Junk News


Sebenarnya ini tentang liberalisasi media massa yang sudah dipostingkan beberapa waktu lalu. Namun kini saya ingin memberikan bagaimana hal tersebut terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Baru-baru ini pemberitaan media massa dapat dikatakan sedang terkonsentrasi pada kasus yang menimpa Rafi Ahmad dkk, yaitu kasus narkoba. Hampir semua stasiun TV dari pagi sampai pagi lagi menyajikan beritanya, begitu juga dengan media cetak, bahkan citizen jurnalism pun topik ini menjadi trending, walau dari sudut pandang yang berbeda jika dibandingkan dengan media-media mainstream.

Fenomena junk news sama halnya dengan junk food. Mudah didapat, tidak terlalu mahal dan disukai banyak orang. Hal ini sangat sesuai dengan ideologi liberalisasi media, dimana pasar menentukan segalanya. Media pun menjadikan kasus ini sebagai lahan empuk untuk dijadikan berita. Karena semua media melihat dengan sudut pandang yang sama, akhirnya hal ini menjadi konsumsi wajib untuk semua, dan mau tidak mau menerima bemberitaan seperti ini. Hal ini pulalah yang kemudian dapat menurunkan daya kritis rakyat terhadap hal – hal yang seharusnya mereka kritisi, seperti masalah kemiskinan, pendidikan kesehatan dan kebijakan pemerintah lainnya. Hal ini juga terbukti dengan terkesampingkannya masalah-masalah yang sebenarnya lebih besar dibandingkan dengan kasusu ini, seperti kasus korupsi, atau yang sudah beberapa kali terkesampingkan yaitu kasus bank century yang entah bagaimana kelanjutannya.

Junk news salah satu cirinya adalah dibuat dengan modal  sesedikit mungkin dan menghasilkan berita yang dapat memberikan keuntungan sebanyak-banyaknya. Lagi-lagi ini merupakan prinsip ekonomi kapitalis yang diterapkan oleh media massa. Akibatnya liputan yang ada menjadi sangat dangkal, karena para jurnalis (mungkin) terbatasi oleh dana dalam membuat berita. Hal tersebut dapat dilihat dari kasus yang sedang menjadi trending sekarang ini yang disajikan tanpa proses verifikasi data.

Namun hal ini bukan terjadi hanya di Indonesia saja, di negara lain pun juga terjadi hal yang sama bahkan memberikan dampak yang lebih besar. Seperti halnya kasus ini, Obama membeli eskrim dan Arnold sang gubernur yang naik harley pun sempat menjadi headline pemberitaan media massa di dunia mengalahkan kasus-kasus strategis waktu itu. Tentunya hal ini bukan sesuatu yang diharapkan dalam sebuah masyarakat yang demokratis. Dimana seharusnya hak-hak asasi manusia dijunjung tinggi.

Dalam hal ini para pemilik media seharusnya bertanggung jawab, tentunya dengan para pembuat kebijakan dalam media tersebut. Kecuali mereka hanya ingin menjadikan media massa sebagai alat untuk memutar modal atau mengumpulkan pundi – pundi kekayaannya saja. Kalau seperti itu, maka hancurlah dunia oleh media massa yang seharusnya menjadi penjaganya.

Saya jadi teringat apa yang dikatakan ketua PWI cabang jogja dalam sebuah diskusi di Benteng Vredeburg, Jogjakarta – bahwa seharusnya jurnalis dan media memberikan sebuah tulisan berita yang mendidik rakyat. Bukan hanya gosip, berita kriminal, sinetron yang tidak mendidik atau foto-foto saja. Sekali dua kali mengkonsumsi junk food mungkin tidak terlalu membayahayakan kesehatan, tapi kalau menjadi gaya hidup itu dapat menjadi sebuah bencana. Demikian juga dengan junk news.

Advertisements