#4–Melestarikan Museum


Mulai dari tanggal 4 – 8 bulan september di benteng vredeburg sedang diadakan pekan apresiasi Museum. Berbagai macam acara di tampilkan di panggung utama, mulai dari workshop gitar dengan teknik typing ala Balawan sampai gebuk rebana dari mahasiswa uin selalu terasa pas dengan segala suasana benteng yang berada di tengah kota yogyakarta ini. Sementara berbagai macama acara yang dilakukan di panggung utama, pengunjung juga mengunjungi stand – pendamping yang di sediakan panitia yang diisi oleh berbagai macama komunitas maupun lembaga. Kebetulan saya ada kesempatan untuk membantu teman menjaga standnya siang hari ini.

Panas terik matahari khas kemarau begitu terasa ketika saya mengeluarakan motor untuk kemudian menuju ke benteng ini. Disana sudah tidak ada yang jaga, kata salah seorang teman yang minta digantikan. Sayapun cepat-cepat menghidupkan sepedea motor dan memacunya dijalanan jogja yang kini sudah mulai dipdatkan oleh pengguna kendaraan bermotor. Bedanya kalau di Jakarta banyak yang menggunakan roda empat, kalau di jogja dominasinya oleh pengguna kendaraan roda dua. Sekilas saya berpikir, bahwa saya juga adalah salah satu penyumbang dominasi ini. Semoga ini akan segera teratasi oleh angkutan umum yang nyaman, sehingga saya dan juga orang lain tidak perlu lagi menggunakan kendaraan pribadi untuk beraktivitas di Jogja kita yang istimewa ini. Bahkan saya juga teringat dengan apa yang dikatakan oleh Bu Endang Sih Prapti ketika menceritakan jogja tempo dulu dirumahnya. Beliau mengatakan di Jogja dulu sempat ada Trem lho mas, ujarnya. Sepertinya akan sangat menyenangkan kalau kendaraan umum tersebut di adakan kembali. Hanya bayangan saya untuk Jogja yang sudah sangat nyaman ini dimasa mendatang. Saya tidak dapat membayangkan kalau jogja suatu saat akan macet. Entahlah ini akan terasa tetap istimewa atau tidak, walaupun sudah ditetapkan dan diteguhkan olh penetapan Undang-undang keistimewaan.

Tepat pukul 13:04 saya akhirnya sampai di benteng vredeburg. Kebetulan sekali waktu saya datang di panggung utama sedan ada grup marawis yang sedang membawakan lagu-lagu dan musik padang pasir. Oh tepat sekali saya pikir, suasana panas seperti ini dengan musik padang pasir, berasa sedang berada di timur tengah. Tabuhan tangan – tangan terampil menepuk rebana mengingatkan saya pada pelajaran waktu jaman SMA dulu. Dalam pelajaran tersebut dikatakan bahwa dulu orang – orang di arab sana sangat mencintai seni, dan bahkan sampai ada yang namanya pasar seni. Pikir saya, mungkin ini pula yang menginspirasi adanya pasar seni gabusan yang berada di kabupaten bantul (salah satu kabupaten di Provinsi DIY yang berada di bagian selatan dan berbatasan langsung dengan laut selatan) tersebut. Di pasar seni yang ada di arab tempo dulu juga ada berbagai macam kegiatan, salah satunya adalah baca puisi dan pastinya ada juga jual beli benda-benda seni.

Pekan apresiasi ini hanya merupakan salah satu kegiatan kecil yang bertujuan untuk melestarikan warisan – warisan sejarah yang ada di Yogyakarta. Dalam kesempatan ini pula saya dapat kesempatan untuk ikut dialog langsung dalam acara diskusi dengan tema Museum dan peran media. Hadir sebagai pembicara dalam kesempatan ini Bp. Sihono dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia DIY) dan Bp. Bugiswanto (Mantan ketuan musium Sono Budoyo). Maklum saja, museum selama ini masih terkesan angker kata Bapak Sihono. Tugas kita adalah menyulap agar ini semua menjadi lebih ramah. Hal ini kemudian diamini juga oleh pihak manajemen yang mencoba menjadikan museum ini lebih ramah, salah satunya dengan mendirikan café disalah satu sudutnya.

Sementara itu, bapak Sihono selaku ketua PWI DIY memberikan sudut pandang lain dari sisi media massa. Menurutnya, sebaiknya setiap wartawan juga harus memiliki visi untuk memberikan pendidikan melalui tulisan-tulisannya. Nilai – nilai yang dimiliki oleh museum itu tinggi, jadi bagus untuk disampaikan kepada anak muda imbuhnya. Sedangkan dari segi pengelolaan juga museum selama ini hanya begitu – begitu saja, dalam artian terlalu monoton dan tidak ada inovasi. Walaupun mungkin sebenarnya ada, sebagaimana dikatakan oleh bapak Bugiswanto bahwa sebenaranya museum juga, khususnya melalui Badan Musyawarah Museum memiliki majalah sendiri. Namun ternyata hal tersebut kurang tersampaikan pesan-pesannya kepada masayarakat. Bahkan hampir dikatakan tidak ada media yang khusus menjelaskan tentang museum itu sendiri. Ungkap Bapak Sihono setelah menyempatkan mencari terlebih dahulu.

Beda lagi ketika museum sono budoyo kehilang beberapa koleksinya, saya sampai kewalahan untuk melayani media yang ingin meliput ujar Bapak bugiswanto. Tapi mereka menulis sisi kriminalnya bukan segi kontennya. Memang sangat disayangkan tambahnya. Perlu waktu puluhan tahun mungkin ketika kita ingin merubah citra museum yang ada sekarang dan yang paling mungkin untuk dilakukan sebagai langkah utama adalah sikap dari para pengelolanya sendiri. Simpelnya, gimana orang lain akan suka museum kalau yang mengelolalnya saja tidak suka.

Sebenarnya museum sendiri memiliki sebuah majalah yang khusus tentang permuseuman yang ada di Yogyakarta ini. Namun mungkin belum mencapai sasaran pembacanya, sehingga tidak mendapatkan dampak yang diharapkan dari masyarakat. Hal senada juga diungkapkan oleh Caknun dalam acara penutupan pekan apresiasi museum malam minggu kemaren. IMG-20120907-00989IMG-20120907-00988IMG-20120908-00992

Museum masih dikonotasikan dengan hal yang angker, sama halnya dengan kuburan atau bahkan tempat sampah.

 

“Museum adalah jembatan yang seharusnya menjadi penghubungan masa lalu dengan sekaran”

 

Dalam sebuah suasana dialog yang ceria, kemudaian Caknun bilang: kita ini juga sudah menyumbangkan pengaruh yang menyebabkan museum terkesan angker dan menjadi gudang. Contohnya, ketika kita punya barang yang sudah rusak atau tidak digunakan lagi maka kita akan mengatakan “itu di museumkan saja”.

Koleksi benda di benteng vredeburg sekarang sudah lebih lengkap. Ungkap Bapak Budiarto Staf Pengkajian Sejarah Museum. Namun kini museum tidak bisa lagi hanya menunggu untuk didatangi pengunjung, lama – lama bisa membosankan. Untuk itulah pekan apresiasi ini diadakan. Semoga museum bisa dikelola dengan lebih baik dan menarik dimasa mendatang dan masayarakat juga mendapatkan hal berharga lebih dari sekdar numpang foto dan melihat benda yang dianggap kuno.

Benteng 1980-an

Benteng 1901-a

1C6

Advertisements