Hanya Syarat


Hanya sedikit waktu yang mungkin benar-benar bisa kita luangkan untuk menikmati, mungkin yang disebut kebersamaa. Entah itu berkualitas atau ngga, yang pasti aku selalu mencoba untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Kebersamaan, esensinya memang penundaan dari semua perpisahan. Aku coba pahami kata bijak itu berulangkali dalam renungan-renungan tak terhindarkan dalam kamar mandi. Agar aku kelak siap dengan semua kejadian yang mungkin tidak diharapkan.
Semuanya untuk satu pertanyaan yang mau tidak mau harus disampaikan. Sebuah pertanyaan yang butuh jawaban, atau mungkin sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Karena semua ini hanya sebuah syarat saja. Bukan untuk dijadikan ikrar atau apalagi sebuah undang-undang yang mengikat. Hanya untuk diketahui kemudian mungkin sebaiknya dilupakan. Sudah sejak lama aku menunggu waktu yang tepat yang tak kunjung datang. Sampai akhirnya aku tau semua waktu itu tidak tepat dan juga semua waktu bisa tepat. Hanya butuh syarat, untuk menyampaikan syarat ini. Keberenian dan niat.
Aku punya banyak opsi pilihan jawab yang sebenarnya bisa dipilih. Namun tidak akan pernah kusampaikan. Karena ini bukan ujian, dengan multiple choice agar kamu lulus. Ini hanya sebuah pertanyaan. Pertanyaan biasa dalam hidup. Jawaban tidak terlalu menentukan. Lagi pula jawaban itu dinamis, bisa berubah sesuai dengan perkembangan dan pandangan kita dalam suatu waktu.
Seperti dalam sebuah quis, untuk sampai kepertanyaan terakhir, harus terlebih dahulu melewati pertanyaan lain. Begitulah pertanyaan, yang terbentuk dari pertanyaan lainnya. Selama seperti itu. Ada atau tidak adanya jawaban, pertanyaan bisa terus melahirkan pertanyaan.
Sebenarnya aku hanya ingin bertanya, apakah aku boleh bertanya?

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements