Bisa apa?


Mahsiswa mendapati dirinya sebagai the agent of change. Hal tersebut setara jika melihat rekam jejak di dalam sejarah yang dilaluinya. Contohnya adalah sumpah pemuda yang dilaksanakan pada tahun 1928. Sumpah pemuda memberikan dampak besar dan berarti bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia sampai saat ini. Karena sumpah pemuda merupakan salah satu tonggak awal persatuan dalam perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa sebelumnya perjuangan kemerdekaan dilakukan secara parsial dan bersifat kedaerahan, sehingga dengan mudah dapat dieliminasi oleh penjajah. Namun, setelah adanya sumpah pemuda tersebut perjuangan dilakukan secara bersama dan akhirnya Indonesia dapat memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari peranan mahasiswa. Tindakan yang dilakukan para pemuda untuk “menculik” Soekarno dan Hatta serta membawanya ke Rengasdengklok adalah peranan lain mahasiswa dalam sejarah Indonesia. Jangan tanya dampaknya. Karena dampaknya dapat dirasakan sampai sekarang, yaitu “kemerdekaan”. Entah apa yang akan terjadi jika Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan “Menteng 31” beserta yang lainnya tidak segera mengamankan Soekarno dan Hatta saat itu.

Selanjutnya, setelah Indonesia cukup nyaman sebagai Negara merdeka selama berpuluh-puluh tahun, peran mahasiswa tidak lantas sirna. Di dalam sejarahnya, walaupun selalu mendapat tantangan besar dari penguasa yang terkadang sangat represif, gerakan selalu muncul disaat yang dibutuhkan untuk sebuah perubahan. Turunnya Soekarno pada tahun 1966 dan Soeharto pada tahun 1998 dari tahta kepresidenan merupakan buktinya.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa sekarang? apakah perannya masih dibutuhkan untuk perubahan? dan peranan seperti apa yang seharusnya diberikan oleh mahasiswa saat ini?. Tantangan yang ada jelas akan berbeda dan cenderung bertambah. Karena mahasiswa dituntut untuk dapat berperan aktif bukan hanya dalam bidang social politik, melainkan juga dalam segi kehidupannya lainnya.

Jika sejarah telah memberikan bukti tentang apa dan bagaimana dampak yang dapat diberikan oleh mahasiswa dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, maka tidak ada alasan mahasiswa zaman sekarang juga tidak mampu melakukannya. Walaupun tantangannya berbeda, namun peluang yang tersedia agar mahasisa dapat lebih berperan dalam perubahan juga semakin banyak dan terbuka. Setidaknya, peran tersebut dapat dibagai kedalam tiga bidang, yaitu peran di dalam bidang sosial-politik, budaya dan ekonomi. Hal ini dimungkinkan karena sekarang pendidikan yang didapat mahasiswa sudah jauh lebih beragam.

1. Peran di dalam bidang social politik Indonesia

Kasus korupsi masih menjadi momok utama di Indonesia. Banyak kerugian yang harus ditanggung oleh rakyat karenanya. Oleh karena itu, masalah korupsi ini bukan hanya menjadi urusan penegak hukum (Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polisi) atau pemerintah saja. Masalah korupsi adalah masalah bersama dan harus diselesaikan secara bersama pula.

Sebagai kaum terpelajar, mahasiswa dapat melakukan banyak hal untuk kasus yang satu ini. Korupsi bukan hanya harus diberantas, tetapi juga harus dicegah. Oleh karena itu, selain menjadi pengawas proses hokum tersangka-tersangka korupsi yang sudah berhasil terungkap, mahasisa juga dapat menjadi penyebar antivirus yang tepat dengan menjadi generasi yang mengerti, memahami bahaya laten dari korupsi. Mahasiswa menempatai sebuah lingkungan yang sangat ideal untuk menyebarkan mental anti terhadap korupsi.

Sementara itu, demokrasi di Indonesia ke arah clean government juga masih perlu didorong. Bukan sebuah rahasia lagi, jika birokrasi di Indonesia masih buruk. Oleh karena itu mahasiswa juga harus terus mengawasi dan juga dapat memberikan contoh kepada rakyat lain dalam menyikapinya. Hal ini dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti tidak menggunakan calo ketika membuat Surat Izin Mengemudi (SIM) atau membayar dendan tilang pelanggaran lalu lintas di pengadilan. Hal ini dapat membantu membangun mental baik untuk birokrasi.

Hal-hal kecil yang berhubungan dengan kehidupan social politik sehari-hari harus menjadi kebiasaan, jika menginginkan perubahan. Walaupun hasilnya tidak dapat langsung dirasakan. Namun ini adalah pembangunan jangka panjang yang layak diperjungakan juga oleh mahasisa.

2. Peran di dalam bidang kebudayaan

Indonesia adalah Negara yang kaya karena budayanya. 13.000an pulau yang ada memiliki budaya yang berbeda satu sama lainnya. Namun terkadang perbedaan tersebut justru malah menjadi boomerang dan mengancam persatuan dan kesatuan. Namun sejatinya, keanekaragaman itu merupakan sebuah potensi yang sampai saat ini blm teroptimalisasi.

