Maaf


iam sorry

Beberapa pesan singkat saling kita kirimkan. Tidak ada kata-kata seperti biasa disana. Kamu memanggilku dengan cara yang berbeda dan aku juga segera menggunakan sebutan yang berbeda. Kita tidak mengendalikan hal-hal yang dapat membuat kita kecewa bukan? Aku tidak bisa marah untuk hal-hal yang diluar kendali. Ketika kamu terisak, maka aku akan menejerit dalam hati dan ingin segera menyeka air matamu. Tapi ketika aku tidak melakukannya, maka selanjutnya hanya penyesalan yang akan dirasakan.

Aku adalah orang yang selalu mencoba memikirkan dan memperhitungkan segalanya, walaupun aku sadar aku tidak dapat melakukannya. Memeperhatikan hal-hal kecil yang dirasa dapat memiliki dampak besar. Namun kadang hal seperti itu, yang mecoba kuperhitungkan lah yang membuat semuanya tampak seperti hal besar. Aku bukan orang dengan tipe yang suka cerita tentang apa yang dirasakan. Aku selalu mencoba memendamnya, menyelesaikan atau kadang melupakan karena beralih kesakit kepala sebelah.

Aku tahu kamu memiliki cara yang berbeda. Kamu kadang meledak dan mengungkapkannya begitu saja. Kamu mengeluarkan apa yang menjadi beban bersamaan dengan air mata. Setelahnya, kamu dapat dengan tenang meminta maaf dan melupakan segala yang telah terjadi. Tetapi aku, masih memikirkannya dan bergulat dengan sakit kepala. … aku memikirkan dan memperhitungkan langkah dan sikap yang harus ku ambil, kamu tahu itu. Aku selalu butuh waktu lebih lama dari kamu.

*** **

Malamnya, kamu meminta waktu untuk bertemu. Dijalan aku masih tetap saja melakukan apa yang biasa aku lakukan. Mencoba memikirkan segala hal. Sampai di jalan depan pusat perbelanjaan yang selalu bikin macet pada saat liburan, aku memlankan laju kendaraan. Suara klason dari sana sini, dari orang yang terburu-buru dan seolah tidak tahu jalan sedang macet semakin membuat kepalaku riuh dengan banyak hal yang dipikirkan. Makin sakit kepala.

Pertanyaan seperti urusan apa yang menanti mereka sehingga membuat mereka membunyikan klason dan ingin segera jalan mulai muncul. Kenapa ada orang yang suka menggunakan knalpot bocor untuk kendaraanya, apa mereka tidak berisik? Tentu aku tidak menanyakannya langsung kepada orang-orang tersebut. Aku membuat jawabanya sendiri. Kamu juga tahu itu…

Sampai dirumahmu, hal yang terjadi sama seperti biasanya. Kamu sudah reda dan mencoba untuk meredakan sakit kepalaku juga.

*** ***

Aku minta maaf sudah buat kamu kecewa, katamu lirih. Kita lupakan yang sudah terjadi ya.

Aku hanya diam, seperti biasanya. Aku mulai memikirkannya dan mulai membuat pertanyaan lagi, apa kamu perlu minta maaf, jika aku yang merasa bersalah?. Semunya yang kupikirkan hanya mampu membuatku mengangguk pelan.

Lalu kamu mulai menggandeng tanganku, membawaku kedepan meja dengan kursi panjang tempat kita menikmati sore atau hujan. Mau teh? Tawaran yang hampir tidak mungkin kutolak. Kamu juga tahu aku penikmat teh.

Tegukan pertama. Kamu tidak perlu memaafkanku jika kamu belum bisa. Tapi aku tahu kamu sudah memafkanku jika memang aku salah. Aku tahu itu kamu, karena aku juga melakukan hal yang sama. Kita tidak butuh terlalu banyak formalitas dengan kata-kata untuk dapat saling memahami dan mencintai kan? Ya, jawabku singkat.

Tegukan kedua. Kamu mulai bercerita tentang teman-temanmu dan kegiatan yang kamu lalui bersama mereka. Serunya lomba olahraga di kampusmu, kisah cinta temanmu pun tidak luput kamu ceritakan. Bahkan kadang dosen-dosenmu kamu deskripsikan begitu detil, sampai-sampai aku merasa sudah mengenalnya. Padahal aku hanya tahu dari ceritamu. Kamu memang hobi cerita, aku tahu itu.

Tegukan ketiga. Aku sedang menikamti hidupku dan teh ini. Silahkan kamu bercerita, mungkin akan memperpanjang hangatnya tehku. Aku mendengarkan.

Advertisements