Rezim Entertainmetn


Saya membayangkan sebuah auditorium besar di Hollywood sana, mungkin ruangan yang sama dengan tempat penganugerahan Academy dan Grammy Award. Disorot oleh jutaan watt cahaya, ia berdiri dengan santun, dingin dan bersahaja menerima sebuah penghargaan. Bukan Nobel perdamaian tetapi mungkin MTV Music Award. Maka disini kita akan melakukan arak-arakan melebihi kegembiraan menyambut lebaran. Penghargaan itu akan membungkam gosip-gosip seputar perceraian, pernikahan atau tentang artis-artis yang kehamilannya mencuri start dari ijab kabul.

Khayalan itu datang setelah menyaksikan bagaimana salah satu lagu beliau dapat memukau ketika dinyanyikan dalam acara pembukaan pesta olahraga sea games di palembang beberapa waktu lalu. Memang sudah sejak dulu, presiden kita ini memiliki bakat terpendam dan nampaknya sudah tidak lagi dapat ia bendung. Meledak menjadi sebua album dan kemudian  menjadi sebuah album lagi. Tidak maen-maen, albumnya bahkan diluncurkan diluar negeri dan pada saat yang sangat tepat, ketika papua bergejolak.

Khayalan ini datang begitu saja sejak saat itu, bahkan sebelum album-album ini meledak di pasar, peluncurannya saja sudah menimbulakan decak kagum. Bagaimana tidak, di tengah kekisruhan ekonomi dan politik, bencana sana sini, kejahatan yang merajalela dan kemiskinan yang tidak kunjung menemukan solusi kecuali bunuh diri, presiden masih punya cukup waktu untuk menyumbangkan suara emasnya. Mungkin inilah salah satu solusi dari permasalahan bangsa ini. Sebuah suara; alunan nadanya mungkin melenakan para tikus yang tengah menggerogoti uang negara, meninabobokan orang-orang yang kelaparan, menjadi nafas yang memburu pelaku kejahatan dan membungkam gosip seputar rumah tangga Ahmad Dhani atau iri dengki beberapa penyanyi terhadap kesuksesan para boy band.

Bila album itu dikomersilkan dan dilempar ke pasar, tidak diragukan lagi album itu akan meledak. Kesuksesan ini jelas bisa terbaca karena beberapa kondisi. Pertama, presiden kita adalah tokoh paling populer di se-antero Nusantara. Popularitas itulah kunci dari semua pintu kesuksesan dalam ranah hiburan tanah air. Kedua, karena penyanyinya adalah seorang presiden. Ini sisi nyentrik yang akan menarik minat para penikmat musik.

Di tengah aroganisme pemimpin banyak negara, ia tampil dengan suara emas. Suara emas tentu tidak menyimpan dosa. Jauh mengangkangi kediktatoran presiden Bush terhadap dunia atau kediktatoran Tan Shwee di Myanmar sana. Ketiga, karena memang suara presiden sendiri enak didengar. Inilah sisi objektif yang sulit dilawan dengan pretensi. Dan terakhir, apabila ada orang yang mengatakan suara presiden jelek dan tidak mau membeli rekamannya, tentu ia bisa dipidana dengan pasal karet; penghinaan terhadap presiden. Yang terakhir ini semoga tidak terjadi, sebab UU yang memuat pasal penghinaan itu katanya telah digugurkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Karir baru presiden ini mesti kita dukung dengan segenap hati. Ada harapan di balik hati sanubari. Pada tahun-tahun nanti, presiden kita ini akan menghiasi panggung hiburan tanah air dan bukan panggung Politik lagi. Ia akan menertawakan elit-elit tua yang masih bertarung memperebutkan kursi legislatif dan Presiden. ‘Evolusi’ merupakan hasil reinterpretasi dari lagu-lagu ciptaan SBY yakni ‘Ku Yakin Sampai di Sana’, ‘Rinduku Padamu’, hingga ‘Hening’.

Peluncuran album ‘Evolusi’ saat itu dikemas dalam sebuah konser mewah di ruang Cendrawasih, Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu (11/1/2009). Pada Senin (31/10/2011), Presiden meluncurkan album keempatnya di teater kecil, Taman Ismail Marzuki. Album yang bertajuk ‘Harmoni’ tersebut diisi oleh para penyanyi papan atas Indonesia seperti Agnes Monica, Afgan, dan Joy Tobing. Peluncuran album yang sekaligus buku proses kreatif penulisan lagu tersebut, tidak dihadiri oleh Presiden SBY. Sebab Presiden SBY dan rombongan waktu itu bertolak ke Prancis untuk memenuhi undangan UNESCO dan mengikuti KTT G20.

GOO INTERNASIONAL … … …

Advertisements