Nasehat adik


Suatu katika, saya diberi nasihat oleh adik saya: Ya yang dewasa lah

Sangat simpel, dan bahkan mungkin simpel teralalu berlebihan karena ini lebih dari itu, ini sangat singkat namun mak jleb banget. Notabene saya ini adalah kakaknya, dan dia adalah adik saya, sementara saya bukan adeknya. Dari segi apapun saya lebih unggul, ketika dia baru lahir saya sudah belajar di bangku sd. Saya lebih lebih dewasa, titik ya, dari segi apapun saya lebih banyak pengalaman dan pastinya lebih pintar. Biarin sombong juga, dia kan adik saya ini.

Jadi gini ceritanya:

Dia adalah adik saya yang superlabil, kenapa adik saya yang yah pakenya, kesannya jadi saya punya beberapa adik. Tapi memang seperti itulah keadaanya, banyak yang manggil saya kakak, sebagai orang yang syuper baik, langsung saja sekonyong konyong menganggap mereka juga sebagai adik saya. Tahap selanjutnya adalah saya mulai minta jatah kiriman bulanan dari orang tua yang sama dengan meraka. Azas sosialis disini yang saya pake, cukup adilkan?. Apaan si ini,… oke, lanjut ke adek saya yang super labil tadi. Dia adalah adik saya satu – satunya yang dari ibu dan bapak yang sama, dengan kata lain dia adalah adik kandung saya. Ribet jelasin, bakalan pegel kalo harus nyeritain bagaimana kami lahir, tumbuh remaja, menjadi alay dan beranjak ke masa dewasa. Intinya dia adik kandung saya titik.

Adik saya ini punya pacar, tapi katanya dia sering berantem dan bla bla bla… setiap kali berantem saya selalu dimintai pendapat, dan dia selalu curhat. Saya, sebagai kaka yang superbaik selalu berusaha menjadi pendengar yang baik, selain karena memang saya baik. Setiap kali dia curhat, dan menceritakan masalahnya, saya selalu berusaha dengan bijak memberikan saran-saran yang saya ketahui. Berusaha sebijak mungkin dan bersikap sangat hati-hati agar tidak merugikan kedua belah pihak.

Setiap kali dia punya masalah selalu curhat ke saya, kakaknya.Hubungan kami sangat dekat dan suits sodara-sodara. Saya selalu berpikir saya harus bisa menjadi kakak yang baik buat dia, agar dia menjadi adik yang baik buat saya. Tuuuuhhhh saya bijak kan?

Ini logis banget, di era yang seperti ini kedekatan antar keluarga harus dijalan dengan sangat erat. Daripada dia curhat keorang yang salah, lebih baik saya berikan dia saran seadanya walo kadang salah juga, hehehe tapi intensitasnya lebih sering benernya.

Sebenarnya saya sedikit nyesek kalau dia punya curhatan atau cerita tentang pacar. Bagaimana di galau ditinggal pacar keluar negeri, merengek minta diijinin keluar malam mingguan pertama, dan bagaimana dia senang ketika dibawakan oleh-oleh oleh pacaranya (baca: buah tangan ya, kebanyakan oleh jadi ga oke) – SAYA GAK PUNYA PACAR (biar lebih dramatis di baca dengan nada suara kimi di iklan simpati ya) – harus seperti itu. Karena kalau nggak saya nanti dikira orang yang sangat perlu dikasihani, padahal saya adalah orang yang butuh kasih sayang. Saya sedih pemirsa.

BAYANGIN SENDIRI DEH!!! kalian diminta nasehat tentang pacaran, sementara kalian tidak punya pacar, dan kalian juga bukan psikolog. Siapkan tangan untuk ngelus dada dan sering – sering istighfar saja lah.

Suatu ketika kami terlibat dalam perbincangan via bbm

A: lagi apa kak?

adek saya labil tapi tidak alay yah, jadi tulisannya jelas dan kebaca dengan mudah.

S: Lagi jalan, kenapa?

A: gpp, pengen nyapa saja

Perlu diketahui, dia memang sering nyapa duluan dan sapaannya cukup konsisten seperti itu, dia adalah adik yang istiqomah. Kurang lebih sama lah sama bapak saya juga, yang kalau sms cuma tiga kata, itu juga plus nama panggilan saya.

Sehat deh jang? – selalu seperti itu, menurut saya: bapak saya ini termasuk salah satu orang yang selalu optimis bahwa anaknya bisa jaga kesehatannya. Selalu sehat. Kadang saya beripikir apakah tidak ada pertnyaan lainnya, misalanya punya duit nggak, uangnya habis ga, wesel udah diterima atau belum, atau apalah selain itu. Ngarep.

kembali ke tentang adek saya,,, lalu saya nyapa balik, basa basi nanya kabar.

sia kumaha, damang? (mirip bapak saya juga ya ternyata, maklum lah sedarah, buah aple jatuh tidak akan jauh dari pohonnya)

A: Sehat ka, kaka kumaha?

S: Baik juga, kamu ga berantem lagi kan sama pacar?

saya iseng aja, nanya gitu. Karena dewasa ini intensitas perselisihan mereka lumayan sering, jadi saya merasa berkepentingan untuk mengkonfirmasi dari ybs.

A: nggak kak

S: malah kaka ni sekarang yang sering berantem!

A: HAAAAHHHHHHHH kok bisa?

Dia terlihat sangat kaget dan terkejut, hal itu terlihat nyata dengan “hah” yang menggunakan huruf kapital, huruf A dan H bertumpuk. Mungkin kalau di dunia nyata ini akan disertai dengan mata melotot, trus efek kamera berputar dari atas, angin tiba – tiba ribut, daun – daun berguguran. Lebay yah, biarin dia kan adek saya, saya bukan adek dia. Seolah keadaan tersebut diluar akal manusia. Sebuah fenomena langka. Lalu ada tangda still writings di layar – dan pertanyaan selanjutnya tidak kalah bombastis buat saya.

A: emang kakak punya pacar?

Ini adalah pertanyaan yang tidak dapat saya percaya bahwa pertanyaan ini dialamatkan kepada saya. Mak jleb sekali sodara – sodara. Saya pria dan punya rupa, jadi wajar doang kalo punya pacar. Plis yah, saya ganteng titik.

S: Punya, ni baru beli di indomaret.

A: hoho.. ya yang dewasalah kak Smile

lo kate dewasa di jual instan juga di indomaret, tinggal seduh dan tunggu 3 menit sudah bisa dinikmati kayak mi gelas. hehehe asemmmmm.

– kembali ke paragraf paling atas… daaaannnn

– sekian –

Advertisements