Tentang buku dan Indonesia Mengajar


Mengajar adalah tanggung jawab moral orang terdidik

Sebenarnya saya sudah tahu ada program Indonesia mengajar yang didirikan oleh Dr. Anis Baswedan pada tahun 2010. Kegiatannya utamanya adalah mengirimkan guru-guru muda ke seluruh pelosok nusantara. Saya juga tahu, kalau prgram ini sangat bagus, dan seperti yang beliau katakan bahwa pengiriman anak – anak muda untuk menjadi guru di pelosok ini bukan sebuah pengorbanan, melainkan sebuah penghormatan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan: MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA. Tapi, saya tidak pernah benar-benar merasakan bagaimana dan apa baiknya dari program ini karena saya tidak pernah mendapatkan gambaran nyatanya, walaupun saya tidak pernah ragu tentang baiknya program ini.

Lalu, suatu hari saya pulang dari sebuah kegiatan saya iseng mampir toko buku, dan mencari beberapa buku yang memang sedang saya cari. Saya tidak jadi membeli buku yang saya cari karena memang tidak ketemu, namun saya malah justru mendapatkan buku INDONESIA MENGAJAR, terbitan Bentang. Buku setebal 322 halaman ini memberikan sebuah gambaran nyata tentang apa yang dapat dilakukan oleh: Program Indonesia Mengajar, para pemuda dan seluruh rakyat indonesia. Selain itu, buku ini juga memberikan gambaran potensi anak – anak Indonesia serta yang pasti menyebarkan semangat dan optimisme untuk menuju Indonesia yang lebih baik.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini juga sangat asyik, entah saya harus mendefinisikannya dengan kata apa. Namun buku ini memang merupakan kumpulan tulisan pengalaman para pemuda yang bertugas sebagai guru di berbagai pelosok nusantara, sehingga penulisannya pun anak muda banget lah.

Dari buku ini kita dapat mengetahui tentang kondisi pendidikan didaerah yang mungkin sama sekali belum pernah terpikirkan oleh kita. Bagaimana perjuangan adik-adik sebangsa kita di daerah sana berjuang untuk mendapatkan pengajaran di sekolah. Mereka harus berjalan kaki berkilo-kilo meter, harus berhadapan dengan hewan buas, belum lagi kalau turun hujan, mereka dengan terpaksa harus menerima kenyataan harus absen sekolah karena alam yang tidak memungkinkan. Sangat ini sangat kontradiktif dengan anak-anak di kota yang malah bolos sekolah.

Namun kondisi yang serba terbatas ternyata tidak cukup kuat untuk menjadi penjara bagi potensi yang luar biasa.

Di bagian awal buku, diceritakan bahawa ada anak yang tidak pernah masuk sekolah selama 3-4 bulan dan masih duduk di bangku kelas 3 SD tapi dapat mengerjakan soal kelas 4,5 dan 6. Lalu ada anak yang berasal dari daerah pinggiran yang sangat pemalu namun penuh potensi. Dia pemalu karena konstruksi budaya didaerah tersebut yang membuatnya dia menjadi pemalu. Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang sangat luar biasa dari buku ini.

Selanjutnya, kita juga dapat belajar dari para pemuda yang dikirimkan kesana. Mereka benar-benar mengajar dengan penuh dedikasi, cinta dan kasih sayang. Sehingga mereka sukses memunculkan potensi-potensi luar biasa ini. Mereka tidak melakukannya seumur hidup, mereka hanya melakukannya selama kurang lebih satu tahun, namun itu akan menjadi satu tahun yang sangat berarti, buat mereka, buat anak-anak di derah yang mereka kunjungi, untuk dunia pendidikan, dan untuk bangsa ini juga.

Mereka hanya 51 orang dan berhasil membuat sebuah perubahan.

Yang saya bayangkan sekarang adalah, bagaimana jika semua mahasiswa dapat meluangkan waktunya juga untuk turun kedaerah menyebarkan semangat dan membangkitkan mimpi adik-adik kita. Tidak harus setahun, kalau mungkin itu terlalu lama, beberapa bulan, atau berikan mereka perhatian dalam bentuk apapun. Perubahan seperti apa yang didapat dengan itu semua? Saya hanya bisa tersenyum karena seperti yang dikatakan Dr. Anis Baswedan: Mengajar adalah tanggung jawab moral semua orang terdidik. Siapa yang merasa menjadi orang terdidik?

Selamat membaca.

Advertisements