Oleh – oleh


Jangan diam, beranjaklah dari tempat duduk itu. Dalam hati. Sebelum tepukan tangan dipundak yang menyadarkanku dari lamunan. Silahkan duduk, sambutku mencoba tidak gugup. Mudah-mudahan kau tidak melihatnya, kegugupan yang kusembunyikan.
Kaupun mulai bercerita tentang apa yang membuat kita harus bertemu. Setelah sekian lama terpisah oleh perbedaan kepentingan yang kita miliki masing. Selama itu pula kita tidak pernah berkomunikasi dengan cara apapun. Kalaupun ada yang percaya telepati, sesekali memang aku merasa berada begitu dekat.
Semuanya seperti mimpi, kau sudah berubah dalam segala hal. Aku dulu sangat ingat, kau masih belum pandai dalam menggunakan riasana wajah. Walaupun kau tetap cantik, jujur kuakui, tapi keringat itu nyata dan itu… Ahhhh kini kau sudah menggunakan produk kecantikan dengan sempurna. Balutan jeans yang lengket sudah kau tanggalkan? Sejak kapan? Aku pikir pertanyaan itu tidak perlu diucapkan. Karena kini kau seperti racun yang membekukan aliran darah dalam sekejap. Menghipnotis bola mata sehingga tidak berkedip, kagum.
Kau kah itu… Aku sangat menantikan momen pertemuan ini. Aku memang tidak pernah berharap, karena harapan itu justru akan menyiksaku. Tapi kini kau datang menemuiku dengan kesempurnaan yang sama sekali tidak ada celah yang mengecewakan.
Sikapmu anggun, tingkahmu luhur, gerakmu lembut… Aku sangat kaget, ketika kau tiba-tiba mengeluarkan sebungkus rokok dan korek gas. Banjir pertanyaan dalam benak menghanyutkan suaramu, apa, apa, apa? Sory… Pelan: Ini untuk kamu… Masih ngerokok kan?! Iya masih.. Oleh-oleh????

Advertisements