Rep. Amnesia


Saya adalah orang WNI asli dengan pengetahuan yang sangat terbatas tentang keindonesiaan. Bahkan kadang saya lupa lagu – lagu nasional itu apa saja, apalagi pnciptanya, kadang liriknya saja lupa. Lebih parah lagi dasar Negara pancasial juga saya sering tidak ingat, terutama kalau ditanyakan secara mendadak. Itu saya, bagaimana dengan anda? Saya berharap anda tidak sama dengan saya, karena jika sama, kasihan sekali Negara ini, saya sedih untuk kelupaan yang saya alami, dan mungkin kelupaan anda – anda sekalian juga.

Kelupaan saya akan Indonesia dapat dikatakan sudah mulai akut, terutama sejak Negara ini gagal melaksanakan pemli secara luber dan jurdil. Sejak saat itu saya sangat kecewa dan memutuskan untuk menutup mata tentang semua hal yang berbau politik. Namun ternyata menutup mata saja tidak cukup, karena telinga saya masih dapat mendengarkan jeritan – jeritan kaum miskin mayoritas yang makin tertindas oleh orang – orang yang merka pilih untuk dijadikan penyambung lidah dan kepentingan yang ternyata : MEREKA MENGALAMI PENYAKIT LUPA DAN TULI (Lebih parah dari saya)

Saya tahu, saya peduli, tapi siapa saya, dapat berbuat apa saya? Saya hanya memiliki dua tangan dan kaki, pikiran saya tidak secanggih mereka yang bisa belajar, banyak membaca buku dan diskusi dengan orang –orang bertitel dan bergelar, bahkan gelar mereka lebih panjang dari namanya, makanya kadang disingkat. Mereka pintar dan sayang bodoh. Langkah mereka besar dan cepat, mana mungkin saya dapat mengejar mereka. Bahkan kini mereka sudah tidak seperti manusia lagi, mereka bisa ada dimanapun tempat yang diinginkan. Mereka sangat menakutkan. Sayapun kini tunduk tertunduk.

Lumbung tempat menyimpan padi untuk di tumbuk menjadi beras dan dimasak menjadi nasi untuk sekedar mengisi ulang energy untuk berlari ditengah terik matahari dan dari kejaran jaman edan, kini kering kerontang. Laut? Ya laut… kami memiliki daerah perairan yang sangat luas, bahkan lebih dari separuh Negara kami yang saya tahu adalah laut. Tapi sayang, kami tidak punya cukup keberanian menghadapi terjangan ombak yang suatu saat bisa saja mengambil nyawa kami, harta kami satu – satunya.

Saya takut, saya adalah penakut, saya adalah rakyat, yang pelupa. Saya sakit.

Penyakit kamu tidak dapat ditebak, bahkan kadang datang dengan cara tiba-tiba, terutama kalau kami dihadapkan dengan permasalah yang menuntut kejujuran. Diagnosa dokter hanya mengatakan bahwa anda harus menghindari meja hijau. Itu saja. Jika anda menjalankan saran saya, kemungkinan hidup anda akan lebih sehat. Doagnosa yang aneh memang. Sama anehnya seperti pnyakit lupa bawaan saya. Saking akutnya kadang saya lupa saya sudah makan atau belum, padahal perut mmberikan tandanya dengan membuncit. Saya juga biasanya lupa apa yang baru saja dimakan. Parah, sangat parah penyakit saya ini.

Namun, saya masih merasa beruntung tidak melupakan presiden yang dulu kampanyenya sangat bagus. Saya masih ingat dia menang dalam dua kali pemilihan presiden. Kebijakan – kebijakannya pun saya masih ingat, terutama yang popular seperti menaikan harga bbm yang sebenarnya tidak perlu naik itu sulit untuk tidak selalu dikenang dalam ingatan. Kasus – kasus korupsi orang – orang disekitarnya dan bank yang dana bantuannya mencapai 7t. Saya ingat semuanya, kecuali kepanjangan dari SBY.

Kenapa orang sekarang suka menggunakan singkatan-singkatan seperti itu ya? Bagi saya singkatan sangat membingungkan, selain karena emang tidak terkenal dan pengetahuan saya yang terbatas, singkatan juga dapat di ubah – ubah maknanya. Tidak ada keajegan, tidak ada kekonsistenan. Semoga saya tetap pelupa, karena jika amnesia menjadi cara satu – satunya untuk bahagia. Biaralah saya lupa ketidak adilan, biarlah saya lupakan penindasan dan biaralah saya tidak tahu kepanjangan sby itu apa. Minimal saya menjadi orang yang konsisten untuk lupa.

Mungkinkah saya berada di sebuah Negara republik amnesia?

Advertisements