Kondisi tersebut diatas kemudian diperparah dengan kondisi anak-anak muda yang mulai lupa, tidak mengenal dan bahkan lebih mengagungkan budaya yang datang dari luar negeri. Contoh yang paling terlihat adalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar oleh generasi muda sudah jauh sangat berkurang. Oleh karena itu, dalam kasus ini mahasisa dapat memberikan mulai dari hal yang paling kecil, yaitu dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik itu untuk pemenuhan tugas-tugasnya maupun untuk kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya masih sangat banyak lagi peran yang dapat dimainkan oleh mahasiswa. Mengingat kedudukannya sebagai kaum terpelajar, diharapkan peran seratanya dalam segala aspek kehidupan dapat memberikan dampak yang baik, termasuk dalam cara bersikap.

Sungguh menyedihkan ketika harus membaca bahwa telah terjadi bentrokan antar mahasiswa, telah terjadi aksi anarkis dan lain sebagainya. Sebagai kaum intelektual, seharusnya cara-cara seperti itu dapat dihindari. Ketika ada perselisihan paham, maka diselesaikan dengan cara berdiskusi, jika harus beraksi maka dilakukan dengan cara yang elegan bukan dengan kekerasan. Tidak jarang masayarakat juga akhirnya mengeluh karena merasa terganggu ketika demokstrasi dialkukan dijalan. Walaupun tujuannya untuk memperjuangkan nasib rakyat, namun tidak jarang justru mereka merasa terganggu dan terhalangi aktivitasnya.

3. Peran didalam bidang ekonomi

Sementara itu, dalam bidang ekonomi peran mahasisa masih sangat kurang. Karena paradigma yang berkembang ketika kuliah adalah selesai dengan cepat dan mendapatkan perkejaan yang nyaman. Tentunya, hal tersebut tidaklah salah. Karena salah satu tujuan adanya pendidikan adalah untuk menciptakan tenaga-tenga kerja terdidik dan memiliki kemampuan professional yang memadai guna menyokong pembangunan berkelanjutan.

Tetapi ketika jumlah lulusan perguruan tinggi tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia, hal ini kemudian justru menjadi kendala. Karena telah menciptakan angka pengangguran yang meningkat, dengan label angka pengangguran terdidik. Tentunya hal ini juga bukanlah label yang diinginkan. Olehkarena itu, jiwa wira usaha juga merupakan sebuah kompetensi yang harus dikembangan oleh mahasiswa. Agar setelah lulus, merekalah yang dapat membuka lapangan pekerjaan, bukan yang mencari lapangan kerja.

Hal-hal yang dicontohkan dalam tiga bidang yang disebutkan diatas hanya sebagaian kecil dari apa yang dapat dilakukan dan membutuhkan perhatian kaum inetelktual dan khususnya mahasisa. Masih lebih banyak lagi hal yang dapat dilakukan, sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajarinya dikampus. Seperti mahasisa arsitektur atau planologi dapat menjadi pioneer pioneer dalam pengembangan kota tropis dan pengembangan pola arsitektur yang bersifat tradisional untuk menjaga warisan budaya.

Di dalam bidang ekonomi, kita bisa mengembangkan ekonomi syariah. Di dalam bidang kedokteran, kita bisa mengembangkan obat-obatan tradisional. Begitu juga dengan mahasiswa dari bidang lain, yang juga dapat memberikan masukan atau pengertian kepada masyarakat. Seperti mahasiswa pertanian dapat memberikan masukan cara pengolahan tanah kepada para petani, yang tahu tentang tambang memberikan pengertian tentang tambang kepada masyarakat yang sampai saat ini masih kurang pengetahuan tentang hal tersebut.

Mengutip catatan Goenawan Mohamad: Mahasiswa itu kata yang khas Indonesia. “Maha” untuk menghormati mereka yang ke lingkungan pemikiran. Bukan bentrokan. Dengan adanya upaya-upaya tersebut, harapannya mahasiswa benar-benar dapat menggerakan perubahan, bukan hanya untuk dirinya dan keluarganya saja. Tetapi juga perubahan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya. Sehingga mahasiswa tepat berada ditempatnya sebagai kaum intelektual, dan menyandang status “maha”.

Oleh: Ujang Fahmi *Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, UMY

 

References

Anonim. n.d. Chaerul Saleh. Accessed June 11, 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Chaerul_Saleh.

—. n.d. Peristiwa Rengasdengklok. Accessed June 11, 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Rengasdengklok.

—. n.d. Sukarni. Accessed June 11, 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Rengasdengklok.

—. n.d. Wikana. Accessed June 11, 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Wikana.

J.A, Denny. 2006. Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an. Yogyakarta: LKIS.

Soewarsono. 1999. Prolog: Gerakan Mahasiswa 1998 , dalam Widjojo, Muridan S. (et.al), 1999, Penakluk Rezim Orde Baru, Gerakan Mahasiswa ’98. Jakarta: Sinar Harapan.

Widjojo, Muridan S. 1999. Penakluk Rezim Orde Baru, Gerakan Mahasiswa ’98. Jakarta: Sinar Harapan.

Advertisements