Lari…


Jangan lari… kau masih ingat pernah melarangku berlari. Bahkan diatas pasir pun kau tetap melarangnya, padahal aku ingin dan sangat ingin mencobanya. Berlari seperti yang lain. Lalu tangan kananmu meraih kepalaku dan mengusap rambutku dengan pelan, lirih katamu membisikan kalimat yang selalu kau ulang setiap kali aku ingin berlari. Apa susahnya berlari, apa salahnya berlari, dan apa apa apa apa yang lain kau selalu membuat kalimat tanyaku menjadi retoris. Aku bosan keluhku. Nafas panjang kau ambil dan kembali berbisik “tidak… tidak, kamu tidak bosan, kamu hanya perlu mencoba menemukan apa yang kamu sukai dari sekelilingmu. Ingat ya, kamu tidak perlu kemana-mana, karena disini semuanya ada.

Aku sangat bingung dengan kalimat terakhirmu, aku tidak melihat apapun yang aku sukai disekelilingku. Hanya ada ruangan luas dengan tembok-tembok karang yang mengekang, mengekang kebebasan pandangan. Menyempitkan pandangan. Aku tidak menemukannya.“betapa sulitnya menikmati angkasa luas tak terperi tanpa merasa ngeri, setelah sekian lama engkau tersekap dalam kotak sabun di mana engkau terantuk setiap kali bergerak”.

Aku hanya ingin bebas, kamu pasti bebas… abstrak tapi kau selalu mengatakannya dengan intonasi suara yang meyakinkan. Aku juga kadang menirukan suarumu mengatakan “kau pasti bebas”. Tapi tidak pernah merasa yakin seyakin kau mengatakannya. Atau kata itu hanya cocok untuk kau ucapkan, tidak yang lain?. Mungkin ini menjadi pertanyaan terakhirku untukmu. Mungkin kau benar-benar memanfaatkan waktumu ketika menjadi pembantu presiden ke-satu dulu.

Advertisements