Sistar, sebuah kajian diplomasi budaya korea selatan


Setelah sekian lama saya mengetahui bahwa Indonesia sedang dilanda demam girl dan boy band asal korea, akhirnya mata saya terbuka juga untuk melihat salah satu dari sekian banyak yang ada. Tentunya bukan boy band lah ya, karena ga tau kenapa sampai saat ini saya masih belum bisa menikmati suara cowo yang nyanyi bareng-bareng. Nyanyi aja bareng…. jangan-jangan, ah sudah lah hentikan pembahasan tentang mereka.

Sistar lah yang saya tonton dan mulai suka juga akhirnya, karena ya memanh bagus (menurut saya sih bagus, taoi subjektif juga kan penilaian mah). Suaranya bagus, terutama hyorin, musiknua beberapa juga asik, dan liriknya tidak kalah bagusnha. Yang paling pasti sih enak di tonton, hahahaha….

Terlepas dari itu semua, sebagai anak HI sedikit banyak saya ngerti tentang Korea, salah satu negara yang paling sering dijadikan contoh dalam kuliah diplomasi, terutama diplomasi kebudayaan. Sebagai sebuah negara, setahu saya, dari sejarahnya Korea sebenarnya bukan merupakan negara yang memiliki sejarah kebudayaan yang tinggi/melegenda, sebutlah seperti Mesir, China atau bahkan negara dari Eropa atau Jepang tetangganya.
image

Itu adalah foto sistar yang rajin belajar, ketika di foto mereka lagi baca buku.

Oke, kembali fokus ke tentang budaya dan diplomasi Korea.
Diplomasi budaya atau Cultural Diplomacy menurut Milton C Cummings peneliti tentang Politik Amerika mengatakan Diplomasi Budaya itu adalah, “The exchange of ideas, information, values, systems, traditions, beliefs, and other aspects of culture, with the intention of fostering mutual understanding”. Ya, diplomasi budaya itu adalah pertukaran ide, informasi, nilai, tradisi, kepercayaan, dan aspek budaya-budaya lainnya, yang bertujuan untuk meningkatkan rasa saling mengerti satu sama lain.

Efek dari banyak orang yang suka terhadap musik atau lebih tepatnya boy dan giro band korea sudah tidak perlu dipertanyakan lagi dampaknya. Karena dampaknya hampir kesemua bidang termasuk ekonomi dan budaya korea itu sendiri. Berdasarkan data Bank of Korea pada 2011, nilai ekspor hallyu (k pop, k drama, dll) mencapai US$794 juta.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa mereka dapat sesukses itu? Hal inilah yang mencoba saya jabarkan dengan melakukan studi kasus terhadap girl band sistar…(hehehe…. tapi ga seserius itu sih).

1. Memiliki kualitas
Jika melihat band boy atau girl, maka kita atau mungkin orang yang lebih ngerti dapat melihat secara detil bagaimana kuakitas mereka. Untuk kita mungkin cukup dengan mengetahui seberapa banya penjualam lagunya, walaupun kadang hal tersebut tidak mewakili. Namun jika saya (secara subjektif) melihat dalam kasus sistar, yang terdiri dari hyorin, soyou, bora dan dasom (entah tulisannya yang bener gimana). Hyorin adalah seorang penyanyi jebolan semacam festival (kalau disini mungkin idol-idol gitu) yang suaranya bisa sampe oktaf, bora seorang penari, soyou sering ngisi soundtrack drama korea dan yang paling kecil si dasom adalah seorang model. Dengan perpaduan seperti itu, dan ditambah dengan bakat dan latihan yang rutin jelas hasilnya dapat dilihat dan didengar pastinya. Maksud saya mereka kalau nyanyi dan nari itu enak gitu, beda dengan yang dari lokal. Hehehe. Itu hanya untuk satu kasus sistar, bagaimana dengan lainnya? Mungkin anda-anda bisa memiliki pandangan berbeda.

2. Program yang terintegrasi

Maksud saya begini: mungkin anda sudah pernah melihat sebuah film di bioskop yang didalamnya ada iklan produk. Yang paling saya ingat itu di filmnya habibie ainun, dimana disana ada iklan sebuah produk yang rasanya ngganjel dimata dan pikiran. Di lain tempat, saya mendapati sebuah cerita dari dosen saya yang membeli hp samsul (bukan merk sebenarnya) padahal dia sudah punya hp apem (bukan merek sebenarnya juga) setelah melihat darama korea yang didalamnya ada satu tokoh yang menggunakan hp samsul tersebut. Hal seperti ini kalau dilihat dari sudut pandanh politik internasional atau lebib tepatnya diplomasi, ternyata memang sebuah desain besar yang diterapkan untuk memunculkan dan menguatkan budaya korea, bukan hanya seni saja, tapi juga teknologi dan lain sebagainya.

Bahkan Norimitsu Onishi, seorang koresponden New York Times melaporkan bahwa sekitar 80 persen dari wisatawan Taiwan ke Korea Selatan memilih televisi bertema wisata, mengunjungi tempat-tempat di mana drama favorit mereka difilmkan (New York Times, 28 Juni 2005).

Nah, darisana akhirnya saya tahu, bahwa budaya yang coba korea tampilkan memang memiliki kualitas dan di sokong oleh berbagaj program yang terintegrasi secara terstruktur. Sehingga wajar jika kinj budaya pop korea menjadi salah satu trend dunia.

Advertisements