Gandhi, Sang Jiwa Agung


Mahatma Gandhi Pada saat menerima nobel perdamaian pada tahun 1964, Dr Martin Luther King, Jr mempersembahkan hadiahnya tersebut untuk sang guru yang ia tidak pernah temui, Mahatma Gandhi. Wajar, sebab sang guru sebenarnya memang tidak pernah menerima hadiah tersebut. Dalam sejarah penganugerahan hadiah nobel perdamaian, menurut saya, hanya Gandhi orang yang pantas menerima hadiah tersebut. Tetapi kita tahu keangkuhan Eropa, baik buruknya sesuatu hanya mereka yang menentukan. Hadiah Nobel tidak lebih dari cermin keangkuhan bangsa Eropa hingga saat ini. Memberikan Nobel Perdamaian pada Gandhi pada akhir perang Dunia hanya akan mencoreng kemenangan sekutu sebab sepanjang hidupnya Gandhi menentang imperialisme Inggris dengan cara-cara damai.

Gandhi memang pribadi luar biasa. Lahir dari keluarga terkemuka, anak dari seorang menteri besar di daerah Porbandar, Karamchand Gandhi. Mohandas Karamchand Gandhi lahir pada tanggal 2 Oktober 1869. Tumbuh layaknya anak-anak dari keluarga berada di tengah-tengah kolonialisme Inggris di India ia tidak menampakkan hal luar biasa pada masa kecil. Alam pikiran Gandhi mulai terbuka ketika ia menumpuh studi hukum di Inggris pada tahun 1889. Setelah karir hukum yang tidak terlalu berhasil di India, pada tahun 1893 Gandhi bertolak menuju Afrika Selatan. 21 tahun di Afrika Selatan inilah yang menentukan arah hidup Gandhi hingga ia tewas di tangan Nathuram Godse seorang ekstrimis Hindu pada 30 Januari 1948. Di ranah paling ujung selatan Afrika itulah, prinsip-prinsip perjuangan Gandhi terkristalisasi dalam bentuk Ahimsa; menentang kekerasan, Hartal; pemogokan dan Satyagraha; menolak kerjasama. Setelah kembali ke India pada tahun 1915, satu prinsip lagi muncul yaitu Swadeshi yaitu gerakan untuk menggunakan produk sendiri sebagai respon terhadap upaya Inggris menjadikan India sebagai pasar bagi hasil-hasil industri mereka.

Hampir 33 tahun perjuangannya di India Gandhi tidak henti menyuarakan suara penentangan terhadap kolonialisme disertai pesan perdamaian. Ia harus melewati tragedi demi tragedi yang penuh darah dalam penentangan terhadap Inggris. Ketika kemerdekaan itu telah didapatkan tragedi itu tidak berhenti, malah lebih parah, konflik antara dua saudara; Hindu dan Muslim. Ketidakberpihakan Gandhi pada salah satu kecuali pada persatuan India ternyata tidak bisa menghentikan ekstrimitas agama. Lobi dan mogok panjangnya kepada Kongres-nya Nehru dan Liga Muslim-nya Ali Jinnah tidak berbuah hasil kecuali lahirnya negara baru bernama Pakistan.

Dari sisi politik Gandhi mungkin menuai banyak kegagalan. Tetapi yang lebih penting dari itu sebenarnya adalah warisan yang ia tinggalkan. Nilai-nilai yang tidak akan pernah luntur oleh ambisi manusia yang tamak akan kekuasaan. Tidak salah bila sebuah sajak Tagore terinspirasi oleh Gandhi, Mahatma, sang jiwa agung. Gandhi baru mungkin akan lahir tetapi tidak di India sebab di negeri itu sembari mereka memuja Gandhi dan melantunkan Gitanjali-nya Tagore, India terus mengembangkan nuklir. Bersama dengan saudara tuanya, Pakistan, mereka saling mengarahkan moncong misil berkepala nuklir.

Kembali pada masalah Nobel. Rasa-rasanya Gandhi terlalu agung bila diganjar dengan hadiah penuh pretensi itu. Wajar saja pada tahun 1964, Jean Paul Sartre menolak hadiah tersebut di bidang sastra. Sebab, sebagaimana kata Sartre, hadiah itu akan mempengaruhi integritasnya dalam menulis. Atau wajar pula tokoh komunis Vietnam yang menjadi negosiator perdamaian perang Vietnam Le Duc Tho menolak Nobel perdamaian yang dianugerahkan untuk dirinya dan Henry Kissinger. Sebab Sartre dan Duc Tho tahu; ada masalah integritas yang tergadaikan dalam penghargaan tersebut.

Ini memang dunia yang ganjil, Gandhi terlupakan, sementara tiba-tiba saja Al Gore yang mantan Wapres AS itu menerima hadiah Nobel Perdamaian atas perjuangannya dalam isu pemanasan global. Apakah film Dokumenter Inconvenience Truth bisa dikatakan sebagai perjuangan penghabisan?? Panitia Nobel di Oslo mungkin sekedar membantu Partai Demokrat untuk memenangkan Pemilu AS tahun depan.

Lebih aneh lagi, rakyat di sebuah negara yang terus berharap Presidennya diganjar Nobel perdamaian untuk sebuah kesepakatan yang seharusnya dari dulu bisa disepakati. Hanya kesepakatan kecil yang dari dulu ditunda dan harus menelan korban ribuan perempuan dan anak-anak tidak berdosa. Menunda kesepakatan kecil kemudian mengorbankan rakyat tidak berdosa, apakah itu sebuah pesan perdamaian??? Oh Helsinki……

Advertisements