Hiburan


78315603

Sumber foto: Thinkstock.com

Siapa yang sekarang tidak tahu kampanye, rasanya keterlaluan sekali kalau sampai tidak tahu. Anak-anak sekolah dasar pun saya pikir sudah mengetahuinya. Bahkan kadang mereka ikut karena dibawa oleh orang tuanya. Namun sejatinya apa yang orang-orang dapatkan dari kampanye tersebut? Apa yang mendorong mereka untuk datang dalam acara kampanye?. Untuk bertemu artis yang selama ini hanya dilihatnya di layar kaca, untuk melihat penyanyi dangdut yang mengenakan pakaian mini dan bergoyang seksi, atau untuk benar-benar mendengarkan visi dan misi politikus yang mencalonkan diri sebagai wakil mereka.

Tidak ada yang tahu pasti motivasi masing-masing orang yang datang dalam sebuah kampanye politik. Terutama yang dilaksanakan menjelang pemilihan umum. Namun satu hal yang dapat kita lihat bersama saat ini adalah banyak artis yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan biasanya hampir semua kampanye menyuguhkan sesi hiburan. Dengan kata lain, ada kemungkinan orang-orang yang datang itu karena ingin ketemu idolanya dari layar kaca, atau mungkin juga karena ingin mendapatkan hiburan.

Sebenarnya itu sah-sah saja. Bertemu dengan artis idola, atau mendapat hiburan. Tapi apakah itu esensi dari sebuah kampanye politik?. Tentu siapapun punya pendapat tentang hal ini. Tetapi kalau dikembalikan kedefinisi kampanye politik itu sendiri sebagai sebuah cara untuk menyampaikan visi misi politik kepada pemegang hak politik untuk kemudian membuat sebuah konsensus sosial untuk menjalankan visi misi tersebut. Apakah dengan cara seperti itu dapat tersampaikan?.

Lagi-lagi sebuah pertanyaan yang mungkin sudah membuat kita bosan untuk menjawab “bukan seperti itu”.

Tetapi, sama halnya dengan esensi dari wakil rakyat yang harus berjuang untuk membahagiakan masyarakat. Pun demikian dengan kampanye, dikemas sedemikian rupa agar dapat lebih banyak menarik minat dengan cara menyuguhkan hiburan yang kadang kita anggap tidak tepat. Tetapi sekali lagi itu hiburan. Semua orang butuh hiburan.

Tetapi mungkin ada yang dilupakan, bahwa semua ada beayanya. Semua harus menanggungnya. Yang kampanye dan termasuk yang datang kampanye. Ini negeri dengan 17.508 pulau dengan luas 1.919.000 km persegi. Butuh bayak sekali sumberdaya untuk mencapainya, apalagi untuk mendapatkan suara. Dikhawatirkan pemilih memilih datang bukan karena ingin mendengarkan dan kemudian memilih wakil yang akan dia percaya untuk menentukan nasibnya, nasib bangsanya. Mereka datang karena ada yang goyang diatas panggung.

Mengerikan. Tapi itu realita yang tidak dapat di sangkal. Bukan rahasia jika untuk maju dalam pemilihan caleg butuh dana yang tidak sedikit. Butuh pengorbanan yang dikemudan hari dapat menimbulkan potensi untuk mengorbankan. Yang dikorbankan adalah kepercayaan rakyat, hak rakyat dan harta rakyat. Untuk apa? Untuk mengembalikan modalnya memberikan hiburan. Idealnya pemilih memang memilih wakil yang ia kenal. Namun dalam kondisini seperti indonesia yang sangat luas ini, kampanyelah kesempatan pemegang hak pilih mengenal siapa saja yang akan dia pilih. Mengenal bukan hanya ciri sebagiannya saja. Bukan hanya kumis, paras atau peci yang dikenakan untuk di cetak dalam kertas pemilihan. Tapi mengenal apa visi misinya dan kemudian kontrak sosialnya seperti apa.

Patut kita tunggu panggung kampanye tahun 2014 esok seperti apa. Kalau masih sama dengan yang lama, apalagi masih diisi oleh muka lama kemungkinan yang terjadi juga tidak jauh berbeda dengan apa yang sekarang ada. Panggung politik hanya hiburan untuk mereka yang punya dana.

Advertisements