Eropa dan pengaruhnya dalam perekonomian global


Ketika kita membicarakan eropa, mau tidak mau kita akan membahas tentang system global yang sekarang hampir dipakai oleh semua Negara di dunia. Lebih jauh lagi, uni eropa sejak didirikan sampai sekarang memegang peranan penting dalam perkembangan, baik itu kearah yang baik maupun buruk pada akhirnya termasuk dalam bidang ekonomi. Bersama dengan Amerika dan Jepang, eropa merupakan pasar internasional yang menjadi pusat ekonomi dunia dalam beberapa puluh tahun kebelakang.

      Namun krisis global yang melanda, terutama apa yang terjadi di Yunani menyebabkan ekonomi eropa goyah. Orang yang dulunya selalu membicarakan masa depan perekonomian Cina dan India, tapi bagaimana dengan perekonomian Eropa lima tahun yang akan datang ? Akan menjadi lebih gampang menilai bahwa kini Eropa telah tamat, terutama di bidang ekonomi, politik, sosial, dan tren demografi yang saat ini tengah berlangsung. Belum lagi ditambah peristiwa di Prancis beberapa waktu lalu ketika satu juga warganya turun ke jalan memprotes kebijakan ‘kecil’ di sektor perburuhan. Tapi Eropa belum tamat, dan tidak akan tamat.

      Tapi memang tidak diragukan lagi bahwa selama 10 tahun belakangan ini kinerja perekonomian Eropa mulai pudar. Di saat sebagian besar kawasan maupun negara di dunia semakin kompetitif akibat desakan globalisasi, Eropa malah tidak menampakkan diri dan tidak turut serta di dalamnya. Pertimbangkan beberapa data statistik berikut ini. Selama 35 tahun terakhir, menurut riset dari Joel Kotkin dari The New America Foundation, perekonomian AS telah menciptakan 57 juta lapangan kerja baru. Sementara Eropa, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang hampir sama dengan AS hanya menciptakan lapangan kerja baru untuk empat juta orang dalam periode yang sama. Selain itu, tingkat pengangguran di Eropa berada di level 10 persen, atau dua kali lipat dari tingkat pengangguran di AS. Meski memang Eropa memiliki posisi yang kuat dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dana untuk riset dan pengembangan di Prancis, Jerman, dan Italia misalnya, lebih tinggi 50 persen dari dana riset dan pengembangan di AS. Sementara data dari demografi juga suram. Tiga negara tersebut semuanya mengalami penciutan populasi.

      Bisa jadi, terkait semua ini, benua Eropa sekarang sedang mengalami penderitaan akibat ‘bad mood’. Ada lagi riset dari poling Harris Interactive. Pertanyaan yang diajukan adalah ‘Seberapa puaskah Anda dengan hidup Anda?’ Hanya sekitar 18 persen warga Eropa dari tiga negara tersebut di atas menjawab ‘sangat puas’. Tapi bandingkan data ini dengan penduduk AS. Di negara Paman Sam, jumlah penduduk yang menjawab ‘sangat puas’ mencapai 57 persen.

      Setalah Amerika dan Eropa di landa krisis, maka kita layak mempertanyakan kembali bagaimana peran mereka sebenarnya dalam perekonomian global. Dr. Doom ahli ekonomi asala amerika menyebutkan bahwa Amerika, Jepang dan Eropa adalah pasar tradisonal, untuk itu ada deskripsi sebagai berikut: Setiap kali ekonomi negara maju yang sekaligus pusat pasar uang dunia mengalami masalah, keseimbangan ekonomi global terganggu. Ada beberapa faktor, pertama, hampir tidak ada produk ekspor yang dihasilkan secara tunggal oleh sebuah negara. Bahan baku dan komponen-komponen produk umumnya berasal dari beberapa negara karena secara alamiah, setiap negara memiliki keunggulan berbeda pada bahan baku, skala ekonomi dan spesialisasi produksi.

