Perjalanan dan pertanyaan


IMG-20130419-00016

Tembok besar nan kokoh yang menjulang tinggi menjadi saksi dan bukti bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat peradaban Semarang dimasa lalu. Ya, ini adalah kawasan yang kini disebut “kota lama” Semarang. Bangunan dikawasan ini masih sama seperti aslinya dahulu. Tidak ada yang diubah atau berubah, kecuali yang lapuk termakan usia dan kemudan ambruk. Namun sebagian besar bangunan yang masih berdiri kini dimanfaatkan oleh warga untuk membuka usaha ini masih asli.

Beberapa hari lalu, kami, saya dan beberapa teman melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor ke Demak, untuk menghadiri sebuah pernikahan seorang sahabat. Disana juga untuk bertemu beberapa sahabat lainnya dan juga untuk mendapatkan pertanyaan yang sama setiap kali mendatangi sebuah resepsi. Jadi, kamu kapan? ini seperti sebuah pertanyaan yang sangat standar, yang harus ditanyakan pada siapa saja yang datang ke pernikahan dan dia belum menikah. Jawabannya, sudah di luar kepala. Aku segera, mohon do’anya saja ya.

Tetapi saya juga yakin, bagi orang yang sudah menikah dan datang keresepsi namum belum punya momongan pasti akan mendapatkan pertanyaan “kapan punya momongan”? dan bagi yang sudah punya juga pastikan akan ditanya kapan nambah?. Ya, pertanyaan – pertanyaan itu pasti akan muncul, jadi siap – siap aja lah ya. Datang, dapat pertanyaan lalu pulang. hehe…

Di dalam perjalanan pulang, kami sempat beberapa kali mampir untuk beristirahat. Pertama, kami berhenti di kota Demak, tepatnya di masjid agungnya untuk foto-foto. Hahaha… kan musafir. Selanjutnya, kami mampir di pom bensin, untuk sholat dan isi bahan bakar. Loh… Akhinya, tibalah saatnya menuju semarang, dan disana kami mampir ke kota lama, untuk foto lagi.

Perjalanan ini memang bikin pegel, tapi kalau ada temennya lebih bikin nyesel kalau ga ikut. Banyak hal yang didapat, seperti di kota lama ini. Tembok-tembok tua yang menjadi saksi dan bukti bahwa tempat ini dahulu (berpuluh bahkan ratus tahun lalu) pernah menjadi pusat peradaban di kota semarang. Mungkin ini sama halnya dengan pernikahan, yang akan menjadi bukti bahwa pernah ada orang yang bernama “marzuki” di dunia ini dengan adanya keturunan. hehehe.

Filosofi hidup mungkin sesederhana itu, melakukan perjalanan, menemukan tempat untuk sejenak diam dan menikmati namun selanjutnya kita harus bertanya untuk apa kita ada dan kemudian menanyakan pula ke orang lain yang berlawan jenis, maukah memberi bukti bahwa kita pernah ada bersama. Lalu sudah lah. Hidup itu berjalan.

Sebelum lebih nagco lagi saya tutup aja lah ya.

Maturnuwun untuk teman-teman (Teguh, Agungm Makasar, Srip, dan Huda) yang sudah mengajak saya melakukan perjalanan ini. Semoga kita segera bisa menjawab semua pertanyaan mereka disana. Untuk Zuki, kawan kamu sudah tandatangan dan berjanji untuk memberi bukti bahwa kamu pernah hidup, bersama seorang wanita. Namun sebelum dapat memberi bukti kamu harus membuktikan diri dapat hidup bersamanya. Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah wa rahmah ya.

Salam-

Advertisements