Masa depan euro?


krisssssBeberapa tahun yang lalu, kita sedang ramai membicarakan tentang gejolak revolusi yang terjadi di timur tengah dan di beberapa negara afrika. Tapi sebenarnya sejak tahun 2008 krisis sudah membayangi dunia dengan awan yang sangat gelap akibat hutang yang semakin besar. Amerika adalah negara adidaya pertama yang terkena bencana krisis global tersebut. Selanjutnya Jepang juga tidak luput dari masalah ini, bahkan diperparah dengan terjadinya tsunami yang memporak-porandakan sektor produksi khususnya pabrik-pabrik otomotif yang berada di daerah Miyagi dan Fukushima.

Eropa bersama dengan AS dan Jepang selama ini menjadi pasar tradisional dunia, dimana disanalah pusat uang berputar dan banyak negara menggantungkan nasib pada ketiga pasar tersebut. Sehingga ketika sesuatu terjadi dan mempengaruhi pasar ketiganya maka secara otomatis negara yang memiliki ketergantungan cukup besar seperti negara-negara persemakmuran dan timur tengah serta beberapa negara bagian di amerika juga akan merasakan dampaknya.

Setalah kedua negara terkena krisis ekonomi maka satatus krisis ekonmi global dipertegas dengan apa yang terjadi di Yunan yang kemudia merembet ke Italy dan Spanyol. Setelah menempuh beberapa alternatif penanganan masalah di Yunani belum juga teratasi, bahkan keadaan ini memaksa PM George Papandreou mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Yunani untuk memuluskan jalan bagi pemerintah koalisi baru. "Saya berharap keberuntungan bagi perdana menteri berikutnya," katanya dalam pidato televisi, Kamis 10 November 2011.

Yang terjadi di Italy pun tidak jauh berbeda, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi mengundurkan diri setelah undang-undang anggaran yang baru mendapat persetujuan parlemen, sekaligus memberi jalan bagi pemerintahan sementara untuk menyelamatkan negara itu dari krisis ekonomi. Berlusconi, yang telah berkuasa setelah tiga kali mengemban jabatan mengatakan hari Selasa bahwa dia akan mundur setelah anggota parlemen menyetujui sebuah paket reformasi ekonomi yang disetujui Eropa. Parlemen Italia menyepakati paket itu dalam sebuah pemungutan suara hari Sabtu.

Presiden Italia Giorgia Napolitano secara luas diperkirakan akan meminta bekas Komisaris Uni Eropa Mario Monti untuk memimpin pemerintahan transisi yang baru itu. Analis mengharapkan kehadiran Monti, ekonomis terpandang, bisa membawa ketenangan ketika Italia berjuang untuk mencegah krisis ekonomi yang disebabkan oleh utang pemerintah yang besar. Biaya pinjaman Italia telah mencapai tingkat paling tinggi sejak negara itu bergabung dengan zona mata uang Euro dan kini mendekati tingkat 7 persen yang membuat Irlandia, Portugal dan Yunani mencari dana talangan.

Krisis utang Eropa telah menjalar ke Spanyol dan Perancis, di mana kedua negara sekarang dipaksa membayar lebih tinggi untuk membiayai pemerintah mereka. Spanyol, ekonomi ke-4 terbesar Eropa, menjual hampir 5 milyar dolar obligasi pemerintah dengan suku bunga 7 persen. Angka suku bunga yang sama yang dicapai obligasi Yunani, Irlandia, dan Portugal yang memaksa ke-3 negara tersebut memohon dana talangan. Begitupun dengan obligasi pemerintah Perancis terjual dengan suku bunga lebih dari dua kali lipat suku bunga yang dibayar Jerman, walaupun kedua negara mempunyai peringkat kelayakan kredit tertinggi yang sama, yakni, AAA.

Pemerintah menjual obligasi kepada para penanam modal untuk memperoleh dana. Semakin tinggi suku bunga semakin tinggi pula biaya yang harus dibayar pemerintah kepada para pemegang obligasi ketika obligasi jatuh tempo atau harus dilunasi kembali. Karena para penanam modal atau pemegang obligasi khawatir akan penyebaran krisis utang Eropa, harga-harga saham jatuh hari Kamis di London, Paris, dan Frankfurt. Harga-harga saham Amerika juga turun tajam hari Kamis (17 Nvember 2011).

Nila mata uang euro sebagai mata uang tunggal eropa kini terus menurun, keberadaanya pun kini mulai terancam dan dipertanyakan kembali, apakah eruo akan bertahan?. Krisis yang melanda eropa diduga karena ketidak mampuan Yunani yang kemudian merembet ke beberapa negara lain. Namun para ekonom ternyata memiliki pendapar lain tentng hal ini, Yunani memang memberikan dampak, tapi sebenarnya ini tidak lepas dari penggunaan euro sebagai mata uang tunggal yang pada masa awalnya dianggap sebagai sebuah kesuksesan besar.

Eropa tidak bisa mengaku tidak pernah diperingatkan sebelumnya. Satu dekade sebelum euro diperkenalkan, kritikus dan banyak ekonom berpendapat bahwa sistem mata uang tunggal tidak cocok untuk semua, bahkan sebagian besar, negara Uni Eropa. Tidak pernah jelas juga Eropa membentuk apa yang ekonom sebut sebagai area mata uang optimal. Negara-negara mempunyai siklus bisnis dan tingkat fleksibilitas pendapatan berbeda. Artinya, suku bunga yang sesuai bagi satu negara belum tentu sesuai bagi negara lain.

Masalah ini seharusnya bisa diatasi jika zona euro mempunyai pemerintah sentral yang kuat dan mampu mencegah negara-negara anggota mengalami krisis akibat kebijakan moneter yang tidak tepat. Namun, hal ini tidak dilakukan. Jerman sebagai negara terbesar memegang suara terbesar memegang peran kunci dalam proses pemulihan ini, tentunya disusul dengan negara-negara besar lainnya. Pasar sudah mengalami shock, dan ini harus mendapat perhatian tersendiri untuk kembali mendapatkan kepercayaan. Jika negara-negara besar dapat di eropa dapat memberikan perannya secara maksimal untuk tujuan pemuliahan yang sama dan benar-benar dapat diberlakukan di semua negara maka euro aman. Namun jika masing-masing negara besar tersebut lebih mementingkan kepentingan dalam negerinya maka nama euro harus siap-siap menjadi kenangan.

Advertisements