SHANGRI- LA (the hidden city)


Berlatar belakang datar tinggi Tibet yang menjadi ibu kota dunia sihir dunia, ken menyelipkan peristiwa-peristiwa kontemporer dalam negeri. Tidak lepas dari masalah politik dan intrik. Ken dengan sangat luwes menjelaskannya dalam bentuk fiksi yang enak dibaca. Dengan alur yang mengalir, ceritanya sangat enak untuk dibaca.

Membaca seperti tidak membaca buku fiksi. Ceritanya kayak sekali akan makna, baik itu yang terlukiskan melalu tokoh-tokoh yang berasalah dari berbagai macam etnis dan suku bangsa dengan bahasa yang berbeda maupun dari ceritanya itu sendiri.

7 orang anak berusia 13 tahun dilatih oleh orang terbaik untuk menyelamatkan dunia. Ternyata tidak dibuthkan 530 manusia dewasa dengan pangkat dan pendidikan yang tinggi. Melainkan anak-anak yang serius dan berpikiran murni dunia ini bisa diselamatkan.

Keragaman suku bangsa dan bahasa ternyata tidak menjadi penghambat mereka berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan ditemukanya sebuah ramuan ajaib yang memberikan efek permanen bagi pengonsuminya dapat mengerti bahasa yang berbeda-beda. Seperti dalam sumpah pemuda 28 oktober, tidak butuh undang-undang yang dirumuskan dalam pasal-pasal mahal karena dibuat berdasarkan jam kerja orang berdasi. Hanya dalam beberapa butir yang benar-benar dipahami dan disepakti, persatuan terwujud dan kekuatan terbentuk.

Sesuatu yang sederhana kadang mencakup segalanya.

Ken juga menyisipkan isu feminism dalam pertempuran pesihir ini, ini entah ide dari mana, mungkin dari “ayam” betinanya. Peraturan yang sudah lama sekali dibuat dan dianggap mapan, sehingga menjadi sesuatu yang tabu kalau terdapat sesuatu yang baru. Dunia sihir yang selama ini dikuasai oleh kaum pria harus rela menerima dengan tangan terbuka bahwa ternyata wanita juga ada yang memiliki kuasa melebihinya. Ini kenyataan, pemimpin tidak harus laki-laki.

Dalam rahasia sihir dan angka 13, akhirnya Francine siswi magang para perantas shangrila berhasil mengalalahkan preteanu, pembangkang yang selama ini diburu. 7 perantas dan 7 muridnya pulang dengan kepala tegak, riuh gemuruh tepuk tangan menyambut mereka di ibukota para penyihir: Shangrila. Pesta pun digelar, aneka makanan berkelas dan minuman para raja senagaja disiapkan sendiri oleh para grandmaster. Sementara di belahan dunia lain, tertua putih dan hitam, mengikuti majikannya.

Masih ada rahasia sharila dan kematian setelah ini, mudah2an saya dikirimi juga.

Pesan ken: ditengah realitas yang tak kenal kompromi, dunia fantasi adalah tempat kita berehat sejenak sebelum kita melanjutkan perjuangan.

Advertisements