"Gandamayu" dan Mitologi yang Hidup


13484683JAKARTA, KOMPAS.com – Penerbit Buku Kompas (PBK) menerbitkan sebuah novel sastra berjudul “Gandamayu”.

Novel “Gandamayu”, menurut penulisnya sastrawan dan wartawan Putu Fajar Arcana, ditulis dengan membaurkan antara realitas sehari-hari dengan realitas mitologis, yang hanya hidup dalam dunia wayang.

Kisah-kisah yang hidup dalam dunia wayang diterjemahkan dalam ritual keseharian, bahkan menjadi pedoman hidup bagi sebagian orang. Dan bagi sebagian orang Bali dan Jawa, ruwatan menjadi salah satu jalan spritual dengan pengharapan “terlahir” kembali menjadi manusia “baru”, yang jauh lebih memiliki kualitas hidup dalam segala sisi.

Novel “Gandamayu” ditulis Putu pada tahun 2007 saat dia bertugas sebagai wartawan Harian Kompas di Yogyakarta. Awalnya penulisan itu didorong keinginan Pusat Bahasa menerbitkan kembali kisah-kisah klasik yang hidup di banyak daerah dengan memberinya sentuhan baru. “Gandamayu” dengan judul “Gandamayu, Cinta Perempuan Terkutuk” pernah diterbitkan terbatas tahun 2009.

Putu Fajar Arcana masih terkenang pengelanaannya bersama sang ayah ke berbagai desa dengan sepeda. Sang ayah dikenal piawai menembangkan kisah-kisah dalam Ramayana atau Mahabrata dalam upacara-upacara yang dilakukan penduduk di pedesaan, atau di Bali dikenal dengan istilah “mabebasan”.

Ayah Putu sering mendapat undangan, dan kebetulan tema yang sering dibawakan adalah kisah ruwatan Dewi Durga oleh Sudamala. Putu selalu dibonceng dan jika malam sudah larut, Putu tertidur di pangkuan sang ayah, yang menembang hingga pagi.

Kisah-kisah inilah yang digunakan Putu Fajar Arcana sebagai penghubung untuk menjangkau dunia mitologis, yang terkadang hanya hidup di masa lalu, tetapi mengontrol hidup masa kini.

Dalam pengantarnya, Putu berharap cerita ini tak hanya menghibur, tetapi memberi secercah harapan untuk menjadikan hidup hari ini lebih baik dari kemarin.

Agus Noor, sastrawan dalam komentarnya menyebutkan, novel ini dibuka dengan pelukisan yang magis, memakai latar epik Mahabrata. “Kita seperti diingatkan kembali pada ketabahan martabat manusia, yang mampu melampaui maut dan kematian. Kisahnya menantang kita untuk merenungkan kembali, ketika yang baik dan yang buruk, seringkali saling menyaru.”

Advertisements