tidak ada yang berusaha untuk mencari jejak pengetahuan masa lalu. Pendeta itu menceritakan kepada Solon kenapa hal itu samapi terjadi.

Ada suatu masa ketika bangsamu dan bangsa-bangsa lainnya dilengkapi dengan kemampuan menulis serta kelengkapan hidup lainnya. Tiap masa dipisahkan oleh jarak waktu. Hingga datang waktunya, muncul wabah dari langit. Seperti penyakit campak yang ditebar begitu saja. Sehingga, yang tertinggal di antara kalian hanyalah orang-orang yang tidak bisa membaca dan tidak memiliki pengetahuan. Maka, kalian memulai lagi segala sesuatunya seperti anak-anak yang tidak mengerti apa-apa. Perihal silsilah yang kamu jelaskan kepada kami tidak lebih baik daripada cerita anak-anak.

Malapetaka dan bencana yang menimpa manusia disebabkan oleh banyak hal tertapi di antara sekian banyak hal itu, air dan api memegang peran yang paling penting. Kamu hanya mengetahui satu banjir besar yang pernah terjadi. Tetapi sebenarnya, ada banjir besar sebelumnya yang juga pernah terjadi. Menenggelamkan tempat-tempat yang dulu didiami oleh manusia terbaik dan paling adil. Ketika bencana datang hanya sebagian kecil dari mereka yang selamat. Orang-orang yang selamat itu pada akhirnya juga meninggal tanpa meninggalkan satu pun cerita tertulis.

Sebelum banjirterbesar yang pernah terjadi, kota besar Athena dikenal selalu terdepan dalam berperang. Kota itu diatur dengan pemerintahan paling baik dibandingkan kota-kota lainnya. Kota itu juga dikenal karena konstitusinya yang paling adil dibandingkan tradisi yang pernah ada pada tempat di kaki langit.

Menyangkut bangsamu sembilan ribu tahun yang lalu, aku akan menjelaskan kepadamu tentang hukum dan tindakan mereka yang terus dikenang. Sebuah keberanian menghadapi kekuatan bangsa yang muncul di tengah-tengan Lautan atlantik.

Begitu banyak tindakan angung tercatat sejarah kita. Tetapi, ada satu tindakan dan perbuatan yang melebihi semua tindakan yang pernah ada. Sejarah mencatat sebuah kekuatan besar yang sulit untuk ditandingi melakukan ekspedisi penakllukan sepanjang Asia dan Eropa. Dan kota kalian adalah sasaran akhir mereka. Kekuatan besar ini muncul di Lautan Atlantik. Pada saat itu Atlantik dapat dan bisa dilayari. Terdapat sebuah pulau yang terletak di depan selat yang kalian sebut Pillar Hercules. Pulau itu lebih luas daripada gabungan antara Asia Minor dan Libya. Melalui pulau ini, kamu bisa mengitari semua bagian benua yang dikelilingi oleh lautan. Bagian laut yang terdapat Pillar Hercules adalah sebuah pelabuhan. Memiliki pintu masuk yang sempit. Sisanya adalah lautan luas yang menggelilingi daratan sehingga bisa disebut sebagai benua tanpa batas.

Di Pulau Atlantis terdapat kerajaan yang mahabesar menguasi pulau-pulau dan benua. Orang-orang Atlantis telah menguasai bagian bumi sejauh Libya hingga Mesir dan sejauh Eropa hingga Tyrenia. Kekuasaan seluas itu terpusat pada satu orang. Mereka juga berusah menundukkan negerimu. Tetapi, Solon, nenek moyangmu memancarkan keteguhan hati dalam kebenaran dan keberanian. Di bawah pimpinan Raja Hellenis, nenek moyangmu berhasil mengusir para pendatang itu dan membebaskan negeri-negeri sekitar selat dari perbudakan oleh para pendatang.

Tidak lama kemudian terjadilah gempa dan banjir besar. Dalam satu hari satu malam malapetaka menghancurkan Atlantis. Semua prjurit tenggelam ke dasar bumi. Dan Pulau Atlantis hilang di dasar laut. Karena alasan itu, laut di sekitarnya tidak dapat dilalui dan dilayari. Banyak onggokan lumpur. Ini disebabkan oleh pulau-pulau yang tenggelam.