      Kedua, negara maju memiliki insentif untuk memindahkan beberapa produksi komponennya ke negara berkembang. Relokasi ini menurunkan biaya produksi di negara maju dan menciptakan lapangan kerja di negara berkembang. Perdagangan dan investasi telah menghubungkan negara maju dan berkembang.

      Ketiga, sektor keuangan memiliki hubungan dengan sektor riil karena salah satu fungsi uang adalah alat pembayaran. Dalam transaksi internasional, mata uang yang dipakai adalah mata uang negara maju sehingga devisa pun disimpan dalam bentuk mata uang tersebut.

      Oleh karena itu, ketika ekonomi negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa mengalami gangguan, di mana dolar Amerika Serikat dan euro terpengaruh, maka nilai tukar mata uang negara lain pun akan ikut terkoreksi. Pada saat yang sama biasanya juga terjadi gangguan jangka pendek pada pasar derivatif dan jangka menengah pada laju inflasi dan suku bunga domestik.

      Sebagai kompensasi ketika ada gangguan di sisi modal neraca pembayaran, setiap negara akan berusaha mengoptimalkan devisa dari perdagangan, yaitu ekspor dan impor. Pada sebuah versi data, sebelum krisis keuangan global 2008, World Trade Organization menampilkan proporsi ekspor hasil industri pada tujuh kawasan, yaitu Amerika Utara, Amerika Tengah-Selatan, Eropa, Afrika, Asia, Persemakmuran (CIS) dan Timur Tengah.

      Hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh kawasan saling terhubung dalam perdagangan global dengan tiga titik pusat yaitu Eropa, Asia dan Amerika Utara. Ada tiga alasan mengapa ketiga kawasan ini disebut titik pusat. Pertama, ketiga kawasan ini menguasai perdagangan dunia secara mayoritas sebesar 84,1% sementara sisa 15,9% dibagi ke dalam empat kawasan lainnya (Amerika Selatan dan Tengah, Persemakmuran, Afrika dan Timur Tengah).

      Kedua, ketiga kawasan ini relatif lebih mandiri karena lebih banyak berdagang dengan negara di kawasan mereka sendiri. Nilai ekspor Eropa ke Eropa mencapai 71,3%, Asia ke Asia sebesar 57,7% dan Amerika Utara ke Amerika Utara mencapai 38,4%. Sementara kawasan lain masih berada di bawah 35%.

      Ketiga, kawasan lain lebih banyak bergantung pada ketiga titik pusat tersebut. Amerika Selatan dan Tengah selain bergantung pada dirinya sendiri sebesar 29,5% juga bergantung pada Amerika Utara sebesar 28,4%. Sementara Persemakmuran, Afrika dan Timur Tengah lebih banyak bergantung pada Eropa dengan komposisi masing-masing 48,7%, 42,6% dan 33,8%.

      Dengan tiga alasan di atas terlihat bahwa ketika krisis ekonomi mengancam negara maju di Amerika Utara dan Eropa, maka selain kawasan mereka sendiri, kawasan lain yang ikut merasakan dampak langsung adalah kawasan yang lebih dari 50% perdagangannya bergantung pada Amerika Utara dan Eropa, yaitu Persemakmuran dan Afrika. Sementara dua kawasan lainnya yang cukup terganggu adalah Amerika Selatan dan Tengah serta Timur Tengah dengan nilai ketergantungan pada Amerika Utara dan Eropa masing-masing sebesar 46% dan 44,8%.

      Krisis utang Eropa telah menjalar ke Spanyol dan Perancis, di mana kedua negara sekarang dipaksa membayar lebih tinggi untuk membiayai pemerintah mereka. Spanyol, ekonomi ke-4 terbesar Eropa, menjual hampir 5 milyar dolar obligasi pemerintah hari Kamis dengan suku bunga 7 persen. Angka suku bunga yang sama yang dicapai obligasi Yunani, Irlandia, dan Portugal yang memaksa ke-3 negara tersebut memohon dana talangan.

