Indera Indra Sjafri


Graphic1

Pencinta sepakbola di Indonesia, khusunya saya seolah tidak percaya bahwa kita dapat memiliki timnas yang mampu bermain menarik. Istilah pola permainannya oleh pelatihnya kemudian dinamakan pepepa alias pendek pendek panjang. Memang, dari dua perhelatan kompetisi yang diikuti, timnas u 19 mampu memberikan tontonan yang menarik dan lebih menarik lagi karena ternyata mereka semua adalah produk lokal, bukan naturalisasi atau bukan orang luar yang kakeknya, atau neneknya, atau pakdenya orang Indoensia. Mereka semua anak Indonesia, yang dipilih langsung oleh sang pelatih, diambil dari daerah dan diseleksi tanpa salah. Jadilah mereka skuat timnas yang memberikan gelar pertama kali setelah 22 tahun (kalau ga salah) puasa gelar timnas.

Dialah Indra Sjafri, yang seolah memiliki indra keenam dalam menemukan bakat-bakat mutiara dari nusantara dalam sepakbola. Walaupun kenyataannya dia hanya manusia biasa juga, sama seperti kita, sama seperti pelatih lain, tapi yang pasti dia mau susah dengan mencari sendiri kebutuhan timnya.

Salah seorang penulis kolom sepakbola mengatakan bahwa sebenarnya yang dikerjakan Indra ini biasa-biasa saja, karena sejatinya hal itulah yang harus dilakukan oleh seorang manajer. Namun yang menjadikan dia luar biasa adalah karena dia melakukannya di Indonesia. Sejatinya, blusukan tidak perlu dilakukan, apalagi dengan biaya sendiri, itu adalah tugas pemandu bakat dan federasi yang bertugas menciptakan kompetisi yang dapat menjaring mutiara-mutiara itu tadi.

Bagi saya, apa yang dilakukan Indra hanya sebuah tindakan untuk meyakinkan bahwa ada bakat-bakat luar biasa di nusantara, meyakinkan bahwa bakat-bakat tersebut tidak terdeteksi apalgi terjaring oleh PSSI. Pertanyaannya, PSSI selama ini ngapain aja?

Hanya mereka yang tahu.

Indra mengatakan dengan yakin bahwa ia dapat membawa anak-anak ini ke piala dunia u 20 tahun 2015 nanti. Saya sih setuju dan optimis. Bukan tanpa alasan, jika melihat mereka bermain melawan korea dibawah guyuran hujan dan kondisi lapangan yang jelek hal tersebut sepertinya bukan suatu yang mustahil. Mereka kelihatannya memiliki stamina dua kali lipat dibandingkan kakaknya di timnas senior yang biasanya menit 60/70 sudah kacau kerena kehabisan stamina. Dari segi skill, sebagai catatan, lawan korea kemarin penguasaan bolanya unggul dan kalau di rata-rata operan yang dapat dilakukan anak-anak ini dalam satu pertandingan mencapai 600 kali dengan 80 persennya tepat sasaran. Katanya sih ini hanya kalah tipis dari tim-tim di eropa yang jumlah operannya minimal 700 kali.

Masalah selanjutnya adalah menjaga anak-anak ini agar tidak terbujuk rayu oleh pengiklan dan lain-lain lah. Status-status mereka juga harus segera dicarikan solusi. kalau pssi peduli seharusnya mereka menemukan cara, kalau nggak ya siap-siap aja dicerca.

Satu hal, mungkin pssi saat ini dapat menganggap bahwa persetasi u 19 ini merupakan prestasi organisasinya, tapi saya kok agak enggan ya neybutnya. Saya cenderung lebih berterimakasih pada Indra and the friends untuk ini. hahaha…

Advertisements