Novel "TwITIT!" Djenar Maesa Ayu


JAKARTA, KOMPAS.com Bagi Djenar Maesa Ayu, inspirasi tidak bisa dicari. Sebaliknya, inspirasilah yang mendatangi seseorang. Saat berbalut inspirasi, penulis yang genap berusia 39 tahun pada 14 Januari ini bekerja seperti orang kesetanan.

Untuk antologi cerpen T(w)ITIT! yang diluncurkan bertepatan dengan ulang tahunnya, Djenar menyelesaikan 10 dari 11 cerita dalam 10 hari saja. ”Satu cerpen saya tulis di bulan September, sisanya baru saya tulis sejak 23 Desember. Buku ini gila,” ujarnya.

Walau penulisan dan rencana peluncuran buku keenam Djenar benar-benar memeras energi, masih banyak energi lain. Ibu dua anak tersebut menargetkan segera menyelesaikan novelnya yang tertunda selama enam tahun, Ranjang. ”Keinginan dan energi saya sampai sekarang masih besar,” tutur penulis novel Nayla itu.

Begitu bersemangat dengan energi menyala-nyala, Djenar seperti ketagihan menulis. Jangankan bersantai, sehari tidak menulis saja rasanya seperti orang sedang sakau.

Begitu lama novel Ranjang tertunda, banyak orang mengira Djenar akan meluncurkan novel itu. Ternyata, dia malah meluncurkan kumpulan cerpen yang berasal dari kumpulan status tweet di media sosial Twitter. ”Saya senang dapat hadiah dari diri sendiri, penerbit, editor, juga teman-teman,” paparnya. (BEE)

23953-t_w_itit_Published 27 Januari 2012

Jika biasanya banyak buku yang terbit dari twitter berisi kumpulan tweet semata, maka T(w)ITIT! karya Djenar Maesa Ayu ini lebih dari sekadar itu.
Memiliki 61.000 lebih follower, akun twitter milik Djenar adalah salah satu akun terbesar dan terpopuler penulis perempuan Indonesia. Dari akun ini terpilih sebelas tweet Djenar yang kemudian dikembangkan menjadi cerita pendek.
‘Kehilangan adalah proses awal menemukan’, ‘Hidup bukan untuk mencari perhentian tapi untuk melakukan perjalanan’, ‘Jika ada anak panah yang menusukmu, berharaplah itu bukan berasal dari busur jenuhku’, adalah contoh beberapa tweet yang dikembangkan menjadi cerita di dalam buku ini. Banyak pembaca Djenar yang kemudian meneruskan kalimat-kalimat itu dengan me-retweet-nya, tapi kadang ada juga yang salah arti dan salah tangkap hingga kege-eran. Untuk hal yang satu ini, Djenar pun menuliskan: “Status twitter oleh beberapa orang sering ditengarai sebagai isyarat. Sorry, kamu salah alamat!’.

Advertisements