Benturan peradaban dibalik kemelut Nuklir Iran


A.     PENDAHULUAN

Konflik AS-Iran mulai muncul ke permukaan berawal dari beberapa pernyataan yang dikeluarkan oleh para politisi AS dan Inggris seputar nuklir Iran, seperti pernyataan George W. Bush dalam konferensi persnya: “Saya telah memberitahu kepada khalayak bahwa jika anda tertarik untuk mencegah Perang Dunia Ketiga, maka sepertinya anda harus tertarik untuk mencegah mereka (Iran) dari kepemilikan atas pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat sebuah senjata nuklir.” Selain itu, Tony Blair memproklamirkan ketika berbicara tentan “ideologi mematikan‟ dari ekstrimis Muslim.

“Ideologi ini kini telah memiliki sebuah negara, Iran, yang bersiap-siap untuk membekingi dan mendanai teror dalam rangka menggoncang negara-negara yang rakyatnya ingin hidup dengan damai.” Wakil Presiden AS, Dick Cheney pun juga mengatakan dalam kaitannya dengan ambisi nuklir Iran, “Negara kami, dan seluruh komunitas internasional, tidak dapat hidup normal manakala sebuah negara pendukung teror mampu memenuhi ambisi terbesarnya.” Negara-negara Barat, terutama AS, terus menghembuskan isu-isu bahwa proyek nuklir sipil Iran hendak dibelokkan menjadi proyek senjata nuklir.

Meskipun tim inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) selalu mengatakan bahwa tidak ada penyimpangan sedikitpun dari proyek nuklir Iran. Pengayaan nuklir Iran dilakukan hanya pada tingkat 5%, yang merupakan batasan bagi pengayaan uranium untuk tujuan damai, di mana dalam proses nuklir untuk tujuan militer dibutuhkan uranium dengan tingkat pengayaan hingga 97%.

Untuk menekan Iran agar mau menuruti keinginan AS yaitu menghentikan program pengayaan nuklirnya, AS melakukan embargo ekonomi dan mengeluarkan ancaman serangan militer terhadap Iran. Selain itu, AS juga mengancam akan memberikan sanksi kepada negara manapun yang menanamkan investasi di Iran dalam jumlah besar. Menanggapi sanksi Dewan Keamanan PBB tersebut, Pemerintah Iran mengancam akan menggunakan senjata apapun untuk mempertahankan diri, termasuk ekspor minyak, sebagai senjata dalam menghadapi tekanan internasional terhadap program nuklir Iran.

Tentu saja apabila ancaman ini benar-benar dipraktekkan Iran, maka tidak diragukan lagi harga minyak mentah di pasaran dunia akan meningkat dan berbagai transaksi perdagangan internasional akan ikut juga terganggu. Di lain pihak AS juga tampaknya tak gentar dengan ancaman Iran tersebut. Menteri Pertahanan AS Robert Gates malah menyatakan bahwa kehadiran Angkatan Laut AS di Teluk Persia akan ditingkatkan. Hal ini dibuktikan dengan didatangkannya dua kapal induk yang berpangkalan di Washington dan laut Pasifik yakni USS Dwight D. Eisenhower dan USS John C. Stennis yang memuat 16.000 tentara, selain itu, AS menggerakkan kekuatan personel pasukan gerak cepat yang dibantu oleh kapal-kapal gudang senjata dari Diego Garcia ke Pantai Iran untuk mendaratkan senjata-senjata berat dan suplai.

B.     ANCAMAN NUKLIR IRAN BAGI KEAMANAN REGIONAL & GLOBAL

Program pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Iran membuat negara tersebut dicap oleh AS sebagai kekuatan revisionis dalam sistem regional Timur Tengah. Oleh karena itu, Iran dianggap sebagai ancaman, baik bagi kestabilan sistem internasional, maupun bagi kestabilan kawasan, serta bagi kepentingan AS sebagai negara utama di kawasan. Dengan alasan inilah AS menghembuskan istilah ”Iranian Threat.” untuk menyebutkan ancaman yang datang dari proyek nuklir yang dilakukan Iran.

Ancaman bagi Keamanan Kawasan Timur Tengah Bagi negara-negara di suatu kawasan, ancaman akan didefinisikan berdasarkan kedekatan (proximity). AS menyatakan bahwa program pengembangan nuklir Iran akan dipandang sebagai ancaman oleh negara-negara Arab atau Israel. AS pun menambahkan bahwa hal inilah yang dikhawatirkan akan menimbulkan efek bola salju kepemilikan senjata nuklir. Dengan kemampuan finansial yang dimiliki oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, bukan hal yang sulit bagi negara-negara tersebut untuk juga mulai mengembangkan senjata nuklirnya masing-masing. Namun menurut saya, ini hanyalah salah satu alasan yang dibuat-buat oleh AS untuk terus berupaya menghalangi pengembangan nuklir Iran. Menurut saya, Iran tidak memiliki masalah dengan negara-negara di Timur Tengah, dan tidak ada alasan bagi Iran untuk menyerang negara-negara Timur Tengah, yang masih memiliki kedekatan persaudaraan dengan Iran.

