Sedikit Optimisme yang Istimewa


Sumberdaya manusia Indonesia yang berlimpah selama ini sering dijadikan kambing hitam dari permasalahan tentang kesejahteraan dan keterbelekangan. Namun, jika dikelola dengan tepat ini dapat menjadi potensi yang tidak terbatas untuk kemajuan Negara bangsa.

Dari tahun ketahun pendidikan tinggi di Indonesia meluluskan para sarjana, dan hal itu berarti setiap tahun jumlah rakyat Indonesia yang memiliki pendidikan tinggi semakin bertambah. Namun kemana mereka semua, dimana peran mereka semua untuk memajukan bangsa atau minimal lingkungan dan keluarganya? Saya tidak tahu, apakah saya layak mempertanyakan peran mereka semua, para sarjana. Namun satu hal yang pasti dan kita renungkan bersama adalah ada sesuatu yang tidak beres dengan system pendidikan kita.

Sebenarnya pembahasan tentang system pendidikan nasional menurut saya hampir menjadi sebuah pembahasan yang usang dan membosankan. Masih banyak kekurangan disana sini, kurikulum yang selalu berubah – ubah, pengelolaan pendidikan yang tidak tersistem. Selain itu, kualitas tenaga pendidik yang memang masih belum dapat dikatakan baik harus kita akui masih menjadi kelemahan pendidikan yang ada di Negara kita.

Di Finlandia, Negara peringkat I bidang pendidikan, semua guru tingkat dasar wajib berpendidikan S2.  Kualitas yang baik ini masih ditunjang dengan sistem pengajaran yang luar biasa sempurna.  Misalnya setiap kelas hanya dibatasi 20 murid dengan didampingi 3 guru sekaligus yang mempunyai keahlian untuk mendidik, membibing, dan mengarahkan siswa. Respon pemerintah untuk mengatasi masalah tenaga pengajar adalah dengan memberikan program sertifikasi dengan ketentuan dan syarat – syarat tertentu yang harus di penuhi. Selanjutnya guru yang sudah dinyatakan lolos program sertfikasi akan menerima ganjaran berupa kenaikan gaji yang mencapai seratus persen. Namun apa yang terjadi? Program ini masih jauh dari harapan untuk meningkatkan kualitas pengajar.

Selain itu, anggaran 20% untuk pendidikan ternyata masih belum sepenuhnya terserap untuk pendidikan. Dana tersebut malah terserap oleh para koruptor dan hal ini diperparah lagi dengan sistem pendistribusian anggaran yang selama ini selalu semrawut. Tentunya semua factor penyebab lemahnya kualitas pendidikan tersebut ada solusinya dan perlu adanya kerjasama antar elemen di Negara ini. Itu jika kita mau memajukan pendidikan di Indonesia. Semua pihak harus menjalankan perannya masing-masing. Pemerintah harus membenahi system pendidikan, mulai dari kurikulum sampai ke metode penyaluran anggaran dan banyak hal lainnya. Selain itu keluarga dan orang tua harus turut serta mendidik anak – anaknya, jangan cuma mempercayakan pendidikan anak ke sekolah atau lembaga lainnya dengan membayar sejumlah biaya. Hal yang tidak kalah penting lainnya adalah lingkungan, ini artinya kita semua memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Peran masyarakat dapat berupa pengawasan terhadap penggunaan anggaran atau juga dapat memberikan usulan terkait pengajaran disekolah, melaporkan penyimapangan dan lain sebagainya.

Namun di atas semua kekurangan tersebut kita harus tetap terus maju dengan segala upaya yang dapat dilakukan dan terjangkau dengan kemampuan. Disini saya ingin menyebarkan sebuah kabar yang mungkin dapat dikategorikan sebagai kabar bagus, atau dalam istilah twitternya lazim dengan take line good news from Indonesia. Apa kabar bagus tersebut?.

Daerah Istimewa Yogyakarta, selain sebagai kota budaya juga terkenal sebagai kota pendidikan. Saya tidak tahu pasti sejarahnya DIY mendapatkan predikat tersebut, namun kemungkinan karena disini terdapat banyak kampus dan yang belajar disini juga berasal dari berbagai budaya, suku dan bangsa sehingga segera setelah itu DIY juga dapat dikatakan sebagai kota pusat berkembangnya pluralism. Berbagai macam komunitas ada disini dengan latar belakang yang berbeda-beda semakin memperkaya ragamnya. Di kota ini pula saya menemukan sebuah komunitas yang mungkin sangat langka khususnya di Indonesia. Komunitas tersebut bernama sagastas.

Komunitas ini berada dibawah asuhan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, namun bukan komunitas pegawai negeri karena anggotanya malah justru berasal dari siswa dan mahasiswa dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi baik swasta maupun negeri yang memang memiliki ketertarikan dalam dunia penelitian. Hampir semua dari mereka sudah pernah melakukan penelitian dan berhasil menjuarai kompetisi penelitian baik tingkat nasional maupun internasional. Sekarang di Sagasitas ini mereka semua tergabung, dan terlibat menjalankan hampir dalam semua program-program pembinaan peneliti remaja milik DIKPORA DIY.

