Kecepatan cahaya dan agama


Kesempatan untuk mengikuti macapat safaat, bersama cak nun sungguh merupakan sebuah kesempatan mendapatkan ilmu yang sangat luar biasa. Dengan nama yang sering berubah-ubah menyesuaikan tema, disana cak nun hanya menekankan untuk berbagai dalam jalan yang dianggap benar, kenapa begitu? karena hal itu sangat relatif, suatu hal yang menurut saya benar, bisa menurut orang lain salah dan sebaliknya. Jadi keterbukaan adalah hal yang ditawarkan dari sana. Bukan hanya diskusi tentang agama saja yang disampaikan, informasi, politik dan sains juga bisa menjadi topik kajian yang saling berkaitan dan menarik.

Ada sebuah pertanyaan, yang cukup menarik tentang hubungan ilmu dan agam. Dari salah seorang peserta yang berasalah dari salah satu universitas paling besar dijogja. Tentang fisika, lebih tepatnya tentang kecepatan cahaya. Pertanyaan tidak ditujukan langsung kepada cak nun melainkan kepada anaknya yang biasa dipanggil sabrang, alias noe (vokalis letto). Pada awalnya saya tidak begitu tertarik dengan pertanyaan itu, bahkan sejak awal ketika pertanyaan yang dituliskan dan dibacakan oleh sabrang saya sudah menebaknya “ingin melogiskan” mukjijat.

Penanaya sebenarnya hanya minta pendapat noe tentang adanya kemungkinan teori yang menyatakan bahwa ada kecepatan yang melebih cahaya. Singata kata, setelah noe mencoba melogiskan dan mencoba menjawab kepenasaran si penanya dengan logika juga. Bahwa suatu benda dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain bisa melalui sebuah garis linier (atau apapun itu lah) tapi kelihatan, dan juga bisa saja suatu benda di tempat A dapat tiba-tiba muncul di tempat B. Yang diperdebatkan adalah tentang teori einstein.

Sedikit pengetahuan saya:

“suatu teori dikatakan sebuah teori ketika sudah dapat membuktikan dengan kasat mata atau secara angka. Tidak jarang sebuah teori meruntuhkan teori lainnya. Di jerman sendiri pada era hitler, einstein tidak begitu dihargai: walaupun alasan yang saya tahu adalah karena ilmuwan tersebut adalah seorang yahud, tapi disana mereka lebih menghargai karya plank, dimana hal tersebut bersebrangan dengan einstein”

Lalu di akhir acara cak nun menjawab dengan sebuah pertanyaan: Apakah anda tahu siapa yang mengatakan kecepat tercepat adalah cahaya? manusia kan? kurang lebih seperti. Sebagau mana hukum dari sebuah ilmu atau teori tadi, ketika kita meyakini sebuah teori adalah seuatu yang benar dan maka itulah suatu kesalahan dalam ilmu. Gimana jadinya ketika kita menganggap teori copernicus itu benar, maka teori plato yang menyatakan bumi itu bulat tidak akan pernah diakaui ketika kita menganggap sebuah hasil dalam proses ilmu adalah simpulan paling akhir.

Sekarang kita akan meragukan dan menggantungkan kepercayaan mukjijat isra dan mi’raj dengan teori yang dibuat manusia, itu tidak bisa. Banyak sekali hal yang tidak dapat dijelaskan oleh logika. Disitulah iman diletakan. Menurut saya kita boleh mempercayai suatu teori, tapi meyakini kebenaran mutlak dari situ adalah keliru.

Advertisements