Kesepian Kita


Entah dipaksa atau tidak, kita semua semakin dekat juga semakin jauh. Saya dan teman saya si U beda kampus, tapi sering bareng, karena satu kantor (dulu). Dan saya dengan teman saya si T tinggal di kota yang sama tapi jarang jumpa, karena beda kegiatan dan pekerjaan. Dalam kondisi yang seperti itu, semua orang akan lari pada keramaian, dan percakapan yang membuat mereka merasa ada, eksis dan itu juga sebenarnya hanya perasaan sementara.

Dunia jejaring dan dunia maya menjadi begitu padat dan tak pernah padam. Gadget berseliweran silih berganti memanjakan kebutuhan dunia yang makin kesepian. Dalam tarap itu, kapitalisme menjadi penghibur satu-satunya yang paling mengerti kebutuhan penontonnya atau penikmatnya.

Saya kesepian, kita kesepian, makanya kita senang dunia maya. Dunia nyata kita menjadi terlalu semu dan beku dengan target dan harian dan mingguan atau bulanan perusahaan. Modernitas memberikan batasan-batasan nilai yang menggiurkan untuk sebuah kompetisi dan ttantangan. Janji kebahagian mereka berikan dengan harga- harga yang diukur dengan nominal mata uang.

Wake up don’t u hide now, jangan bermimpi sambil terjaga. Saya benci dunia dalam kenyataan. Saya butuh dunia fantasi yang menyediakan ruang kemerdekaan berekspresi, keceriaan, dan perdamaian.

Dunia fantasi, harus menjadi favorit setelah dunia maya, suatu saat,

Advertisements