Salah satu kegiatan komunitas ini adalah membuat sebuah jurnal yang khusus memuat hasil – hasil penelitian siswa dari DIY yang kemudian di beri nama Sagasitas Journal. Tujuan utama pembuatan jurnal ini adalah untuk mendokumentasikan hasil penelitian dan untuk lebih mensosialisasikan penelitian kepada siswa. Sampai saat ini sagasitas journal sudah masuk tahun ke – 8 dan sudah terbit sebanyak 16 edisi. Tiap edisi disebarkan ke SMA yang ada di DIY baik negeri maupun swas secara gratis. Namun jika ada pihak lain yang juga ingin memiliki jurnal ini tetap masih dapat membelinya di basecamp (kantor) sagasitas yang berada di DIKPORA DIY, Jalan Cendana No.9.

Kegiatan lain yang juga dijalan oleh komunitas sagasitas adalah pembinaan penelitian siswa, khususnya ditingkat SMA. Karena tahapan pembinaan yang cukup banyak dan panjang, akhirnya kegiatan ini dapat dilaksanakan sepanjang tahun. Tahap pertama kegiatan pembinaan penlitian remaja adala tahap sosialisasi, yaitu mensosialisasikan penelitian remaja/ siswa ke sekolah – sekoalah. Biasanya kegiatan ini dikemas dalam bentuk dialog interaktif yang diikuti oleh siswa dan guru. Walaupun yang menjadi target sasaran dari program sosialisasi ini adalah siswa, tapi guru juga diikut sertakan dalam kegiatan ini karena guru lah yang dianggap paling dekat dengan siswa di sekolah yang bisa memberikan stimulus untuk menumbuhkan minat meneliti.

Setelah melakukan sosialisasi, tahap selanjutnya adalah siswa mengajukan proposal penelitian untuk kemudian diseleksi dan yang dinyatakan lolos akan dibina oleh tim dan juga mendapatkan dana bantuan untuk penelitian dari DIKPORA DIY. Walaupun dana bantuannya tidak cukup banyak, apalagi jika dibandingkan dengan kebutuhan siswa dalam melakukan penelitian namun ternyata minat siswa untuk melakukan penelitian cukup menggembirakan. Pada tahun 2012 ini saja proposal yang masuk mencapai angka 500an proposal penelitian siswa. Sehingga untuk saat ini dana bantuan yang dikeluarkan dengan angka minat siswa untuk melakukan penelitian dapat dikatakan tidak berbanding lurus. Tentunya hal ini patut kita banggakan, karena dalam kondisi pendidikan yang masih jauh dari kata sempurna masih ada siswa yang memiliki minat seperti itu.

Hal yang lebih membanggakan lainnya adalah setelah dilakukan pembinaan yang memang memakan waktu yang cukup lama ini, siswa – siswa mampu berprestasi dalam ajang kompetisi penelitian ditingkat nasional dan internasional. Hal ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari peran yang dilakukan oleh Komunitas di sagasitas yang mau melakukan pembimbingan untuk siswa dari segala penjuru DIY. Tidak dapat dilupakan juga bagaimana peran guru disekolah yang juga sudah mau memperhatikan potensi siswa selain dalam hal mata pelajaran saja, tapi juga potensi lain yang dimiliki siswa seperti untuk melakukan penelitian.

Apa yang ada dan dimiliki di DIY menurut saya bukan hal yang mustahil untuk diterapkan di daerah lain. Di DIY memang diuntungkan dengan kondisi geografis yang memudahkan akses kemana saja. Selain itu banyaknya kampus yang mau menerima siswa jika memang membutuhkan bantuan juga seperti fasilitas laboratorium yang memang tidak dimiliki sekolah sedikit memberikan andil. Namun hal lain yang lebih menentukan adalah adanya kepedulian baik itu dari guru, orang tua, masayarakat dan juga stakeholder pendidikan untuk mencoba hal lain memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia di luar jalur kurikulum yang baku.

Cukup realistis jika saya merasa optimis kualitas pendidikan di Indonesia akan meningkat jika dalam satu tahun ada 500 karya penelitian siswa dalam berbagai bidang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Jika setiap judul penelitian dikerjakan oleh 3 siswa, maka ada 1500 siswa yang melakukan penelitian. Jumlah ini memang hanya sedikit jika dibandingkan dengan jumlah siswa secara keseluruhan, namun hal ini masih dapat dikembangkan lagi oleh pihak sekolah dengan memasukan materi pengenalan penelitian kedalam kurikulum, baik sebagai kegiatan intra maupun esktarkurikuler.

Komunitas ini hanya bagian kecil dari peran yang dapat dilakukan oleh setiap individu dan atau komunitas lain untuk pendidikan dan untuk hal – hal lainnya di Negara kita tercinta Indonesia.

Advertisements