Ngobrol yuk


Beberapa saat yang lalu, ketika saya jalan-jalan dan meloncat dari satu blog ke blog yang lain, saya menemukan sebuah postingan yang berjudul Have we lost the art of conversation?. Sontak saya juga berfikir dan ngaca dalam kehidupan diri sendiri. Sehari 24 jam, dan sebagian dari besar dari tiap menitnya saya tidak lepas dari perngakat teknologi. Saya membaca email dari kolega, saya melakukan panggilan telephone untuk keluarga dan bahkan saya mengirim pesan-pesan singkat. Semunya dilakukan dengan teknologi.

762px-Contre-jour_talk

Kadang merasa kangen untuk melakukan obroloan secara langsung, bertemu dan bertatap mata langsung. Sepertinya hal seperti itu akan menjadi moment yang langka dan berharga sekarang, bahkan dari penemuan teknologi itu sendiri. Tapi, kadang ketika bersamapun sayang masih menggunakannya untuk saling menyapa. Sedih, ketika saya menyadari bahwa gaya tersebut sangat tidak elegan. Saya seperti manusia yang kehilangan cita rasa terhadap intonasi suara dan mimik muka yang kini berganti menjadi emoticon-emoticon kaku yang sering kita sebut lucu. Sekarang kalau ada ajakan ngobrol, saya harus menanyakan β€œvia apa?”.

Ketika ada kesempatan untuk melakukannya (ngobrol secara langsung) saya sering menyebutnya quality time. Esensinya tetap sama, ditelpon kita juga namakan ngobrol, di ym kita juga ngobrol, begitu juga sms dan yang lain sejenisnya. Teknologi memang sudah memudahkan kita untuk melakukannya, namun menurut saya masih ada yang belum dihadirkan oleh teknologi untuk ngobrol ini, yaitu berasa ngobrol langsung.

Namun, saya masih berasa bersyukur tinggal di Indonesia yang memiliki tradisi lebaran melekat begitu kuat. Walau hanya sekali dalam setahun saya bisa pulang, bertemu keluarga dan ngobrolin banyak hal. Ada rasa yang berbeda, mendengar intonasi, melihat mimik muka secara langsung, bukan melalui lagi melalui kamera. Selain itu saya juga masih punya kegiatan rutin untuk olahraga bareng teman-teman semasa SMA walau hanya seminggu sekali atau kadang dua minggu sekali itu sangat menyenangkan. Tidak ada obrolan berat tentang pekerjaan dan masa depan yang sering dikhawatirkan orang. Kami semua hanya bersenang-senang, menendang bola, tertawa bersama, terjatuh, saling berteriak dan semuanya nyata.

Dalam seminggu saya juga berusha selalu menyempatkan untuk memiliki waktu spesial untuk orang-orang yang spesial, seberapapun sibuknya selama masih mungkin untuk bertemu dan hanya ngobrol. Kadang tidak cukup jelas juga apa yang obrolkan, namun itu cukup berarti. Pada saat itu pula, saya merdeka dari dunia selain yang ada didepan mata, handphone dimatikan dan jejaring dijauhkan. Saya tahu pada suatu saat intensitasnya akan berkurang dan saya pasti akan merindukannya. Semoga itu tidak lama dan saat lainnya segera kembali. Begitalah seninya ngobrol, yang tidak akan bisa digantikan dengan emoticon apapun.

Penemuan teknologi adalah sebuah kemajuan jika dapat digunakan secara bijaksana. Dan akhirnya cobalah jawab beberapa pertanyaan berikut ini:

Do you make time in your life now for face to face conversations?

With whom and how often?

If not, do you miss them?

Advertisements