Konflik laut china selatan


southChinaSea_claims-RyanMorris1

Konflik laut China selatan dalam beberapa tahun terakhir menjadi kasus yang ramai diperbincangkan, khususnya di kawasan ASEAN dan China. Karena melibatkan beberapa negara sekaligus yang saling berbatasan di kawasan tersebut. Negara yang terlibat berasal dari dua kawasan. Dari Asia Tenggara yakni Brunei, Malaysia, Filipina dan Vietnam dan 2 negara Asia Timur yakni China dan Taiwan.

Klaim wilayah dalam kasus konflik laut china selatan dari beberapa negara tersebut diatas dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Negara

Klaim

Brunei

Walaupun tidak menduduki salah satu pulau, Brunei menyatakan bahwa kawasan tersebut merupakan Zona Ekonomi Eksklusif miliknya sesuai dengan keputusan UNCLOS tahun 1982. Pada tahun 1984, Brunei mengumumkan ZEE yang meliputi Louisa Reef.

Malaysia Malaysia menganggap klaim daerah di kawasan ini sesuai dengan hukum. Saat ini Malaysia sudah menduduku 3 pulau dan membangun atoll (pulau karang) dan sebuah hotel dengan cara membawa tanah dari daratan.
Filipina 1. Filipina menganggap laut China selatan sebagai bagian dari Filipina barat. Spratly klaimnya juga sudah memiliki koordinat yang jelas, berdasarakan prinsip kedekatan dan eksplorasinya pada tahun 1956.

2. Pada tahun 1971, Filipina secara resmi menyatakan 8 pulau yang disebutnya sebagai Kalayaan, dapat di eksplorasi dengan alasan: 1) pulau yang bukan bagian dari Kepulauan Spratly, dan 2) tidak dimiliki oleh siapa pun dan terbuka untuk diklaim.

3. Pada tahun 1972, mereka ditetapkan sebagai bagian dari Palawan Provinsi, dan telah diduduki.

“Luas wilayah dan zona maritim kami telah ditetapkan dengan jelas oleh hukum Filipina dan hukum internasional, terutama Konvensi PBB 1982 tentang Hukum Laut,” – Aquino (presiden Filipina)

Vietnam 1. Vietnam mengganggap Kepulauan Spartly (Truong Sa) dan Paracel (Hoang Sa) adalah bagian dari wilayah kedaulatannya. Pada tahun 1974 Hoangsa diambil alih kembali oleh China.

2. Klaim Vietnam ini juga berdasarkan sejarah, dimana pada tahun 1930an kedua pulau tersebut dikuasai oleh Prancis yang sedang menguasai (mengkoloni) Vietnam. Sama halnya dengan China, fakta sejarah ini kemudian diperkuat dengan bukti arkeologis dan menduduki 20 dari Kepulauan Spratly untuk menegakkan klaimnya.

China 1. China menganggap kepulauan Spratly sebagai kepulauan Nansha dan mengklaim sebagian besar wilayah laut China selatan berdasarkan sejarah. Kali mini tidak ditandai dengan koordinat yang jelas.

2. China juga mengklaim Kepulauan Paracel (disebut sebagai Kepulauan Xisha), dan menyertakan mereka sebagai bagian dari pulau Hainan.

3. Pada abad 19 dan awal abad ke-20, Cina menegaskan klaim untuk Spratly dan Paracel yang selama Perang Dunia II pulau-pulau yang diklaim oleh Jepang.

4. China telah menduduki 8 dari pulau-pulau untuk menegakkan klaimnya

5. Pada tahun 1947, Cina menghasilkan peta dengan 9 garis putus-putus dan takterdefinisi, dan mengklaim semua pulau di garis teresebut sebagai klaim wilayahnya.

6. Pada tahun 1974, Cina merebut Kepulauan Paracel dari Vietnam.

7. Pada tahun 1992 hukum china menegaskan kembali klaim tersebut dan mengusai 8 pulau.

8. Semua klaim china berdasarkan fakta sejarah. Termasuk ekspedisi angkatan laut ke Kepulauan Spratly oleh Dinasti Han di 110 AD dan Dinasti Ming 1403-1433 AD. Fakta sejarah ini kemudian diperkuat dengan bukti arkeologis.

Taiwan Klaim Taiwan yang mirip dengan Cina, dan didasarkan pada prinsip yang sama. Seperti China, klaim Taiwan juga tidak jelas kooridinatnya dalam menempati Pulau Pratas di Spratly.

Bagaimana dengan Indonesia? “Not a claimant to any of the Spratly Islands. However, Chinese and Taiwanese claims in the South China Sea may extend into Indonesia’s EEZ and continental shelf, including Indonesia’s Natuna gas field”.

Ancaman terhadap keamanan di Blok Natuna lah yang kemudian menyebabkan Indonesia juga mmiliki kepentingan dalam membantu menyelesaikan konflik laut China Selatan. Sampai saat ini upaya Indonesia dalam membantu menyelesiakan konflik dapat menuai pujian. Karena selain dapat tetap menjaga stabilitas wilayah, Indonesia juga dianggap mampu menjaga nama baik ASEAN dan memilihara hubungan dengan China. Sehingga beberapa perjanjian perdagangan kedua wilayah tetap terjaga.

Sumber gambar: http://www.southchinasea.org/ 

Advertisements