Mintalah do’a ibu (cerita lulus seleksi substansi LPDP)


Ibu

Ibu, Bapak dan Adik saya

Akhir tahun 2015, saya mendapatkan rizqi besar, sangat besar bahkan menurut saya. Insyaallah inilah yang sudah Allah gariskan untuk saya. Setidaknya begitu do’a saya, ibu dan bapak dan keluarga. Rizki ini adalah berupa beasiswa untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana saya.

Setelah “akhirnya lulus” dan menjadi sarjana, sama seperti umumnya orang, saya banyak membuat surat lamaran pekerjaan, ada yang di terima kemudian wawancara dan juga ada yang adem-adem saja. Biasa lah. Tapi jujur, saya tidak pernah merasa mantap untuk melamar pekerjaan, dan akhirnya pun saya memang tidak bekerja, alias tetap menjadi pengacara, pengangguran banyak acara, hehe… karena di hati saya tetap terus kepikiran untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Jadilah saya mencari informasi kesana kemari, dan saya putuskan untuk, oke saya akan kuliah pasca sarjana. Namun bagaimana caranya? kalau biaya orang tua, saya malu untuk minta, apalagi biaya sendiri, belum mampu lah. Tapi karena mentok, akhirnya saya pun bilang sama ibu, sama ibu karena memang saya selalu bilang atau minta apapun sama ibu, walaupun yang ngasih nantinya bapak.

Bu, saya mau kuliah, biayanya segini … saya yakin ibu tahu maksud saya

Jawabnya adalah…Ya ibu do’akan

Sangat singkat, dan sangat mudah di mengerti.

Sejak itu, saya tidak pernah lagi membicarakannya lagi dengan ibu, setiap kali telpon pasti ngomongin hal-hal yang menyenangkan, slelau seperti. Udah makan, ada lalab apa di rumah, aduh….. begitu lah.

Oke, akhirnya saya siapkan diri saya sendiri, saya baca buku fotokopian minta dari teman, tentang kuliah s2 dan mencari beasiswa dan singkat cerita saya putuskan untuk mendaftar beasiswa LPDP karena setelah baca profilenya ini sepertinya cocok sekali untuk saya yang yang biasa-biasa saja. IPK standar, toefl belum pernah, apalagi ielts, padahal itu salah satu syaratnya. Tapi oke lah, saya berusaha, ambil les, baca buku, bahkan software latihan, dan tes nya, alhamdulillah nyampe target, mepet, tapi nyampe.

Setelah menunggu, akhirnya saya dinyatakan lulus seleksi administrasi, artinya saya akan mengikuti seleksi tahap selanjutnya, agak banyak emang. Verifikasi dokumen yang di unggah, leaderless group discussion (LGD), menulis essai, dan terakhir wawancara. Setelah menunggu lagi, akhirnya saya juga alhamdulillah di nyatakan lulus.

Saya langsung memberi kabar ibu, ternyata bapak yang ngangkat telponnya, dengan suara bergetar bapak bilang, alhamdulillah tong, allah sayang sama kita. Ya ya, alhamdulillah. Ibu mana pa, ada lah suara tangisan, susah ngomong. Itu ibu. Oke udah tenang, mari ngobrol bu. Udah makan? masih terisak-isak. Menggunakan bahasa sunda, ibu bilang: Ibu hanya bisa beri kamu do’a jang. Allah sayang sama kita. Iya terimaksih do’anya bu. Tangisan ibu adalah salah satu hal dari sedikit hal yang paling tidak ingin saya ketahui, tapi saya tahu ini tangis bahagia dan do’a. Do’a ibu di ijabah sama Allah bu. Terimakasih. Di lanjutkan dengan cerita masa kecil saya, yang punya cita-cita menjadi intelek, padahal ga tau itu apa. Hehehe…. kenapa saya punya cita-cita menjadi dokter atau menteri ya dan tentang lalaban favorit, go ot. Ini nama lalaban favorit saya, yang hanya tumbuh di semak-semak hutan jadi skip saja.

Oya, setelah seleksi substansi ini masih ada satu tahapan lagi yang harus dilalui, yaitu PK (persiapan keberangkatan), Inysaallah kalau tidak ada hal-hal yang sangat luar biasa, setiap peserta yang ikut PK sudah otomatis menjadi penerima beasiswa, awardee istilahnya. Walaupun saya lebih nyaman dengan istilah penerima beasiswa, dengan beberapa alasan yang sifatnya mungkin terlalu personal.

Hanya rasa syukur yang bisa saya ucapkan, terima kasih ya ALLAH, terimakasih ibu, bapak dan semua orang yang sudah mendo’akan saya. Yang membuat saya memiliki determinasi untuk mencapai apa yang dikehendaki. Terimakasih.

Advertisements