Dengan adanya dialog intrakawasan, dan pembangunan rasa saling percaya diantara negara-negara tersebut bisa menghilangkan ketakutan akan ancaman terhadap keamanan regional yang berasal dari Iran. Dalam hal keamanan regional, yang ditakutkan AS sebenarnya adalah keamanan Israel, yang berada dalam satu region dengan Iran. Isu yang dihembuskan AS mengenai keamanan regional ini adalah sebagai upaya untuk melindungi sekutu utamanya tersebut. Bagi AS, kekuatan nuklir yang dimiliki Iran memiliki bahaya yang besar terhadap kompleks dan tirai keamanan Israel, sebagai satu-satunya kekuatan nuklir di Timur-Tengah.

Ancaman bagi Keamanan Global Kepemilikan nuklir Iran berpotensi memunculkan masalah karena tiga alasan. Pertama, kepemilikan nuklir akan memunculkan tendensi perilaku agresif dalam penggunaan senjata konvensional. Kedua, ancaman pencurian. Ketiga, potensi kebocoran teknologi dan senjata nuklir ke tangan teroris. Ketiganya terkait dengan kemampuan negara pemilik untuk mengendalikan dan menjamin keamanan kepemilikan senjata nuklirnya.

Menurut saya, jika yang dikhawatirkan oleh pihak Barat mengenai pengembangan nuklir Iran adalah tiga hal diatas, menghentikan proyek pengembangan nuklir Iran bukanlah satu-satunya solusi. Jika AS khawatir terhadap penanganan dan keamanan untuk mencegah proliferasi teknologi dan senjata nuklir ke tangan yang salah, solusinya bisa dengan penggunaan instrumen diplomatik dengan dialog-dialog untuk membangun Iran sebagai pemilik yang bertanggung jawab. Jika AS khawatir bahwa Iran akan berbelok menyalahgunakan nuklirnya untuk memproduksi senjata, melibatkan Iran dalam dialog juga menjadi solusinya.

C.     MENGAPA ISRAEL DAN IRAN TIDAK SALING SERANG

Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar 687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai wilayah di sekitar Iran. AS adalah pelindung penuh Israel dan penyuplai utama dana dan senjata untuk militer Israel. anggaran militer Israel sendiri, pertahunnya mencapai 15 M Dollar (dua kali lipat Iran).

Sebelum menjawab ‘mengapa Iran tidak langsung menyerang Israel’?, mari kita jawab dulu pertanyaan sebaliknya, mengapa AS dan Israel tidak jua menyerang Iran? AS sebenarnya tidak berkepentingan menyerang Iran. Tetapi, Israel berkali-kali meminta AS untuk menyerang Iran dengan alasan “Iran memiliki nuklir yang mengancam keselamatan Israel.” Ketika rezim Obama enggan menuruti permintaan Israel, Israel bahkan mengancam akan menyerang Iran sendirian, tanpa bantuan AS. Untuk menelaah prospek perang AS+Israel melawan Iran, kita harus memperhatikan antara lain, menghitung berapa banyak pesawat pengebom yang dibutuhkan, berapa banyak bom yang harus dibawa, apa kemungkinan serangan balasan dari Iran, dan bagaimana cara menghadapinya.

Salah satu alasan mengapa israel tidak kunjung menyerang iran ialah menyangkut profil militer Israel tidak akan mampu melakukan serangan tersebut. Untuk menyerang Iran, Israel harus mengerahkan seperempat pasukan udaranya dan semua pesawat tempurnya, sehingga tidak ada pesawat cadangan untuk berjaga-jaga. Pesawat-pesawat tempur itu harus melewati perbatasan Syria-Turki sebelum terbang di atas udara Irak and Iran. Dan wilayah-wilayah tersebut, sangat rawan bagi Israel. Berdasarkan jumlah pesawat yang diperlukan, proses pengisian bahan bakar yang harus dilakukan sepanjang perjalanan menuju Iran, serta usaha mencapai target gempuran tanpa terdeteksi sangatlah beresiko tinggi dan kecil kemungkinan keseluruhan operasi militer tersebut akan berhasil.”

Bahkan jika pesawat tempur Israel berhasil mengebom reaktor nuklir Iran, pembalasan yang dilakukan Iran akan membawa dampak yang sangat buruk bagi kawasan Timur Tengah, yang jelas semua  orang akan ingin tahu seperti apa jadinya Timur Tengah sehari setelah Israel berupaya menyerang Iran.

