“Waktu menyembuhkan segalanya”


Pada suatu waktu, kata ini menjadi sangat ampuh, baik sebagai obat maupun pelipur lara (hmmm kayaknya sama saja). Tapi benar, biasanya kalimat tersebut dikeluarkan dengan tujuan untuk sedikit menjadi … … entahlah saya ga tahu namanya. Biasanya juga, ini menjadi nasehat terakhir karena memang tidak ada nasehat yang dapat diberikan lagi. Yang pernah putus dengan pacarnya mungkin pernah mendapatkan kalimat ini, atau memberikan kalimat ini, seperti saya.

Entah kapan saya terakhir mendapat kalimat ini, saya sudah lupa dan tidak mau mengingatnya lagi. Toh ini memang benar, waktu dapat menyembuhkan segalanya, walaupun mungkin lama… waktu terus beralalu, semua berubah dan saya juga demikian. Saya mendapatkan kata itu lagi, tapi kali ini bukan dengan skenario seperti diatas. Kali ini saya mendapatkan kalimat itu dari seorang teman, lebih tepatnya dari twitnya di timlena saya. Waktu itu dia bilang:

Kalau dibiarkan saja ternyata luka bisa sembuh dengan sendirinya.

Kurang lebih seperti itulah twitnya, yang sontak membuat saya tersentak (dengan gaya komentator bola liga lokal). Tapi saya juga akhirnya mikirin tentang kebenaran kalimat ini dan bagaimana aplikasinya untuk menyembuhkan luka di “hati”. Saya pun tidak melakukan penelitian untuk ini, hahaha… sempet banget kalau sampe segitunya.

Saya pun bingung………

Intinya gini aja deh, bener ga kalau ada orang yang ngomong gitu sama kita? Open-mouthed smile

Advertisements