GPIR 2011 – Membuka mata dunia


Beberapa hari diawal bulan maret 2011 ini saya bersama teman-teman di Sagasitas Community punya gawe melatih dan menyiapakan teman-teman dari SMA untuk ajang kompetisi penelitian tingkat nasional maupun internasional. Kegiatan yang kemudian dinamai “Gladi Penelitian Ilmiah Remaja” DIY tahun 2011 di adakan di wisma PSBB MAN 3 Yogyakarta. GPIR merupakan sebuah kegiatan rutin untuk pembinaan peneliti remaja DIY. Dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 3  – 6 maret 2011. Selamat menikmati.

Tua raganya tapi tidak dengan jiwanya, kurang lebih cocok dengan narasumber hari pertama ini. Ibu Monica, Bu Sri, Bapak Hasroel dan Bapak Sulung merupakan narasumber yang benar-benar tahu harus bagaimana di depan anak-anak SMA. Setalah diberitahu tentang event internasional dan peluangnya untuk ambil bagian di dalamnya oleh bu Monica, dilanjutkan oleh ibu Sri menjelaskan tentang tips dan trik nya untuk lolos dan tampil memikat.

haha… penulisan laporan terkendala oleh fisik yang tak lagi menerima tenaganya dieksploitasi. Istirahat total selama seminggu menjadi pilihan sekaligus kewajiban, sekali keluar, mas kamu berjenggot sekarang?, hmmm menyadarkan akan ketidak terurusan selama seminggu dengan tidak beranjak dari kamar kos.

GPIR atau Gladi penelitian ilmiah remaja merupakan sebuah agenda rutin DIKPORA DIY, terhitungan sudah dilaksankan 3 kali (mohon koreksi kalau saya salah ingat) sejak dicetuskan. Awalnya adalah kemah ilmiah, namun karena kemah sudah lebih dahulu terkesan dengan tenda dan masak – masak sendiri akhirnya kata kemah diganti dengan gladi. Pada tahun 2011 ini merupakan yang ketiga kalinya dilaksanakan. Setiap tahunnya memang demikian mas, GPIR memang ditujukan untuk membina siswa – siswa yang tertarik dengan dunia penelitian. Jogja yang notabene sebagi kota pelajar (termasuk mbantul, kulon progo, gunung kidul dan sleman pastinya) memang tidak kurang peminat untuk yang satu ini. Panitia terpakasa melakukan pemilihan, walaupun hal ini tidak menentukan karya siapa yang paling bagus, namun hal ini tidak lain karena keterbatasan tempat dan kemampuan pembinaan.

Untuk GPIR kali ini hanya sanggup menampung 80 an siswa saja, ada sekitar 120an lebih karya yang sebelumnya memang sudah diproyeksikan dan dibina di tahap awal yang kita pantau mas, namun hanya 80 yang bisa kita ikut sertakan dalam GPIR, ungkap salah satu panitia .

Pembukaan acara dimulai pada tanggal 3 bertempat di aula DIKPORA, acara dibuka langsung oleh kepala dinas. Dalam sambutannya kepala dinas menyatakan bahwa pendidikan bukan hanya diukur oleh kemampuan siswa mengerjakan soal dan nilai ujian akhir saja. Pendidikan adalah sebuah proses transfer ilmu dan aplikasinya dalam kehidupan sehari – hari, oleh karena itu penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam proses pendidikan. Bangsa ini dapat maju kalau penelitiannya juga sudah maju, jangan mimpi deh bisa maju kalau tidak ada yang mau melakukan penelitian, kata gampangnya mungkin demikian yang ingin disampaikan oleh kepala dinas waktu itu.

Tepuk tangan buat anda para peneliti dan calon peneliti Indonesia. Bangsa ini akan maju karena anda!!

Acara yang digawangi oleh tim dari Jurnal Ilmiah Sagasitas ini terbilang cukup sukses. Rangkaian acara demi acara berjalan dengan cukup menyenangkan, karena memang itu yang ingin disampaikan kepada teman-teman dari SMA, peneliti tidak harus kental dengan kesan serius dan tidak bisa bermaian. Disini kita bisa melihat para calon peneliti indonesia ini serus dan bercanda. Bernyanyi sekuat tenaga bahkan mengungkapkan cinta dengan caranya. Acara yang luar biasa, pastinya banyak yang kangen dengan suasan seperti ini.

Pembicara dan peserta menyatu, membuat proses transfer informasi dan ilmu berjalan begitu alami. Para pakar yang sudah menggeluti dunia penelitian seumur hidupnya juga merasa terhibur dengan suasana seperti ini. Santai namun target tetap tercapai. Tidak kurang dari 80 karya hasil penelitian dalam berbagai bidang keilmuan siap dilakukan, bahkan ada beberapa diantarnya hanya tinggal menyempurnakan saja.

Kalau sudah begini, kita bisa membuka mata dunia, tunjukan pada semua kalau anak – anak jogja memang istimewa dan Indonesia juga.

Indonesia adalah negara dengan berjuta potensi, begitulah kira – kira yang sering orang katakan untuk membuat kita bangga lahir di bumi pertiwi. Namun, sebanrnya kata seperti itu adalah sebuah alarm peringatan dini, bahawa kita bisa saja tidak tahu dengan potensi yang dimiliki dan akhrinya orang yang tahu dari negara lain yang memanfaatkannya. Oleh karena itu, hari terakhir acara GPIR adalah jalan – jalan, ke lab geospasial di pantai depok dan kemudian dilanjutkan ke pantai gelagah untuk melihat potensi pasir besi dan pastinya pantainya juga.

Duta sagasitas 2011 dengan julukuan SAGASILAY in action

Pantai gelagah, eh pantai apa si ini ? - more fun with ... bla bla bla

Advertisements