Surat Untuk Presidenku


Kepada yang terhormat tuan Presiden RI 2014

Di tempat.

Sudah tujuh tahun sejak pertama kali lumpur di Sidoarjo keluar pertama kali, yaitu pada tahun 2006 lalu. Sudah tujuh tahun pula berbagai upaya yang kami lihat dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasinya. Tapi alam terlalu perkasa untuk manusia. Lumpur terus keluar tak terhentikan. Hanya kehidupan suadara-saudara kami yang ada di sana saja yang remsi berhenti. Kehidupan bukan dalam arti kehidupan yang biasa, tapi yang sesungguhnya hidup. Entah harus sperti apa saya menggambarkannya. Karena saya bukanlah orang yang berada ataupun berasal dari sana.

Yang saya rasakan adalah apa yang saya bayangkan jika itu terjadi pada diri sendiri. Bagaimana rasanya jika kita dengan terpaksa harus pindah dari rumah kita, dari kampong halaman kita, meninggalkan tanah kita sendiri, meninggalkan tempat mencari nafkah dan menyambung hidup hari demi hari. Bagaimana kita dapat membayangkannya?. Kita harus pergi karena sesuatu yang tidak terkendali. Sesuatu yang diluar kendali manusia.

Ada yang mengatakan itu hanya kecelakaan. Ya, memang itu hanya kecelakaan yang tidak diinginkan oleh semuanya. Saya yakin oleh pemilik perusahaan yang melakukan pengeboran disana juga. Seiring waktu berlalu, berbagai teori dari orang yang ahli pun kini banyak diketahui. Bahkan oleh kami yang tidak tahu tentang isi bumi. Ada yang mengatakan kecelakaan tersebut karena kesalahan procedur dalam pengeboran sehingga menyebabkan kecelakaan. Namun yang kami tahu sebatas yang kami baca dimedia. Tidak lebih tidak kurang. Sehingga kami pun menjadi sedikit meradang, karena semua informasi yang kami dapati malah justru membingungkan.

Terlalu gaduh orang membicarakan tentang ini. terlalu banyak orang bicara. Tapi adakah yang mendengar apa yang diinginkan saudara kita yang terpaksa pergi dari kampong halamannya. Karena kecelakaan, karena kecerobohan, karena kesalahan prosedur atau karena keserakahan. Tidakkah ada yang mampu membuatnya jelas. Kurangkah ahli yang dimiliki yang dapat semua sebab menjadi pasti? Tidak ada pendapat atau satu teori saja untuk semua ini.

Tuan presiden yang punya kekuasaan, semoga memiliki kuasa untuk menjelaskan warna lumpur ini yang sebenarnya. Kami butuh tahu. Kami butuh diberi informasi yang pasti tentang sebab kenapa kami harus pergi. Ini seharusnya jadi hal mudah bagi orang yang memiliki ilmu. Tapi bukan itu bukan kami. Jadi dapatkah tuan melakukannya untuk rakyat.

Selanjutnya tuan,

Ada sebuah janji dari pendahulu anda. Yaitu memastikan saudara-sauara kita di sana mendapatkan ganti ruginya. Dari hidupanya yang terpaksa harus ditinggalkan tersebut. Walupun sebenarnya menurut saya itu tidak pernah akan terganti. Sebanyak apapun materi yang diganti. Karena disana mereka punya sejarah. Punya cerita yang kini tertup lumpur itu.

Apalagi janji hanyalah tinggal janji. Lagi-lagi tidak ada yang pasti. Walau setelah tujuh tahun berlalu. Janji itu tak kunjung terpati. Lalu kepada siapa kami harus menagih? Pada anda atau siapa? Atau siapa? Kami bingung lagi. Negara ini selalu sukses membuat kami bingung. Semoga pemimpin kali ini tidak membuat kami bertambah bingung. Karena sebenarnya sudah ada beberapa tokoh yang dinilai bertanggung jawab. Tolong tanyakan saja pada beliau, kapan akan menepati janjinya?.

Hanya tanya kapan, tidak lebih. Tapi kami mau yang pasti. Janji manusia pada manusia lainnya yang juga memiliki nyawa. Kami bukan mereka bukan zombie yang hidup tanpa hati. Mereka menanti sesuatu yang pasti. Janji yang akan ditepati.

Saya hanya rakyat biasa yang mencoba untuk merasa menjadi mereka. Saya tanpa kuasa. Tetapi saya tahu ada yang memlikinya, yaitu tuan presiden. Sekian surat ini kami sampaikan, semoga mendapat perhatikan dan dijadikan catatan. Terimaksih.

Salam kepastian.

Advertisements