Konon setiap Dewa memiliki wilayahnya sendiri-sendiri di muka bumi ini. Tempat manusia membuat kuil dan melaukukan pengorbanan untuk mereka. Poseidon mendapatkan Pulau Atlantis, tempat ia menghasilkan keturunan dengan seorang wanita biasa.

Poseidon kemudian menjadi dewa tempat itu. Ia tidak memilki kesulitan untuk menetapkan aturan bagi pulau tersebut. Dari dasar bumi muncul dua jenis mata air. Satu mata air hangat, satu lagi dingin. Segala jenis tumbuhan untuk berbagai makanan tumbuh subur di atas pulau. Ia mendapatkan lima pasang orang anak laki-laki dari Cleito. Kemudian ia membagi Pulau Atlantis menjadi sepuluh bagian. Untuk putra sulungnya, ia memberikan tanah kelahiran Cleito dan daerah sekitarnya yang merupakan wilayah terluas dan terbaik. Putra sulung ia tetapkan sebagai raja di antara saudara-saudaranya yang diang diangkat sebagai pangeran. Mereka masing-masing mendapat daerah yang luas dan memerintah banyak orang.

Ia memberikan nama untuk tiap putranya. Putera tertua yang menjadi raja pertama ia beri nama Atlas. Sejak itu seluruh pulau dan lautan yang mengitarinya disebut dengan Atlantik.Kelak keturunan mereka selama sekian generasi adalah penguasa dari penduduk yang berdiam di pulau-pulau dengan laut terbuka. Dan seperti yang sudah aku ceritakan, kekuasaan mereka telah menggetarkan sunia sampai dengan pillar hingga sejauh Mesir dan Tyrhenia.

Di pulau tersebut kayu sangat melimpah ruah untuk diolah oleh tukang kayu. Juga cukup untuk dijadikan perlengkapan guna memelihara hewan ternak dan berburu hewan liar.

Lebih dari itu, terdapat banyak gajah di sana. Mereka berbagi tempat dan makanan dengan hewan-hewan lainnya, baik hewan yang hidup di sungai dan danau maupun hewan yang hidup di gunung dan dataran tinggi. Termasuk juga dengan hewan-hewan paling besar dan buas di antara mereka.

Akar, kayu dan buah-buahan yang intisarinya menghasilkan bau yang wangi terdapat melimpah di pulau itu. Buah-buahan yang sengaja ditanam bisa dibedakan dua jenis. Pertama adalah buah kering yang dijadikan sebagai makanan. Kedua adalah buah-buahan dengan kulit keras. Digunakan sebagai minuman dan obat penyakit kulit. Sementara, buah sarangan dan sejenisnya memberikan kesenangan dan hiburan. Buah-buahan yang telah disimpan bisa digunakan sebagai hidangan penutup setelah makan malam, setelah puas menikmati segala jenis makanan di pulau ini. Usai semua itu, tibalah saatnya untuk menikmati cahaya matahari yang melimpah ruah secara menakjubkan.

Pemerintahan militer berlaku di kota kerajaan. Sementara di sembilan kotalainnya bervariasi. Mengenai jabatan dan penghormatan, pada awalnya diatur sebagai berikut. Tiap raja dari sepuluh raja pada wilayah mereka masing-masing memiliki kekuasaan yang absolute terhadap rakyat. Pada beberapa kasus, di luar hukum, mereka menghukum dan membunuh siapa saja.

Sekarang dibuat hukum dan ketentuan yang lebih tinggi atas mereka. Dan hubungan timbal balik antara mereka diatur oleh Poseidon yang menguasai setiap hukum dan ketentuan. Semua ini dituliskan oleh raja pertama pada Pillar Orichalcum yang terletak di tengah-tengah pulau pada kuil Poseidon. Tempat para raja berkumpul setiap enam tahun sekali. Memberi pengormatan yang sama untuk urutan ganjil dan genap.

Ketika mereka berkumpul mereka mendiskusikan tentang keinginan mereka masing-masing. Saling menanyakan siapa di antara mereka yang telah melanggar segala sesuatunya kemudian memberikan pertimbangan dan keputusan.