      Juga hari Kamis, obligasi pemerintah Perancis terjual dengan suku bunga lebih dari dua kali lipat suku bunga yang dibayar Jerman, walaupun kedua negara mempunyai peringkat kelayakan kredit tertinggi yang sama, yakni, AAA. Pemerintah menjual obligasi kepada para penanam modal untuk memperoleh dana. Semakin tinggi suku bunga semakin tinggi pula biaya yang harus dibayar pemerintah kepada para pemegang obligasi ketika obligasi jatuh tempo atau harus dilunasi kembali.

      Karena para penanam modal atau pemegang obligasi khawatir akan penyebaran krisis utang Eropa, harga-harga saham jatuh hari Kamis di London, Paris, dan Frankfurt. Harga-harga saham Amerika juga turun tajam. Di Athena hari Kamis, para pemuda bertopeng melemparkan bom api terhadap polisi, yang membalas dengan gas air mata dan stun granat. Ini adalah demonstrasi besar pertama menentang pemerintahan koalisi baru Perdana Menteri Yunani Lucas Papademos. Pemerintahannya sedang berusaha untuk melakukan pemotongan anggaran, penghapusan pekerjaan dalam pemerintah, dan menaikkan pajak karena pemerintah berusaha menghindarkan kebangkrutan dengan kucuran kredit 11 milyar dolar dari dana talangan tahun lalu.

      Dari uraian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa eropa masih memiliki perna penting dalam perekonomian global, dimana mereka masih menjadi pasar bagi sebagian Negara. Adapun Negara yang berkembang seperti Indonesia dan umumnya yang berada di asia tenggara memiliki kekuatan untuk lebih dapat bertahan dalam kondisi krisi global yang sedang melanda ini, karena memiliki pasar dalam negeri dan kawasan yang tidak memiliki ketergantungan terhadap ke tiga pasar tradisional tersebut (AS, Eropa dan Jepang).

      Dalam peretemuan meneteri ekonomi APEC ke 18 dibahas juga tentang penanggulangan krisis ekonomi global dan khususnya tentang dampak krisis yang kini sedang melanda eropa. Dalam kesempatan itu pula menteri ekonomi amerika meminta asia untuk membantu perekonomian global. Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan AS,

      Timothy Geithner, usai pertemuan menteri negara anggota Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Amerika Serikat, seperti dikutip Reuters, Jumat, 11 November 2011. “Krisis yang terjadi di Eropa masih menjadi tantangan utama untuk pertumbuhan ekonomi global,” kata Geithner. Dalam pertemuan tersebut, AS dan sejumlah menteri keuangan dari negara Asia Pasifik sepakat untuk meningkatkan laju ekonomi dalam upaya memerangi persoalan krisis Eropa.

Sumber Refrensi:

Kepemimpinan IMF dan Peta Ekonomi-Politik Global. http://www.investor.co.id/home/kepemimpinan-imf-dan-peta-ekonomi-politik-global/12728. 02/12/2011

Uni eropa. http://id.wikipedia.org/wiki/Uni_Eropa. 02/12/2011

Politik Ekonomi Uni Eropa. http://kajianeropa.wordpress.com/?s=ekonomi. 02/12/2011

Krisis Mengubah Peta Ekonomi Dunia. http://republika.co.id:8080/koran/195/148539/Krisis_Mengubah_Peta_Ekonomi_Dunia. 02/12/2011

Krisis Utang Ubah Sistem Politik Ekonomi Global. file:///E:/i%20read/Uni%20Eropa/krisis-utang-ubah-sistem-politik-ekonomi-global.htm. 02/12/2011

Defisit Demokrasi Uni Eropa, Kritik. http://kajianeropa.wordpress.com/2011/10/17/defisit-demokrasi-uni-eropa-kritik/ . 02/12/2011

Negara dalam Penangggulangan Krisis. http://ideas-aceh.com/2011/11/30/negara-dalam-penangggulangan-krisis/. 02/12/2011

Advertisements