Filosofi Kopi


Filosofi-KopiJudul : Filosofi Kopi

Penulis : Dewi Lestari

Halaman : 138

Penerbit : Bentang Pustaka

Jika ada yang memikat pad Dee adalah cara dia bertutur: Ia peka terhadap ritme kalimat. Kalimatnya berhenti atau terus tidak hanya karena isinya selesai atau belum, tapi karena pada momen yang tepat ia menyentuh, mengejutkan, membuat kita senyum, atau memesona. Kepekaan pada ritme itulah yang menyebabkan sebuah tulisan berarti – bukan sederet pesan dibungkus rokok Dji Sam Soe, bukan pula sepotong tesis doktorat. [Gunawan Mohamad]

Dewi Lestari adalah sebuah pengecualian, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan karya-karyanya dalam bentuk tulisan cerita. Kelihaiannya memilih kata sangat mendukung karakter – karakter yang ia ciptakan untuk menjadi kuat dan memesona. Kejeliannya dalam menangkap nilai – nilai yang tercecer dalam dunia nyata untuk kemudian diabadikan dalam tulisannnya sungguh sangat menakjubkan. Kita mungkin tidak akan pernah berfikir bagaimana ia dapat bercerita tentang cinta beda spesies seperti yang ia lakukan dalam Rico de Coro. Kisah seekor Coro yang jatuh cinta pada seorang manusia. Disini dia menggambarkan cinta yang memang bernilai universal, dia tidak akan pandang bulu untuk menghinggapi siapa saja. Tidak ada penggolongan, stratifikasi kelas, dan lain sebagainya yang biasa kita lihat dalam kehidupan nyata.

Kompilasi karya seperti ini merupakan sesuatu yang baru, sebelumnya Dee belum pernah melakukan pengumpulan karya – karya seperti ini. Dalam filosfi kopi ini kita akan disuguhkan cerita dalam bentuk cerpen, puisi, atau hanya catatan kecil kaya makna. Semuanya disajikan dalam bahasa bahasa yang menggugah selera untuk membaca, dan membacanya lagi. Lewat tulisan-tulisannya dia menyebarkan nilai-nilai umum yang sebenarnya ada disekitar kita, namun mungkin kita cenderung mengacuhkannya.

Filosofi kopinya sendiri ditulis tahun 1996, disini kita sebenarnya benar-benar diajarkan selain bagimana cara menikmati kopi, kita juga diajarkan bagimana meminum kehidupan dengan rasa yang berbeda-beda. Disini dee selain menggunakan bahasa Indonesia dan inggris, dia juga menggunakan bahasa jawa, tanpa terasa mengada-ada. Luwes dan pas. Beda lagi yang ia sampaikan dalam jembatan zaman, yang ditulis pada tahun 1998, cerita ini mengajarkan kita bagaimana untuk tidak menjadi sok tahu. Dengan bertambahnya usia, bukan berarti kita tahu segalanya.

Buku ini sangat recommended untuk dibaca, selamat menikmati pahitnya kopi, dan kehidupan. [eppo]

Advertisements