Pada Pillar, selain undang-undang, juga terdapat tulisan sumpah untuk kutukan hebat bagi yang melanggar. Menghukum siapa saja di antara mereka yang telah melanggar janji mereka. Dan sebisa-bisanya, pada masa yang akan datang, mereka tidak akan melakukan kesalahan terhadap apa yang telah tertulis pada Pillar. Tidak akan memberi perintah atau menerima perintah dari siapa saja untuk melanggarnya. Mereka akan bertindak sesuai dengan hukum-hukum yang ditetapkan oleh ayah mereka, Poseidon.

Terdapat banyak hukum dan ketentuan tertulis pada kuil yang mempengaruhi raja. Tetapi, yang terpenting di antaranya adalah mereka tidak akan berperang satu sama lain. Dan mereka akan saling membantu bila salah seorang di antara mereka hendak dijatuhkan. Seperti nenek moyang mereka, mereka akan bersama-sama dalam menghadapi perang dan berbagai masalah lainnya. Memberi kekuasaan tertinggi untuk keturunan Atlas.

Dan para raja tidak memilki kekuasaan atas hidup dan matinya rakyat, kecuali ia mendapat persetujuan mayoritas dari sepuluh orang raja. Itu adalah kekuasaan sangat besar yang diberikan oleh dewa pada pulau yang hilang, Atlantis.

Selama sekian generasi, segala sifat kedewaan bertahan pada mereka. Mereka patuh pada hukum-hukum dengan penuh perasaan cinta pada dewa yang telah menciptakan mereka, untuk setiap kebenaran yang mereka miliki dan jalan untuk ruh agung. Bersatu dengan segenap kebajikan dalam hidup. Mereka mengenyampingkan semua hal kecuali kebaikan. Menerima sedikit untuk kehidupan mereka dan tidak terlalu memikirkan kepemilikan terhadap emas dan barang-barang lainnya yang mereka lihat kelak akan terkubur. Mereka juga tidak dimabukkan oleh kemewahan. Kekayaan juga tidak mencabut kontrol mereka atas diri sendiri. Tetapi, mereka adalah orang-orang yang bijak dan melihat dengan jelas bahwa kenikmatan dari benda-benda itu bisa didapatkan dalam kebaikan dan persahabatan. Walaupun mereka telah tiada, tetapi persahabatan selalu ada di antara mereka.

Masa berganti, kualitas hidup mereka meningkat tetapi sifat kedewaan mereka mulai pudar. Sifat itu semakin tipis dan mulai bercampur-baur dengan kekerasan. Sifat dasar manusia telah di angkat dari mereka. Mereka kemudian tidak lagi mendapatkan keberuntungan. Mereka tidak lagi berjalan bersama dan saling memandang secara sederajat. Mereka telah kehilangan rasa adil sebagai hadiah berharga bagi mereka. Tetapi bagi mereka yang tidak mampu melihat kegembiraan yang sesungguhnya, mereka merasa menang dan diberkati setiap kali mereka menunjukkan ketamakan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Atlantis umumnya dianggap sebagai mitos yang dibuat oleh Plato untuk mengilustrasikan teori politik. Meskipun fungsi cerita Atlantis terlihat jelas oleh kebanyakan ahli, mereka memperdebatkan apakah dan seberapa banyak catatan Plato diilhami oleh tradisi yang lebih tua. Beberapa ahli mengatakan bahwa Plato menggambarkan kejadian yang telah berlalu, seperti letusan Thera atau perang Troya, sementara lainnya menyatakan bahwa ia terinspirasi dari peristiwa kontemporer seperti hancurnya Helike tahun 373 SM atau gagalnya invasi Athena ke Sisilia tahun 415-413 SM.

Masyarakat sering membicarakan keberadaan Atlantis selama Era Klasik, namun umumnya tidak mempercayainya dan kadang-kadang menjadikannya bahan lelucon. Kisah Atlantis kurang diketahui pada Abad Pertengahan, namun, pada era modern, cerita mengenai Atlantis ditemukan kembali. Deskripsi Plato menginspirasikan karya-karya penulis zaman Renaissance, seperti “New Atlantis” karya Francis Bacon. Atlantis juga memengaruhi literatur modern, dari fiksi ilmiah hingga buku komik dan film. Namanya telah menjadi pameo untuk semua peradaban prasejarah yang maju (dan hilang).


Advertisements