Karena itu, bila Israel berkeras ingin menyerang Iran, Israel harus menggandeng AS. Tapi, bila AS menyetujui permintaan Israel ini, AS harus mengerahkan ratusan pesawat dan kapal tempur. Serangan awal saja sudah membutuhkan alokasi kekuatan yang sangat besar, termasuk pengebom utama, upaya penghancuran system pertahanan udara lawan, pesawat-pesawat pendamping untuk melindungi pesawat pengebom, peralatan perang elektronik, patrol udara untuk menahan serangan balasan dari Iran, dll. Pada saat yang sama, AS harus menghalangi Iran agar tidak melakukan aksi apapun di Selat Hormuz. Bila Iran sampai berhasil memblokir Selat Hormuz, suplai minyak dan gas dunia akan terhambat dan efeknya akan sangat buruk bagi perekonomian dunia.

Ini bukan pekerjaan mudah. Iran selama ini justru sangat memperkuat kemampuan militernya demi mengontrol Selat Hormuz bila terjadi perang. Meskipun, AS juga sudah mempersiapkan banyak hal untuk menjaga agar Hormuz tetap terbuka, antara lain dengan menempatkan berbagai perlengkapan militer di Bahrain, Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, dan UAE. Namun inipun mengandung ancaman lain. Iran berkali-kali mengancam, bila wilayahnya diserang, Iran akan melakukan serangan balasan ke semua negara Arab yang di dalamnya ada pangkalan militer AS. Belum lagi, Rusia dan China diperkirakan akan ikut campur demi mengamankan kepentingan mereka sendiri di Timteng. Tak heran bila banyak analis mengungkapkan ramalan bahwa Perang Dunia III akan meletus bila AS sampai menyerang Iran.

Lihatlah situasinya bila Israel dan AS menyerang Iran, artinya mereka keluar dari wilayah mereka sendiri dan harus bersusah-payah mengusung semua perlengkapan militernya. Lalu, urusan tidak selesai hanya dengan menjatuhkan bom ke situs nuklir Iran. Serangan balik dari Iran, dan posisi geostrategis Iran, sangat memberikan potensi kekalahan bagi AS dan Israel. Karena itulah, Menhan Leon Panetta sampai berkata, “Sangat jelas bahwa bila AS melakukan serangan itu, kita akan mendapatkan akibat buruk yang sangat besar.”

Sekarang mari kita balik: bagaimana seandainya Iran menyerang Israel? Minimalnya, ada dua versi jawaban yang bisa diberikan sementara ini.

  1. Berdasarkan kalkulasi hard power. Ingat lagi profil militer Iran. Bisa dibayangkan, berapa banyak senjata yang dimiliki Iran dengan dana 7 M Dollar pertahun, dibandingkan dengan banyaknya senjata yang dimiliki AS dengan dana 687 M Dollar pertahun. Bandingkan lagi dengan kondisi ‘seandainya Israel menyerang Iran’ seperti yang sudah dianalisis di atas. Kesimpulan yang bisa diambil adalah saat ini, profil militer Iran memang belum mampu menyerang Israel secara langsung, begitu juga sebaliknya, Israel juga belum mampu menyerang Iran secara langsung. Sementara, AS punya hitung-hitungan lain di luar sekedar menyerang Iran. AS akan menghadapi kehancuran ekonomi yang sangat parah bila sampai mengobarkan perang terhadap Iran.
  2. Artinya, kedua pihak saat ini masih dalam posisi sama-sama bertahan. Itulah sebabnya, retorika Iran selama ini memang selalu defensif: Iran tidak mengancam akan menyerang, melainkan ‘akan membalas bila ada yang berani menyerang’. Seandainya Iran dalam posisi diserang dan membela diri dari dalam negeri (bukan dalam posisi menyerang dan mengirimkan pasukan ke luar wilayahnya) Iran sangat mungkin bertahan dan meraih kemenangan, karena memiliki keunggulan geostrategis. Hanya dengan memblokir Selat Hormuz, seluruh dunia akan merasakan dampak buruk perang dan bahkan AS akan bangkrut sehingga tak akan mampu melanjutkan perang.

