OI oi oi oi


Ketika pertama kali menginjakan kaki di OI – matahari sudah tenggelam, kesan gelap lah yang menyambut. Berharap itu hanya sebuah delusi mata semata. Malam pun berlanjut untuk kemudian akan berganti dengan siang yang menyenangkan. Sengatan terik matahari yang membuat keringat mengucur dan berbagai macam makanan dengan menu – menu khas pedasnya.

Sumatera memang bukan jawa, itu hal pertama yang harus dipahami oleh seorang yang selama hidupnya dihabiskan dilingkungan yang njawani. Jangan harap mendapatkan hal yang sama disuatu tempat yang berbeda adalah hal kedua yang perlu dimengerti. Orang bilang lain ladang lain belalang, orang oi (ogan ilir) memastikan hal tersebut.

Jangan kaget, ketika berbicara dengan orang asli disni, mereka memiliki tenaga lebih untuk memastikan lawan bicaranya mendengar dengan jelas. Keras bicaranya. Kota yang terletak di selatan palembang ini, berjarak sekita 1,5 jam dari bandara dengan menggunakan mobil. Di kota ini pula berdiri Unsri (universitas sriwijaya). Jadi jangan bingung, semua fasilitas yang berhubungan dengan kampus pasti bisa didapat disini, walapun harus agak berjuang mencarinya.

Kendaraan umum yang ada disni ada dua jenis yang sering digunakan. Yang pertama adalah Angkot, mungkin semuanya juga udah tahu bentuknya, yang pasti warnanya juga kuning dan tarif Rp.2.000 jauh dekat. Selain itu juga ada Bentor (becak motor) gabungan anatar becak dan motor dengan tarif Rp.5000 jauh dekat juga, cuma kadang Rp.10.000 kalau agak jauh.

Bagi pendatang baru, mungkin ketika pertama kali datang dan mencari penginapan akan ditunjukan ke hotel tribika, ya hotel itu yang tempatnya paling strategis. Persis dipersimpangan jalan jalur timur dan barat sumatera. Tarifnya juga sangat terjangkau. Tapi bagi yang mau tinggal agak lama, mungkis kos menjadi pilihan yang bijak. Banyak sekali kos – kosan yang bisa dijadikan tempat tinggal disini, maklum ni kan daerah kampus. Mulai dari daerah tribika tadi sampai dekat Kampus unsri ada kos-kosan. Pilih yang bulanan saja, setahu saya daerah timbangan banyak (masih deket dari H. Tribika).

Akses internet bisa dilakukan diwarent, dan yang bawa modem jangan khawtir didaerah Indralaya dan sekita kampus ini ada jaringan CDMA dan GSM. Saya tadi sempet ragu dengan Smart, eh disini lancar juga ternyata, dan gsm gitu pula. Tapi kalau daerah yang lebih jauh dari kota indralaya, maka kita masih harus puas hanya dengan jaringan gsm dan khusu gprs/edge saja, yah cukuplah! lumayan.

Apalagi yah tentang OI, itu dulu deh, semua foto akan masuk kemudian hari setelah saya kembali kedaerah kota. Kebetulan ini ada diaerah Muara Kuang, salah satu kecamatan dibagian selatan sumatera selatan. Agak masuk – masuk ke daerah yang lebih dalam, berjarak 2.5 jam dari indralaya.

Harus ada sedikit perjuangan untuk tinggal disini.

Transportasi yang cocok

Medannya emang paling cocok buat off road… seru penuh tantangan. Ngga nyesel deh pokoknya datang ke muara kuang ini. Jalan menuju tempat ini juga bearada disepanjang sungai, serasa susur sungai aja. Cuma kalau nyari warung makan ya harus agak sabar 😀

Advertisements