Aku Rapopo


Bukan judul sebuah lagu. Tapi sebuah konsep. Konsep besar tentang hidup karena pada dasarnya tidak ada hidup yang kecil. Ikhlas kata agamawan, satu kata mudah diucap, sulit untuk dilakukan. Ini tentang kedewasaan. Mungkin juga tentang pilihan. Kata orang, tua itu pasti, dewasa pilihan. Berarti mungkin ada orang tua yang mungkin tidak dewasa.

Aku rapopo, aku tidak apa-apa maknanya sangat jelas, tidak apa-apa. Tanpa apa-apa. Tidak diikuti dengan apa-apa. Psikolog bilangnya itu proses pendewasaan untuk mencapai penerimaan dan kebahagiaan. Mr. Bean bisa bahagia dengan dirinya sendiri, walau kadang dibantu oleh boneka cokelatnya. Lalu, dia tidak menyertakan apa-apa untuk bahagia selain dirinya. Dia tidak mengubah lingkungannya agar menjadi seperti yang dia anggap dapat membuatnya menjadi bahagia. Kadang bahagia itu tampak seperti gila, bagi orang yang tidak bahagia.

Bedanya adalah kesadaran. Untuk mampu berujar aku rapopo saya harus dalam keadaan sadar sepenuhnya. Hanya orang sadar yang dapat melakukannya. Bagiamana orang yang tidak sadar bisa? Tidak bisa. Ini tentang penerimaan, kepatuhan pada kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Lingkungan, alam seisinya termasuk orang-orang yang ada didalamnya.

Ini susah, tapi dapat dilakukan. Perlu latihan? perlu dibiasakan! tapi ini sepertinya bukan keahlian. Tapi harus dengan kesadaran, kedewasaan dan mungkin sedikit kegilaan. Atau mungkin banyak?! Mungkin seperti raja Bhutan yang memperkenalkan index of happiness. Apapula itu, bagiamana diukur? kenapa harus ditanyakan? tapi toh tetap dapat dilakukan, walaupun menyiskan perdebatan.

Advertisements