Lupakan saja lapindo


Bagi siapapun pastinya akan sangat susah melupakan sebuah peristiwa besar yang terjadi dijawa timur, ya tepatnya di porong sidoarjo. Sebuah pengeboran berujung bencana bagi semua penduduk yang ada disekitarnya. Lebih dari 800 hektar kawasan Porong menjadi genangan lumpur, lebih dari 10.000 rumah dan 300 hektar sawah terendam, dan 500 hektar sawah lainnya rusak. Sementara itu, 7.000 hektar tambak tercemar, 87 pabrik hancur, 14 nyawa melayang akibat ledakan pipa gas, 5 jiwa tewas akibat mengirup gas dan masih banyak lagi yang lain.

Pada 29 Mei nanti, tepat 5 tahun semburan lumpur Lapindo. Jangan tanya berapa kerugian yang diderita? dan ingat, jangan tanya juga siapa yang paling dirugikan? semua terlihat jelas didepan mata, tak perlulah sarjana yang menilainya, karena (mohon maaf) penggembala juga tahu jawabannya. Tidak perlu juga perhitungan rumit dengan jalan berbelit untuk mengganti kerugian. Masyarakat tidak mungkin mampu untuk menunggu. Lumpur telah menjadikan tercipta banyak kuburan bagi banyak harapan orang tua dan anak – anak disana. Ada yang peduli? saya yakin banyak.

Lapindo dari atas

Hanya sedikit ilustrasi yang dapat menggambarkan bagaimana sebuah peristiwa terjadi dan mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan. Orang – orang hanya dapat menunggu janji yang tak pernah ingin ditepati oleh pembuatnya. Kasihan, nasib mereka yang hanya menerima penderitaan. Semoga Tuhan memberikan kekuatan.

Ini hanya sebuah kasus semburan lumpur biasa, sebuah bencana yang tidak bisa diduga kedtangannya oleh manusia. Harus diterima dengan lapang dada, ya begitulah kira – kira mereka mennghibur diri. Bukan dengan goyang seperti di kampanye, bukan juga dengan lantunan merdu biduan saweran. Mereka menghibur diri dengan sesuatu yang telah membuat mereka menderita. Hasilnya? ajaib  – mereka diam, seperti dinina bobokan oleh keluhan, rintihan pun tak lagi terdengar, suara mereka habis oleh tangis yang tak pernah akan habis.

Lapindo yang nyembur terus

Jangan hitung kerugian yang diderita, lupakan saja lapindo. Mengingatnya hanya akan menambah luka semakin mendalam tentang perenggutan sebuah harapan. Penegasan kekuatan bangsawan atas kaum pedesaan. Menyesakan? ah tergantung juga, dari sudut pandang mana kita memandang dan menilai. Ingat, ini hanya cobaan, bencana yang tidak bisa diduga kedatangannya. Tapi tolong jangan bawa – bawa nama Tuhan, apalagi mengatakan bahwa Tuhan sedang marah dan menguji ummatnya. Semua juga tahu itu konyol, sebuah pengalihan yang sengaja dibuat tidak masuk akal.

Apa lagi yang anda ketahui tentang kasus Lapindo?/ /Apakah kasus Lapindo hanya sekedar persoalan semburan lumpur? Apakah persolan lumpur Lapindo hanya sekedar persoalan jual beli aset korban lumpur?//Adakah pelanggaran HAM dalam kasus Lapindo?/ /Adakah praktik penyalahgunaan kekuasaan dalam kasus Lapindo?/ /Adakah praktik korupsi dalam kasus Lapindo?

Simpan semua pertanyaan tersebut, jangan sekali kali mencari jawaban yang sudah pasti itu. Semuanya sudah terjawab, semuanya sudah terbukti. Tidak harus kita, manusia yang membuktikannya. Biarlah alam yang menjadi saksi atas keserakahan manusia. Gandhi juga bilang “bumi selalu sanggup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi itu semua tidak akan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan”. Ini sebuah bencana, wajar jika ada korban. Tanah dan rumah mereka adalah bentuk korbannya. Kami telah berusaha, silahkan kalian bantu kami dengan bekerjasama dan berdo’a. Pikir penguasa, simpel.

 

Advertisements