Kisruh


KISRUH

Apa yang pertama kita bayangkan ketika mendengar atau membaca kata “kisruh”. Jika dicari dalam kamus maka akan didapatkan arti yang mengacu pada ke yang tidak sesuai rencana (aturan dsb), tidak lancar, atau kalut. Maka dari itu saya hanya ingin mengatakan bahwa mungkin apa yang sedang kita hadapi, lihat dan mungkin sebagian lain menjadikannya sebagai tontonan TV adalah sebuah kekisruhan di bangsa ini. Kisruh KPK, POLRI, Banjir dan Macet mungkin melambangkan sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya alias kisruh.

Apa yang ingin saya tekankan adalah, jika kisruh adalah sebagai akibat dari ke tidak sesuaian dengan rencana atau aturan maka untuk situasi kebalikannya adalah dengan menyesuaikan kembali dengan rencana atau aturan yang sudah disepakati dan dipahami tidak akan menyebabkan kekisruhan. Apa yang saya pikirkan dan realita yang terjadi mungkin tidak akan sesimpel ini. Misal, penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan aturan dapat menyebabkan bencana, sebut saja banjir karena daerah resapan berubah menjadi pusat perbelanjaan yang tidak ramah lingkungan. Itu hanya satu misal. Aturan memang ada bukan hanya yang bersifat positif, seperti hukum yang ada kitab undang-undangnya. Aturan sejatinya juga melekat dengan alam.

Pengadaan bangunan bisa saja tidak bertentangan dengan aturan pemerintah atau aturan tertulis lainnya. Tapi jika ternyata aturan tersebut tidak sejalan dengan aturan alam maka akibatnya juga akan dirasakan oleh yang tinggal di atasnya.

Oleh karena itu, kebijakan dengan kebajikan harus senantiasa berjalan seiringan. Tapi mungkin dua hal tersebut yang sekarang ini kurang atau bahkan tidak ada. Maka ada kekisruhan.

Permasalahannya adalah, siapa yang membuat dapat membuat kebijakan dan juga baik di negeri ini? Yang membuat kebijakan secara teori mudah dijawab, bagaimana dengan yang baik? …

Advertisements