Belajar di Mana Saja! Saya dari Mereka


Catatan di balik pelaksanaan Scholarship Clinic

 

Bangun telat adalah sebuah kesalahan fatal jika sedang dalam keadaan perang, bahkan dalam keadaan yang mirip pun demikian. Begitulah kira-kira yang saya rasakan, ketika saya bangun agak siang, karena memang malamnya habis lembur (pembelaan pribadi). Teman-teman saya sudah tenggelam dalam diskusi super serius untuk acara pengumpulan dana guna menunjang kegiatan PK-55 Pusaka Nusantara ketika saya bangun dan membuka sebuah layanan instant massaging.

Oya, saya anggota PK-55 ketua regional Jateng-DIY, anggotanya sekitar 20an lebih orang. PK adalah singkatan dari persiapan keberangkatan. Sebuah program yang di gagas oleh LPDP untuk penerima beasiswa LPDP, kami termasuk saya adalah bagian dari itu semua.

Ada banyak cari untuk mengumpulkan dana (fundraising), salah satu yang paling mudah, mungkin bagi sebagian orang adalah dengan cara mengumpulkannya secara individu. Teknisnya adalah, masing-masing orang mencari dana dengan kegiatan dan caranya masing-masing, dan kemudian mengumpulkannya secara kolektif. Gampangnya ini di sebut iuran. Selain itu bisa juga jualan, membuat sesuatu kemudian di jual dan masih banyak lagi cara lainnya.

Teman-teman saya memilih cara berbeda, yaitu dengan membuat sebuah acara yang membutuhkan banyak peserta yang harus membayar, hasilnya atau keuntungannya di sumbangkan buat kegiatan PK. Kegiatan yang di pilih adalah berbagi inspirasi tentang meraih beasiswa. Bukan spesifik beasiswa LPDP saja, di mana kami semua merupakan penerimanya. Tapi beasiswa yang ada. Luar biasa, dalam dua minggu kami harus menghadirkan ratusan orang yang bersedia membayar dengan iming-iming mereka akan mendapat pencerahan tentang cara mendapat beasiswa.

Untuk itu, salah satu teman kami, yang meraih beasiswa doctoral, mengajak kami untuk bertemu orang yang Ia sebut sebagi bos nya. Singkat cerita, sampailah kami di rumah “bos-nya” salah satu teman kami ini. Diskusi pun berjalan dengan hangat, selain kerana rumahnya yang memang nyaman, tapi orangnya juga sangat nyaman di ajak ngobrol.

Dari diskusi terbut akhirnya keluarlah ide untuk kegiatan yang akan kami laksanakan, yaitu SCHOLARSHIP CLINIC. Pada tanggal 28 Januari 2016 kemarin sudah selesai di laksanakan. Alhamdulillah pesertanya memenuhi target minimal kami, walaupun belum maksimal. Tapi minimal ini sudah menjadi salah satu inspirasi. Bukan hanya buat para peserta yang datang menjadi peserta yang di suguhi materi dari pembicara yang sudah mendapatkan banyak beasiswa bahkan puluhan dalam hidupnya, tapi juga buat kami sendiri telah memberikan pelajaran yang berharga. Minimal buat saya pribadi.

Pelajarannya adalah dengan memahami tugas dan kapasitas masing-masing kerja sama dapat berbuah manis. Ini penting dalam sebuah organisasi, kita tidak mungkin punya kapasitas yang sama, antara satu dengan yang lain. Tapi sikap saling memahamilah yang membuat kerja sama itu bukan hanya utopia belaka. Tentunya hal ini juga harus di dukung oleh sikap dan komitemen untuk berkontribusi.

Dari segi lainnya, keuntungan tidakbisa hanya di tanya dengan kata BERAPA, tapi juga harus menggunakan kata BAGAIMANA, dengan begitu kita bisa lebih memaknai sebuah pencapaian bukan hanya dengan angka, tapi juga sebuh cerita. Bisa di bayangkan di suatu titik waktu tertentu nanti, ada seseorang masa terima kasih, setelah saya ikut kegiatan yang teman-teman adakan saya sekrang sudah dapat beasiswa. Tentunya keberhasilannya tidak mungkin di tentukan oleh satu factor saja.

Menemukan orang-orang baik yang mau berbagi dan penuh semangat adalah bonus yang tidak mungkin saya tidak ceritakan. Para pembicara yang bukan hanya mau berbagi pengalamannya serta peserta yang juga rela, dari pagi sampai sore meluangkan waktunya demi mencapai apa yang mungkin menjadi salah satu cara mendekati atau bahkan meraih apa yang di impikannya merupakan sebuah motivasi bagi diri sendiri.

Saya jadi ingat ketika awal-awal saya menyiapkan diri juga untuk mendaftar beasiswa. Saat itu, saya bahkan buta beasiswa, karena sebelumnya saya belum pernah dapat. Beasiswa apa yang harus saya ambil, syarat apa yang harus saya penuhi. Saya tidak memiliki prestasi akademik yang bagus, standar-standar saja. Kemampuan Bahasa saya juga levelnya masih jongkok. Waktu itu saya banyak bertanya pada teman, bahkan saya rela-rela saja jika mungkin ada yang menganggap saya banyak nanya. Menyisihkan waktu beberapa jam untuk belajar lagi Bahasa Inggris dan lain-lainnya. Tapi ternyata itu belum seberapa jika di bandingkan teman-teman lain. Inilah yang membuat saya terus termotivasi untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan kemampuan dan kualitas. Bukan dengan materi, tapi dengan belajar.

Pada tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua teman-teman dan pihak yang terlibat dalam acara tersebut. Pak ketua PK 53, mas Ilyas, Teman-teman PK 60, Afif, Amri, Puspa, Vienti dan mas Erik serta tentu teman-teman PK 55 semuanya.

 

 

Advertisements