Sebaliknya, untuk bisa maju perang (secara ofensif mengirimkan senjata dan pasukan ke luar wilayahnya), Iran tidak mungkin maju sendirian. Bila negara-negara Arab, terutama yang berbatasan darat dengan Palestina, belum siap berjuang, tentu sangat konyol bila Iran harus mengirim pasukan ke Palestina yang jauhnya 1500 km dari Teheran. Berapa banyak pasukan, pesawat tempur, dan rudal yang mampu dikirim oleh Iran yang hanya punya anggaran 7 M Dollar pertahun? Bila Mesir saja yang pemerintahannya dikuasai Ikhwanul Muslimin (artinya, seideologi dengan Hamas) masih menutup pintu perbatasannya dengan Gaza; masih menolak untuk terjun langsung ke medan pertempuran membela saudara se-harakah mereka, mengapa Iran yang di-ojok-ojok untuk mengirim pasukan perang? Karena itu, dari sisi ini, hanya satu kata untuk menilai pertanyaan ‘mengapa Iran tidak langsung menyerang Israel? : naif.

Berdasarkan kalkulasi soft power. Sangat mungkin, di atas kertas, profil militer Iran memang seperti yang diungkapkan di atas. Tapi, bila diingat lagi percepatan kemajuan teknologi militer yang dicapai Iran dan statemen beberapa petinggi militer Iran yang menyebutkan bahwa kemampuan Iran ‘jauh lebih besar dari apa yang terlihat’, ada aspek lain yang perlu dipertimbangkan. Iran adalah negara yang berbasis teologi mazhab Syiah dan meyakini adanya aspek transenden dalam setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin spiritual mereka (rahbar). Militer Iran pun berada di bawah wewenang rahbar, yang sekarang dijabat Ayatullah Khamenei. Iran meyakini bahwa Ayatullah Khamanei memiliki kemampuan transenden sehingga mengetahui kapan saat yang tepat untuk maju perang. Orang lain boleh tidak percaya, tetapi ini adalah urusan rakyat Iran sendiri.

Di sini, pertanyaan mengapa Iran belum juga menyerang Israel secara langsung (seandainya memang kemampuan militernya sebenarnya sudah mencukupi) akan mendapat jawaban sederhana saja: karena belum diizinkan oleh sang Rahbar. Lalu, mengapa Rahbar belum memberi izin? Silahkan dipikirkan sendiri, dengan mengaitkannya pada hal-hal yang bersifat ideologis dan relijius; dan hal ini di luar kapasitas saya untuk menjelaskan.

Intinya, perjuangan melawan Israel bukanlah perjuangan Iran saja. Ini seharusnya menjadi perjuangan bersama semua negara-negara muslim. Dan inilah yang terus diupayakan para pemimpin dan ulama Iran melalui berbagai statemen dan orasinya: membangkitkan kesadaran dan semangat juang kaum muslimin sedunia; sambil terus berupaya memperkuat profil militernya. Ini bukanlah omdo (omong doang), tapi upaya yang memang harus dilakukan sebelum mencapai kemenangan.

D.    Simpulan

Konflik yang terjadi antara Iran dengan Amerika dan Israel sangat kental dengan nuansa benturan antar peradaban. Dalam hal ini peradaban yang berbenturan yaitu dua peradaban yang berkembang menjadi peradaban terbesar saat ini, yaitu peradaban islam dan peradaban barat. Kepemilikan nuklir oleh iran yang selama ini dijadikan sebagai alasan untuknya melakukan konfrontasi dengan Iran ternyata tidak terbukti dapat membahayakan keamanan baik Global maupun regional seperti yang selama ini ditakutkan oleh Israel. Pengayaan nuklir Iran tidak lebih dari 5% dan ini meruapakan batasan yang ditetapkan oleh IAEA untuk pengayaan nuklir dengan tujuan damai.

Namun, karena ternyata tuduhan kepemilikan senjata nuklir tidak terbukti amerika tidak dapat menyerang iran secara fisik pun demikian dengan Israel yang masih diaanggap kekuatan militernya belum memadai untuk melakukan serangan tersebut. Selain itu, Iran juga dapat menganggu arus ekonomi internasional jika diserang karena memiliki kekuatan di selat hormuz. Akhirnya konflik pun beralih dalam bidang ekonomi dengan embargo dan pengucilan Iran dalam pergaulan politik internasional terutama oleh negara – negara sekutu Amerika.

Daftar Pustaka

Iran Suggests Attacks on Computer Systems Came From the U.S. and Israel, http://www.nytimes.com/2012/12/26/world/middleeast/iran-says-hackers-targeted-power-plant-and-culture-ministry.html?ref=middleeast

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of...f_armed_forces

http://en.wikipedia.org/wiki/Military_of_Iran

http://en.wikipedia.org/wiki/Israel_Defense_Forces

http://www.milnet.com/military.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Jericho_missile

http://www.globalfirepower.com/country-military-strength-detail.asp?country_id=Israel

http://www.globalfirepower.com/country-military-strength-detail.asp?country_id=Iran

See Lewis, Bernard. What Went Wrong: Western Impact and Middle Eastern Response

Advertisements